Kamis, 14 Mei 2020

10 Halaman Pertama




Alhamdulillah. Bahagia, bangga dan bersyukur. Hari ini de Husna mampu mencapai targetnya sendiri, tadarus Al-Qur'an dengan disimak ayahnya hingga 10 halaman.

Sejak pagi sahur dia sudah ikrar, hari ini mau mengaji hingga 10 halaman. Kemudian ia utarakan teknisnya. Habis sholat subuh 2 halaman. Usai dzuhur 2 halaman, ashar 2 halaman, maghrib dan isya masing-masing juga 2 halaman. Ia tampak yakin akan mampu melaksanakannya. Padahal biasanya hanya 2-5 halaman sehari. Itu pun tidak jarang halaman akhir sudah mulai ngambek, kadang juga sambil menangis.
Benar, usai subuh ia pun mau disimak mengaji 2 halaman. Dengan ritme yang masih pelan, sekitar 5-6 menit untuk satu halaman. Dan belum bisa lebih cepat dari itu. Tetapi Alhamdulilah sudah mulai memperhatikan tajwid. Bacaan panjang pendek, ikhfa’, idzghom, tasdid, dsb.

Masalah muncul, usai dzuhur baru 1 halaman mengaji ia minta berhenti. Ia mau ikut ibunya pergi dulu. Kebetulan ibunya ada keperluan untuk membeli sesuatu di warung. Ayah pun membujuk untuk tidak usah ikut ibu,  “De, ndak usah ikut ibu. Nanti mengajinya ndak jadi bisa 10 halaman lho”. Tetapi ia tetep mau ikut ibunya dan bilang, “ Aku tetap mau iku ibu. Nanti pulang terus langsung ngaji lagi mau”.
Terpaksa mengaji ditunda. De husna pun ikut ibunya ke warung. Ternyata Ibu tidak sekedar ke warung, ada keperluan lain sehingga agak lama perginya dan baru pulang ketika waktu ashar tiba.
“Lho, adek jadi habis dzuhur ndak bisa 2 halaman to?!”
“Kan bisa nanti lagi” jawabnya.
“Habis ashar berarti adek baca 3 halaman” sahut ayah.
“Ndak mau, tetap 2. Nanti yang satu halaman sebelum maghrib.”
Dalam hati ayah senang, ternyata walau ada teknis yang meleset, de Husna langsung mencoba berfikir tentang alternatif waktu, dan munculah 1 halaman sebelum maghrib sebagai penebus kekurangan 1 halaman usai dzuhur. Artinya ia masih optimis untuk mampu meraih target 10 halaman hari ini.

Ayah mencoba bertanya lagi untuk memantabkan.
“Adek setelah mengaji 2 halaman usai ashar, terus bobok saja. Ayah khawatir nanti malam setelah taraweh de Husna sudah sangat ngantuk dan ndk mau mengaji”.
“Ndak mau!” jawabnya tegas.
“Dari pada bobok siang, Aku lebih memilih nanti malam mengaji walau mengantuk”, lanjutnya.
“Benar?”, tanya ayah agak menyangsikan.
“Iya. Kalau nanti ternyata de Husna ndak mau mengaji karena ngantuk. Ayah boleh menghukum de Husna. Seharian besok de Husna ndak usah dipinjami HP”.  

Masya Allah, haru ayah mendengar komitmentnya. Dalam hati ayah berdoa semoga nanti betul-betul lancar, karena biasanya kalau sudah mengantuk de Husna ngambek kalau disuruh mengaji.

Waktu berlalu, 1 halaman usai maghrib terlaksana. 2 halaman setelah maghrib pun dilaksanakan dengan masih semangat. Usai isya dan sholat taraweh wajah de Husna sudah menunjukkan kantuk. Tetapi ketika diingatkan untuk mengaji masih 2 halaman lagi, ternyata dijawab siap.
1 halaman mampu dibaca dengan lancar tetapi mulai dengan suara yang semakin lirih karena kantuk.
“Masih kurang satu lagi lho de!”.
Ia tampak berfikir.
Ayah pun paham, De Husna butuh motivasi atau bantuan untuk mampu menyelesaikan.
“Sini, ngajinya yang 1 halaman sambil ayah pangku”.
De Husna pun segera menuju pangkuan ayah dan mulai membaca halaman terakhir untuk mencapai target 10 halaman hari ini.

Alhamdulillah, akhirnya selesai. Target mengaji 10 halaman hari ini tercapai. dan ini adalah pertama kali de Husna mampu mengaji dalam sehari 10 halaman. Tiba-tiba, kantuknya seperti hilang.
“Ayah, hadiahnya mana?!” serunya dengan menunjukkan ekspresi berharap.
Ayahpun mengeluarkan dompet, diambilnya satu lembar uang warna hijau. Rp20.000.
“ini”, kata ayah sambil menyerahkan uang tersebut. Binar bahagia de Husna menerima hadiah tersebut dan Ia pun bertekad untuk hari-hari berikutnya kalau bisa 10 halaman terus atau malah 1 juz.
Semoga bisa. dan ayah sama ibu tentunya sangat berharap, kelak engkau pun menjadi anak yang benar-benar sholihah. Rajin beribadah, taat dan hormat dengan orang tua, berprestasi dan mampu berbuat banyak untuk kebaikan khususnya untuk agama Islam. Aamiin.

*Abi Husna
*Ramadhan-20-1441

Kamis, 30 April 2020

Bila Istri Tanya Suami Mau Dimasakin Apa?


"Yah, nanti mau sahur pake apa?"
Umumnya suami atau laki2 kalau ditanya tentang makanan akan bingung menjawab. Bukan karena berfikir tentang menu spesial atau khawatir istri tidak bisa siapkan. Akan tetapi, bagi laki2, makanan bukanlah sebuah obsesi. Tidak harus ini atau itu. Yang penting makanan baik. Pun juga tidak harus bervariasi. Karena bagi laki2, makanan adalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan energi, bukan untuk memenuhi selera. Ada kalanya variasi perlu, tapi bukan hal mutlak.
Sisi lain, istri merasa ingin memberikan layanan spesial dengan memenuhi harapan suami. Sehingga ditanyakanlah "Nanti mau maem apa?"
Dalam kebingungan dan tidak ingin cuek pada istri, kadang suami menjawab sekenanya, "Lele bakar" misal. Maka istri pun merasa mendapat jawaban dan mandat. Dia akan dengan sepenuh hati mengupayakan untuk bisa menyiapkan adanya "Lele bakar". Walaupun dia harus repot2. Rawe2 rantas, malang2 putung. Karena dalam benak istri, ini adalah bagian dari pengabdian totalitas layani suami. 😊😊
Padahal, benar, jawaban suami tadi hanya sekenanya atau iseng saja. Bukan karena suami terobsesi lele bakar. Bahkan menu lain pun tidak masalah.

Jadi, kepada ibu2 atau calon ibu. Anda tidak harus sering menanyakan kepada suami "nanti mau dimasakin apa?". Bagi suami, apa pun masakannya yang penting dihidangkan dengan lembut dan sepenuh hati oleh istri, itu lebih spesial dari menu apa pun. 😊🙏

*Abi Husna
#Ramadhan5

Inginnya Perhatian Tapi Bisa Salah Paham


"Say, baru ngapain? 😘💖"
"Pa, lagi dimana? 
😍"
Kadang suami atau istri akan menanyakan kondisi pasangannya lewat WA, telepon, video call, atau apapun caranya untuk mengetahui kabar ketika tidak sedang bersama.
Tapi, ternyata intensitas menanyakan kabar ini kadang justru menimbulkan salah paham.

Fitrahnya wanita, akan senang, merasa diperhatikan, dan dicintai bila sering dihubungi suami. Sering di WA, ditanya kabar dll.
Dan karena istri merasa senang diperlakukan seperti itu walaupun mungkin faktanya suami justru jarang bertanya kabar, maka istri pun sering melakukan hal yang demikian pada suami. Tanya kabar, tanya baru ngapain, lagi dimana dll. Bahkan detail megingatkan tentang sudah makan belum, dst.

Sobat,
Perlu diketahui ada beda persepsi antara laki-laki dan perempuan dalam mensikapi masalah. Termasuk masalah memberi perhatian lewat tanya kabar.
Laki-laki yang sering ditanya bla-bla-bla, oleh istri. Ternyata tidak sebagaimana istri yang kemudian senang merasa diperhatikan, dicintai. Tetapi laki-laki bila terlalu sering ditanya kabar, dll, justru merasa seakan kurang dipercaya. Dalam kondisi yang tidak terlalu penting laki-laki ingin fokus dalam beraktivitas sebagai bentuk tanggung jawab dan profesional kerja. Ini mungkin juga fitrahnya laki-laki.
Dan karena laki-laki memiliki persepsi demikian, ia pun merasa percaya pada istri, memberi kesempatan istri fokus kerja atau aktivitas pokok di rumah sehingga suami sengaja tidak terlalu sering tanya kabar, khawatir justru mengganggu.

He, bisa dipahami perbedaan di atas.

Niat baik belum tentu dipahami sama. Sering ngaruhke adalah hal yg diharapkan istri, tetapi sebaliknya suami ingin diberi waktu cukup untuk fokus beraktivitas sebagai bentuk tanggung jawab pada keluarga. Pun demikian, Suami yang percaya pada istri sehingga tidak mau mengganggu dengan sering tanya kabar justru dipersepsi istri kurang perhatian.

Terus, sebaiknya gimana?

Tentunya suami maupun istri harus memahami dulu bahwa laki-laki dan perempuan itu punya karakter yg berbeda.
Selanjutnya, sesibuk apapun suami, sepercaya apa pun pada istri, tetap harus meluangkan waktu untuk tanya kabar atau "ngaruhke" istri. Karena ini adalah bagian dari kebutuhan istri.
Sebaliknya, istri. Se kangen apa pun, atau se penasaran apa pun tentang kondisi suami, harus menjaga ritme untuk tidak terlalu sering tanya kabar atau "ngaruhke" suami.
Dan tetap berprasangka baik serta tawakkal kepada Allah SWT. Insyaallah semua akan nyaman dan 'Samawa'.

Meskipun demikian, ini tetaplah hanya sebuah gambaran kondisi umumnya. Sedangkan masing2 pribadi tentunya punya keunikan dan kelebihan tersendiri untuk ikhtiar menjadi pribadi yang lebih baik, lebih pengertian bagi pasangannya.

Tetap semangat puasa. Jaga kesehatan dan jaga jarak untuk lawan corona. Khususnya di siang hari.😅😀

*Abi Husna
#Ramadhan7

Senin, 27 April 2020

Saryanto Koteng Nyalon Lurah

"Assalamu'alaikum. Nyuwun sewu pak, mohon dukungan dan doanya, saya maju sebagai calon lurah desa Segoroyoso 2020-2026"
Tiba2 WA itu masuk ke HP saya. Spontan kaget , tidak menyangka. Tetapi beberapa detik kemudian saya menjadi salut dan mengapresiasi keputusan dan keberaniannya untuk ikut kontestasi calon lurah.
Biasanya calon lurah adalah identik orang yang memiliki kemampuan ekonomi dan dari keluarga yang "besar". Karena jaman sekarang, walaupun hanya tingkat lurah tapi hampir pasti butuh biaya puluhan hingga ratusan juta utk proses kampanye.
Sedangkan, dia, teman saya ini, setahu saya dari keluarga biasa. Ibunya hanya penjual jamu keliling. Dia sendiri saat ini berprofesi sebagai karyawan di salah satu sekolah tinggi swasta di Jogja dengan tugas utama sebagai juru parkir.
Tetapi, memang dia memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat yg tinggi. Setidaknya dari pengalaman selama ini; pernah diamanahi sebagai ketua muda-mudi dusun Dahromo I (IMDI), wakil ketua siskamling hingga 3 periode dan juga aktivis karangtaruna desa Segoroyoso.
Tentang ketaatan beribadah, saya tahu persis dia termasuk pemuda yg rajin beribadah 5 waktu ke masjid/musholla. Kecuali akhir-akhir ini karena kondisi wabah corona.
Sebelum saya memastikan jawaban atas WA dia, saya ingin tahu persis tujuan dan motivasinya untuk maju sebagai calon lurah. Dan siang ini, saya minta dia ke rumah untuk bincang2 tentang hal tersebut.
Setelah panjang lebar dia jelaskan tentang kronologis hingga ia putuskan untuk daftar sebagai calon lurah, saya hanya pesan, pastikan niat benar, ikhlas untuk pengabdian dalam rangka mencari ridlo Allah, lakukan dengan cara-cara benar, dan laksanakan sebaik dan semampu kalau amanah itu pada waktunya tiba.
Walaupun bila saat ini disurvei, mungkin peluang dia terpilih kurang dari 20% karena dia akan berkompetisi melawan inkamben yang maju untuk periode ke 3, tetapi apapun bisa saja terjadi. Keputusan sudah diambil, lanjut dengan ikhtiar semampunya dan pasrahkan hasilnya pada Allah SWT.
Semoga sukses mas Bang Koteng!!..
Eh, ada satu ganjalan yg tadi belum saya ungkapkan ketika bincang2. Bila nanti dia terpilih jadi lurah, mana "Bu Lurahnya?". 😀😀

Kurus

Teringat ketika usia SD, keseharian sangat sedikit minum. Mungkin sehari hanya 1 gelas saya minum. Hampir tidak pernah merasa haus. Bahkan, ketika bulan Ramadhan dan berbuka puasa di musholla bersama teman-teman, kadang saya tidak kebagian minum. Dan saya merasa biasa. Usai makan makanan berbuka, yaitu nasi bungkus. Sudah. Tidak dilanjut minum.
Dan tentunya kebiasaan jarang minum ini berdampak secara fisik. Saya sangat kurus.
Di kelas 6 SD berat badan saya tidak lebih 25 kg. Ketika SMP baru terasa ketidakPeDean karena badan sangat kurus.
Di SMP inilah saya mendengar teori minum minimal 8 gelas sehari. Tetapi karena berawal sangat minim minum, maka saya paksakan pun sehari maksimal hanya bisa minum 4 gelas.
Dan mungkin karena sudah terlanjur begitu "kurus", sedikit peningkatan kebiasaan minum tersebut belum bisa meningkatkan performa fisik. Tetep kurus. Sampai kemudian di usia SMK dan perguruan tinggi. Berat badan saya hanya sekitar 47-49 kg dengan tinggi badan 167.
Usaha untuk meningkatkan berat badan dengan menambah porsi makan dan minum terus dicoba. Tetapi seakan sudah menjadi takdir saya tidak bisa gemuk, atau setidaknya pingin tidak terlalu kurus. Pasrah.
Waktu berlalu, ilmu, pengalaman, bertambah.
Singkat cerita, seperti halnya rumor yang banyak disampaikan orang. Setelah menikah biasanya orang akan tambah gemuk.
Ternyata rumor tersebut terbukti. Alhamdulillah, setelah menikah ternyata perlahan berat badan saya pun bertambah. Kini, sudah lebih dari 10kg pertambahan berat badan saya dari posisi saat menikah.
Jangan tanya, bagaimana dengan istri. Yulian Istiqomah? Tentunya tidak hanya bertambah 10kg. Tapi, Alhamdulillah tetap cantik. Bahkan semakin cantik. 😍😃😀

Kamis, 09 April 2020

HIMBAUAN KEPADA WARGA DAHROMO TERKAIT WABAH VIRUS CORONA

Oleh: Ketua PRM Dahromo

Assalamu'alaikum w w
Bapak/ibu dan sederek semua warga Dahromo yang kami hormati.
Saat ini kita diuji dengan kondisi yang belum pernah kita jumpai sebelumnya, yaitu wabah virus corona yang penyebarannya sangat cepat bahkan sudah menjangkau ratusan negara.
Virus menyebar dari orang ke orang. Tempat yg mulanya aman, dalam hitungan hari bisa saja menjadi rawan dan banyak orang yang terjangkit virus tersebut. Ketika 1 orang terjangkit di suatu daerah, akan dengan mudah segera menular pada orang lain. Meskipun tidak semua orang yg terjangkit ini kemudian sakit parah atau bahkan sampai meninggal, akan tetapi, faktanya banyak orang yang karena terkena virus ini kemudian sakit hingga meninggal dunia. Bahkan kalau dihitung secara global, sudah puluhan ribu orang yang meninggal akibat virus ini.

Pemerintah, MUI, Ormas islam termasuk Muhammadiyah telah banyak berikhtiar untuk mengantisipasi penyebaran virus ini.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan maklumat, disusul Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah. Mereka mengambil keputusan dan kebijakan tentunya sudah dengan pertimbangan dan melibatkan para ahli dan pakar.
Diantara maklumat mereka adalah agar kita menjaga kebersihan, sering cuci tangan dan memakai masker ketika keluar rumah serta senantiasa menjaga jarak. Bahkan melalui fatwa ulama, kita dihimbau untuk sementara sholat fardlu di rumah. Tidak melaksanakan kegiatan berkumpul banyak orang. Bahkan, sholat jum'at pun sementara diganti sholat dzuhur 4 rokaat di rumah masing-masing.
Ini bukan berarti kita lebih takut virus daripada Allah, tetapi ini adalah ikhtiar menjaga kesehatan yg insyaallah juga ada rujukan dalilnya sehingga para ulama berani mengambil fatwa demikian.

Bapak, Ibu, dan sederek semua. Saat ini khususnya di dusun kita Dahromo Alhamdulillah belum tampak wabah ini menyerang, dan tentunya kita tidak ingin itu terjadi.
Oleh karenanya, kami atas nama Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Dahromo mengajak bapak/ibu dan sederek semua untuk bersama-sama berikhtiar mencegah wabah ini.
Kita ikuti protokol pencegahan seperti yg sudah banyak disampaikan para ahli melalui berbagai media.
Khususnya tentang ibadah, PRM Dahromo bersama takmir masjid dan para tokoh masyarakat sepakat untuk mengikuti Maklumat Persyarikatan Muhammadiyah. Untuk sementara kita sholat fardlu di rumah masing-masing dan meniadakan sholat Jum'at, diganti sholat dzuhur 4 rokaat di rumah.

Adapun kepada warga yg memilih untuk tetap melaksanakan sholat jum'at, PRM tidak memiliki kewenangan melarang, kita tetap menghormati dan kita silahkan mencari masjid yg menyelenggarakan jum'atan. Meskipun demikian, kami berharap untuk bisa menyesuaikan himbauan ini. Kami khawatir, dengan melaksanakan sholat jum'at di luar daerah justru bisa menjadi media penularan/penyebaran virus corona tsb.

Demikian himbauan dan ajakan ini kami sampaikan, mohon bisa disebarluaskan beserta surat intruksi dari PDM Bantul di bawah ini. (File tersendiri).
Semoga Allah SWT meridloi ikhtiar kita dan senantiasa memberikan kesehatan, ketetapan iman, islam, serta teguh dijalan yg benar.

Atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum w w.

Hormat kami
Triyanto, S.Pd.

Jumat, 13 Maret 2020

Ragam Formasi Shalat Qiyamullail 11 Raka’at

Pendahuluan
Shalat sunnah adalah shalat yang dituntunkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk dikerjakan sebagai tambahan (nafilah) pahala selain shalat wajib. Di antara shalat sunah yang senantiasa ditunaikan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah shalat dua raka’at sebelum shalat shubuh dan shalat malam. Salah satu keistimewaan dua shalat sunah ini adalah keduanya tetap ditunaikan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam meskipun dalam posisi safar atau perjalanan. Diriwayatkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tetap menunaikan shalat sunah qabla shalat Subuh meskipun waktu shalat Subuh sudah melampui waktunya. Nabi pun tetap menunaikan shalat malam meskipun dalam suasana genting upaya perdamaian Hudaibiyah. Pada bulan Ramadlan, shalat malam ini pun termasuk yang sangat dianjurkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk ditunaikan. Karena itu, kiranya dipahami mengapa Himpunan Putusan Tarjih (HPT) memasukan shalat malam di bulan Ramadlan sebagai amalan utama. Hal ini, antara lain, didasarkan pada Hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:
“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia berkata: Rasullllah shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk menunaikan shalat qiyamu Ramadlan tanpa menghukuminya wajib, kemudian beliau menegaskan:”Siapa yang menunaikan shalat qiyami Ramadlan dengan landasan iman dan mengharap pahala Allah niscaya dosa masa lalunya diampuni.” (HR. Bukhari Muslim)

Shalat qiyamu Ramadlan didefinisikan Majelis Tarjih sebagai shalat malam di bulan Ramadlan yang batas waktunya antara pasca shalat Isya hingga fajar sebelum datang waktu Subuh (2011:32-33). Shalat qiyamu Ramadlan ini di luar Ramadlan diistilahkan sebagai shalat tahajud, qiyamullail, dan witir (2003:91) dengan jumlah 11 raka’at. Jumlah 11 raka’at itu dilaksanakan, antara lain, dengan dengan formasi 4-4-3 serta 2-2-2-2-3. Formasi pertama didasarkan pada Hadits yang diriwayatkan Siti Aisyah radhiallahu ‘anhuma dari Bukhari Muslim, formasi kedua didasarkan pada Hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma riwayat Ashabus Sunan (2009:186; dan 2011:37-38) sedangkan formasi kedua dirujukkan pada beberapa Hadits, yaitu Hadits riwayat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dalam Ashhabussunan. Formasi ketiga 2-2-2-2-2-1 didasarkan pada Hadits Zaid bin Khalid al-Juhani riwayat Muslim (2010). Penyamaan Majelis Tarjih terhadap shalat qiyamu Ramadlan dengan tahajud, witir, dan qiyamullail serta penggunaan kata “antara lain” dalam buku Tuntunan membuka peluang untuk dilaksanakannya formasi lain sebagaimana yang pernah dipraktekkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam selama hayatnya.

Formasi-formasi lain Shalat Qiyamu Ramadlan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
Di antara formasi lain yang belum disebutkan oleh buku Tuntunan Ramadlan Majelis Tarjih Muhammadiyah adalah sebagai berikut:

a.     Formasi 8-1-2
“Dari Abu Salamah dia berkata: ”Saya bertanya kepada Siti Aisyah tentang shalat (malam) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Siti Aisyah menjawab, ”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menunaikan shalat 13 raka’at. Beliau tunaikan shalat delapan raka’at kemudian menunaikan witir satu raka’at lalu beliau shalat dua raka’at sambil duduk saat hendak ruku’ beliau berdiri kemudian ruku’. Setelah itu, beliau tunaikan shalat (qabla Shubuh) dua rakaat antara adzan dan iqamat sebelum shalat Shubuh.” (H.R. Muslim)

b.     Formasi 8-2-1
“Dari Said dari Qatadah dengan sanad yang sama dia berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat delapan raka’at tidak duduk pada delapan rakaat itu kecuali pada yang kedelapan, kemudian beliau duduk tasyahud lalu berdzikir kepada Allah dan berdoa tasyahud, lalu beliau membaca salam yang nyaring kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk, setelah beliau salam kemudian beliau shalat satu raka’at. Itulah sebelas raka’at anakku...” (Sunan Abi Daud)

c.     Formasi 9-2
“Dari Sa’ad bin Hisyam dia berkata wahai Ummul Mukminin berikanlah kepada ku tentang shalat witir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam Siti Aisyah menjawab: ”Kami siapkan siwak dan air wudlu (untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam) hingga Allah membangunkan beliaushalallahu ‘alaihi wasallam pada batas waktu malam sesuai dengan kehendak-Nya, lalu beliau bersiwak dan berwudlu lalu menunaikan shalat delapan raka’at. Beliau tidak duduk tasyahud kecuali pada raka’at kedelapan. Saat beliau duduk, beliau berdzikir kepada Allah seraya berdoa, lalu beliau bangkit tidak membaca salam, kemudian beliau shalat untuk raka’at kesembilan lalu duduk tasyahud berdoa kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam lalu membaca salam yang nyaring, lalu beliau menunaikan shalat dua raka’at sambil duduk. Itulah seluruhnya berjumlah sebelas raka’at.” (HR. Muslim)

“Dari Abu Salamah dia berkata: Saya bertanya kepada Siti Aisyah, wahai Ibu bagaimana shalat malam Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Aisyah menjawab: sembilan raka’at (ditunaikan) sambil berdiri dan dua rakaat (ditunaikan) sambil duduk. Dan dua raka’at antara adzan dan iqamat.” (HR. Ahmad)

d.     formasi 10-1
Dari Siti Aisyah radhiallahu ‘anhuma dia berkata: ”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallammenunaikan shalat malam sepuluh raka’at kemudian menunaikan witir satu raka’at, lalu beliau menunaikan shalat sunat qabla Shubuh dua raka’at.” (HR. An-Nasai)

e.     Formasi 4-5-2
Dari Abdullah bin Abbas dia berkata: ”Aku bermalam di rumah bibiku Siti Maimunah, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam shalat Isya lalu datang untuk menunaikan shalat malam, lalu beliau tunaikan empat raka’at lalu tidur, kemudian beliau bangun dan berwudlu. Kata Abdullah bin Abbas:”Aku tidak mengingat wudlunya, kemudian beliau berdiri untuk menunaikan shalat malam, aku pun ikut berdiri di samping kirinya, lalu beliau menempatkanku di samping kanannya, lalu beliau shalat lima raka’at, lalu dua raka’at, lalu beliau tidur kemudian (bangun lagi untuk) shalat dua rakaat qabla shubuh, lalu beliau keluar rumah menuju masjid untuk shalat shubuh.” (HR. An-Nasai)

f.       Formasi 2-2-2-5
Dari Siti Aisyah dia berkata: “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat malam 13 raka’at Beliau menunaikan witir 5 raka’at yang tidak duduk kecuali di akhir Rakaatnya.” (Shahih Muslim)

g.     Formasi 8-3
Dari Ummu Salamah dia berkata: ”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat malam 13 raka’at (dengan formasi) delapan raka’at kemudian witir 3 raka’at dan menunaikan shalat dua raka’at sebelum Shubuh.” (HR. An-Nasai)

h.     Formasi 2-7-2
“Dari Siti Aisyah radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallammenunaikan shalat malam 13 raka’at, beliau melakukan witir 7 raka’at – atau sebagaimana dikatakan Aisyah kemudian Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tunaikan dua raka’at sambil duduk dan dua raka’at sunat sebelum Shubuh.” (HR. Abu Daud)

11 Rakaat Diawali dengan Dua Raka’at Ifititah Khafifatain
Putusan Tarjih tentang Tuntunan Shalat Qiyamu Ramadlan sejak lama telah menetapkan bahwa shalat malam di atas ketika ditunaikan diawali dengan pelaksanaan shalat ifititah khafifatain, shalat dua raka’at yang ringan. Pelaksanannya ketika shalat malam dilaksanakan berjamaah, maka ifititah khafifatain pun ditunaikan berjamaah dengan cara bacaan jahr atau dinyaringkan. Ini, antara lain, didasarkan pada Hadits-Hadits berikut ini:
“Dari Siti Aisyah radhiallahu ‘anhuma dia berkata: ”Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika menunaikan shalat malam memulai shalatnya dengan dua raka’at yang ringan.” (HR. Muslim)

“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda: Jika salah seorang di antaramu menunaikan shalat malam maka mulailah shalatnya dengan dua raka’at yang ringan.” (HR. Bukhari Muslim)

“Dari Kuraib “pembantu” Abdullah bin Abbas dia menceritakan bahwa dia bertanya kepada Abdullah bin Abbas bagaimana tentang cara shalat lama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Adullah bin Abbas menjawab: ”Saya bermalam bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau bermalam di rumah Siti Maimunah. Nabi tidur hingga masuk 1/2 atau 2/3 malam. Kemudian bangun menuju wadah yang ada airnya. Nabi berwudlu saya pun berwudlu. Nabi berdiri untuk tunaikan shalat malam saya pun berdiri di samping kirinya, kemudian Nabi menarik saya ke sebelah kanannya, kemudian Nabi pun letakkan tangannya di atas kepala saya, Nabi menggosok-godok telinga saya seakan Nabi bangunkan saya (dari kantuk saya). Kemudian Nabi tunaikan shalat dua rakaat yang ringan. Saya berkata: Kemudian Nabi membaca dalam dua rakaat yang ringan itu surat al-Fatihah dalam setiap rakaatnya kemudian membaca salam. Kemudian tunaikan shalat hingga 11 rakaat dengan witir ...” (H.R. Abu Daud)


*) Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah 13 / 98 | 22 Syakban - 7 Ramadlan 1434 H


Oleh: Wawan Gunawan Abdul Wahid *)
Alumni Angkatan Pertama PP Darul Arqam Muhammadiyah Garut (1978-1984),
Kadiv Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga MTT PP Muhammadiyah.

Kamis, 05 Desember 2019

Dilema Seragam Batik (Baru)

Oleh: Abi Husna

Hari ini saya melihat teman-teman sudah mengenakan seragam sekolah yang baru. Seragam sesuai ketentuan dari pemerintah daerah, tiap Kamis batik tirta samudra. Bagus, elegan, dan sangat tampak nuansa lokal. Bantul.

Tetapi, saya sendiri belum mengenakan. Masih hanya memakai batik lain yang saya punya. Bahkan kain seragam batik yang seperti punya teman-teman masih terlipat rapi belum saya bawa ke penjahit.

Saya kurang taat aturan, tidak tertib berseragam. Mungkin seperti itu.

Tetapi, sebenarnya saat ini saya sedang merenungkan. Keafdlolan bila saya harus menjahitkan seragam batik lagi.

Saya mulai mengingat dan berhitung.
Seragam batik yang saya punya.

Seragam sekolah 1
Seragam sekolah 2
Seragam sekolah 3
Seragam sekolah 4
Seragam sekolah 5
Seragam persyarikatan 1
Seragam persyarikatan 2
Seragam persyarikatan 3
Seragam persyarikatan 4
Seragam RT
Seragam LPA

Sudah 11 seragam batik, belum ditambah batik pribadi yang  bukan seragam dan juga batik pemberian sahabat semacam hadiah.

Padahal, jadwal resmi penggunaan seragam di sekolah hanya 2 hari. Kamis, Jum'at. Sebagian seragam berkala bulanan seperti batik PGRI.

Batik-batik sekolah yg saya tulis di atas, memang sebagian sudah lama. Sudah tidak dijadwalkan untuk dipakai lagi. Tetapi kondisi masih bagus. Dan sudah kehabisan waktu untuk kapan dipakai, karena hari-hari lain sudah ada jadwal seragam sendiri. Termasuk yang bukan batik. Misal senin seragam kheki, selasa seragam biru, dan rabu seragam putih.

Karenanya, saat ini saya betul-betul sedang merenung. Mestinya saya segera tertib mengikuti ketentuan. Memakai seragam sesuai jadwal.

Tetapi, seragam-seragam lama saya terus nasibnya bagaimana. Apakah tidak kasihan mereka. Hanya menjadi penghuni pasif almari.

Saya ingin menyalurkan kepada yang membutuhkan. Tetapi, kulihat sekarang, banyak orang yang juga sama punya koleksi bertumpuk seragam.
Memberikan pada seseorang, bisa jadi malah dianggap merendahkan. Memberi barang bekas. Walaupun sebenarnya masih bagus, setidaknya masih layak.

Terus, bagaimana baiknya?
Dan ini baru soal batik. Belum juga soal kaos, yang di sekolah pun hampir tiap tahun ada seragam kaos baru.

😊🙏🏻🙏🏻

Bantul, 5-12-2019.

Kamis, 14 November 2019

Sejarah Akan Berulang, Serbuan itu pun Pasti Akan Terjadi Lagi

Oleh: Abi Husna
Mereka adalah gerombolan yg sangat masif dan dramatis ketika menyerbu. Ribuan anggota dari berbagai sarang persembunyian meluncur dalam waktu yang bersamaan. Serbuan ke berbagai arah; utara, selatan, barat, timur, bahkan atas dan bawah. Hasilnya menakjubkan.
Membuat banyak orang terkesima, tidak sedikit anak-anak dibuat berlarian, bahkan beberapa diantaranya tampak histeris.
Gerombolan yg sangat sempurna dalam menyembunyikan diri sebelum hari eksekusi.
Tidak tampak sama sekali lokasi persembunyiannya. Padahal ada ribuan lokasi sebagai sarang dengan anggota yang juga ribuan tiap sarangnya.
Disitu tempat mereka tumbuh, mempersiapkan diri untuk hari penyerbuan.
Entah, apakah ada koordinator penghubung antar sarang sehingga serangan masif dihari dan jam yang sama bisa terlaksana. Padahal, dipastikan mereka tidak memiliki alat komunikasi canggih seperti HP maupun internet.
Bila direnungkan tentang aksi mereka yang menakjubkan itu, pantas untuk ditiru untuk sebuah aksi yang ingin sama dahsyatnya.
Ada persiapan sunyi tetapi mantab. Tidak tampak ribet ribet mereka menyusun kekuatan.
Tidak tampak mereka berlatih menggunakan alat utama penyerbuan. Tetapi anehnya, mereka mampu menggunakan alat itu dan hampir tidak didapati kegagalan.
Siapakah mereka?
Iya, benar. Mereka adalah laron.
Tidak pernah kita melihat sarang laron kecuali di hari mereka mulai ke luar dari sarang. Inilah kehebatan pertama. Sempurna dalam bersembunyi.
Tidak pernah kita melihat laron belajar terbang. Tetapi dengan sayapnya yang anggun sebagai alat terbang, tahu-tahu ribuan atau malah jutaan laron keluar dari sarang dan beterbangan.
Tidak ada alat komunikasi canggih seperti HP, internet atau medsos, tetapi di hari yang sama, pagi hari, laron dari ribuan sarang yang terpencar di banyak tempat menyembur hampir bersamaan.
Masya Allah...
Inilah diantara hal yang kadang tidak begitu kita fikirkan, tetapi sesungguhnya menunjukkan berbagai kedahsyatan.
Kedahsyatan dari yang Maha Mencipta dan Maha Mengatur,
Allah SWT.

Kamis, 07 November 2019

Penyerahan SK Pendirian Muhammadiyah Dahromo Kepada PWM untuk Museum Muhammadiyah

Alhamdulillah,
Rabu, tanggal 9 Rabi'ul Awwal 1441 H bertepatan dengan 6 November 2019 M pukul 16.30 WIB bertempat di ruang sidang Perpustakaan UMY, saya bersama beberapa pengurus PRM Dahromo bisa menyerahkan dokumen SK Pendirian Ranting Muhammadiyah Dahromo tahu 1928 M dan akan menjadi salah satu koleksi Museum Muhammadiyah yang saat ini masih dalam proses pembangunan di kompleks kampus Universitas Ahmad Dahlan.
Dokumen diterima langsung oleh Ketua PWM DI. Yogyakarta, Bapak Gita Danu Pranata dan diteruskan pada Tim Museum.
Semoga bermanfaat.









Senin, 04 November 2019

SK PENDIRIAN RANTING MUHAMMADIYAH DAHROMO TAHUN 1928

Sulit dibayangkan, tahun 1928, jauh sebelum Indonesia merdeka, Persyarikatan Muhammadiyah sudah sangat tertib dan modern mengurus administrasi. Tidak hanya untuk urusan-urusan pusat, bahkan berdirinya group atau ranting Muhammadiyah pun sudah dengan dikeluarkan Surat Keputusan.
Adalah group Muhammadiyah Dahromo Kotagede, salah satu ranting yang mendapatkan legalitas pendirian berupa Surat Keputusan dari Moehammadijah Hindia Timoer tahun 1928 dan salinan SK tersebut masih ada sampai sekarang.
Luar biasa. Kami yang saat ini menjadi diantara pelangsung Ranting Muhammadiyah Dahromo bahkan tidak habis keheranan kami. Bagaimana bisa di jaman itu, disaat masyarakat sekedar mencari makan pun masih susah, tetapi Bapak-bapak kami, para tokoh agama, tokoh masyarakat di dusun ini telah berfikir untuk bisa didirikannya ranting Muhammadiyah. Dan setelah segala persyaratan dirasa cukup Pimpinan Muhammadiyah di atasnya pun kemudian mengesahkan dengan mengeluarkan SK.
Betapa beruntungnya kami menerima warisan semangat pergerakan dari Bapak-bapak kami. Menjadi penerus dakwah amar ma'ruf nahi mungkar yang telah jauh-jauh hari disusun rapi. Di kampung ini. Di ranting ini. Muhammadiyah Dahromo. Semoga Allah SWT membalas pahala kepada segenap pendahulu kami yg telah merintis jalan dakwah berkemajuan ini.
Triyanto,
Ketua PRM Dahromo, Cabang Pleret, Daerah Kabupaten Bantul


https://tajdid.id/2019/11/04/jejak-sejarah-tradisi-tertib-administrasi-muhammadiyah/






Jumat, 25 Oktober 2019

Klimaks yang Anti Klimaks


Pasca pengumuman kabinet banyak yang menilai proses demokrasi yang anti klimaks. Apalagi dengan masuknya Pak Prabowo ke jajaran kabinet. Sangat sulit dilogika, kok mau-maunya, dan juga kok ya Pak Jokowi mengajak. Terus apa gunanya kemarin ada pemilihan.
Tetapi saya justru menganggap dan berharap inilah klimaks.
Walaupun pasti, banyak pihak yang kecewa baik dari kubu 01 ataupun 02.
Tetapi, sungguh, dengan bersedianya Pak Prabowo masuk kabinet sebagai Menteri Pertahanan juga sebaliknya terbukanya Pak Jokowi untuk merangkul rival beratnya, maka secara tidak langsung telah terjadi rekonsiliasi.

Suhu perseteruan akar rumput menurun drastis. Padahal, beberapa waktu jelang pemilu, kita merasakan keras dan rumitnya perseteruan antar kubu. Sangat panas dan hampir mustahil bisa dilalui dengan damai. Walaupun banyak tokoh yang dengan arif menenangkan dan bijak, namun provokator tak bertanggung jawab lebih semangat mengadu domba.

Alhamdulillah, Allah Swt masih menyayangi negeri dan bangsa ini. Semoga hari-hari berikutnya semakin tenteram dan maju.

Sedikit was-was yang sepertinya setiap saat bisa muncul kegaduhan lagi, ketika isu-isu tentang radikalisme dimunculkan lagi. Isu yang syarat kepentingan politik dan cenderung memecah kerukunan.
Semoga tidak.

Abi Husna*

Rabu, 23 Oktober 2019

MENDIDIK ANAK AGAR BERANI



Oleh: Triyanto, S.Pd.

Awal masuk sekolah, banyak anak kelas 1 SD yang masih malu-malu. Tidak sedikit juga tampak takut. Takut disuruh maju ke depan kelas. Takut menjawab bila ditanya guru. Takut dinakali teman yang lebih besar. Dan sebagainya. Walaupun umumnya ini hanya beberapa hari, setelah cukup adaptasi mereka akan segera biasa.

Tetapi ada beberapa anak yang memang memiliki karakter pemalu dan penakut. Clingus bahasa jawanya. Seperti yang saya rasakan sendiri waktu kecil.

Dulu, saya ketika masih usia SD, merasa begitu malu dan takut bila diminta guru ke depan untuk mengerjakan tugas. Takut salah. Takut ditertawakna teman. Dan sifat pemalu serta penakut ini berkepanjangan. Ketika di rumah pun, misal ada tamu yang ingin bertemu ayah ibu dan kebetulan yang di rumah hanya saya sendiri, maka saya akan diam di dalam rumah. tidak akan membukakan pintu apalagi menanggapinya. Bingung, malu, takut nanti kalau ditanya jawabnya bagaimana.

Bahkan ketika saya usia SMP. Saya ingat betul, waktu itu sekedar untuk ke warung fotokopi saja saya tidak berani. Tidak tahu caranya bilang kalau mau fotokopi itu bagaimana.

Ketika giliran kelas saya akan ada pemilihan petugas upacara, saya sangat khawatir, was-was, dan takut bila nanti ditunjuk. Maka saya pun menunjukkan raut muka melas agar tidak terpilih.

Walaupun dalam perkembangannya, atas takdir Allah. Alhamdulillah, saya merasa ada perubahan. Lebih berani untuk hal-hal sepele yang dulu saya takutkan. Berani berbicara di forum pertemuan. Berani menjadi pembawa acara kegiatan. Berani menyampaikan kultum. Menjadi pengurus organisasi remaja, memimpin rapat, bahkan Alhamdulillah, saat ini saya menjadi salah satu guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul dan sempat diamanahi sebagai Kepala Sekolah tahun 2010-2012.

Sungguh. Menjadi pemalu dan penakut sangat tidak nyaman. Saya ingat betul aneka ketertekanan batin dan perasaan bahkan hanya untuk urusan-urusan sepele.

Dengan latar belakang pengalaman yang saya merasakan sendiri itu, dan berkaitan dengan posisi saya saat ini yang menjadi seorang guru. Saya ikhtiar dengan kemampuan dan referensi yang saya miliki, untuk ikut membantu membimbing, memotivasi siswa lebih optimal khususnya pada siswa-siswa yang menunujkkan sikap pemalu dan penakut. Jangan sampai mereka menjadi pribadi yang terhambat perkembangannya karena sifat penakutnya tadi.

Banyak cara yang ternyata bisa kita lakukan untuk memotivasi anak-anak untuk berkembang. Bahkan sangat sederhana.

Sebagai contoh, untuk membuat anak berani ke depan kelas, berani berbicara  di depan. Maka secara bertahap kita bisa meminta anak untuk bergantian maju ke depan, berdiri sekitar 1-2 detik menghadap ke teman kemudian kembali ke tempat duduk. Hanya berdiri sebentar. Dan ini adalah sebuah pengalaman bagi anak yang awalnya sama sekali belum pernah atau belum berani.

Tahapan berikutnya, kembali anak ke depan, mengucap salam, dan kembali ke tempat duduk. Hanya sekian detik anak mengucap salam saja. Atau menyapa teman, hai, halo kemudian kembali duduk.

Terus secara bertahap, hari hari berikutnya bisa ditambah. Misal membaca satu kalimat di depan. Atau menirukan kalimat yang diucapkan guru.

Dari rangkaian aktivitas sederhana dan bertahap tadi. Secara tidak sadar, anak telah memiliki pengalaman dan peningkatan keberanian ke  depan kelas. Tentunya pengkondisian suasana serta motivasi dan apresiasi guru sangat pula mendukung kelancaran tahapan latihan-latihan tadi.

Contoh latihan keberanian yang lain adalah, latihan berbicara mengunakan mic. Ini penting. Karena ke depan, siapa tahu anak-anak kita akan menjadi pembicara-pembicara sukses. Saya sendiri ingat, pertama berbicara mengunakan mic adalah ketika diamanahi sebagai ketua IRM Ranting dan bertugas mengumumkan kegiatan kerja bakti di musholla lewat pengeras suara musholla. Uh, sungguh, seperti tercekat. Berat bicara di depan mic.

Kita bisa melatih anak-anak secara bertahap pula. Yang pertama secara bergantian siswa kita minta memegang mic. Hanya memegang saja. Kemudian tahapan berikutnya memegang dan berbicara satu kata di dengan mic tersebut. Dan seterusnya.

Hal-hal sederhana ini, perlu secara sadar dan telaten dilakukan guru. jangan sampai ada siswa yang jarang mendapat kesempatan tampil. Karena bila guru kurang telaten atau tidak sabar, maka hanya anak-anak yang berani yang akan sering mendapat kesempatan tampil. Sedang anak yang penakut, guru kesulitan memotivasinya.

Alhamdulillah, dari hal-hal sederhana yang saya lakukan dalam rangka membimbing dan memotivasi siswa tersebut secara umum berjalan lancar pada setiap kelas yang pernah saya ampu. Kadangkala lompatan keberanian anak justru di luar ekspektasi kita. Pernah saya dibuat haru dan bangga, suatu ketika mendapat kiriman foto dari orang tua. Mengabarkan bahwa putranya baru saja tampil membacakan hafalan surat An Naba dalam acara syawalan kantor ayahnya. Masya Allah. Kaget, bangga, dan haru. Ananda yang di kelas beberapa saat lalu sangat pemalu, sangat penakut, dan butuh motivasi ekstra untuk membimbinganya ternyata benar-benar telah berani. Berani tampil di depan umum, melafalkan bacaan surat yang cukup panjang dan dengan menggunakan mic.

Demikian sedikit cerita pengalaman yang sering saya lakukan sebagai seorang guru kelas bawah. Semoga ada hikmahnya. Aamiin.


Penulis adalah;
Guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul
Plt. Kepala Sekolah SD Unggulan Aisyiyah Pandak
IG. @triyanto.sdu      
FB. Abi Husna

Rabu, 09 Oktober 2019

Muhammadiyah Bantul Berpotensi Ajukan Kadernya dalam Pilkada 2020

Muhammadiyah tentunya bukan partai politik yang memiliki hak, kewenangan dan mekanisme dalam pengajuan bakal calon kepala daerah, Bupati maupun Wakil Bupati.
Akan tetapi, sebagai organisasi sosial keagamaan yang cukup mampu mengarahkan dan mengkoordinir masyarakat, Muhammadiyah tidak bisa dianggap enteng untuk diabaikan kecenderungan sikapnya.
Bahkan, berkaca pada pemilihan DPD tahun ini yang secara resmi Muhammadiyah merekomendasikan kadernya pun Alhamdulillah akhirnya terpilih, yaitu Bapak H. Afnan Hadikusumo yang beberapa waktu lalu telah resmi dilantik sebagai anggota DPD dari D.I. Yogyakarta. Artinya, Muhammadiyah punya kekuatan untuk mengarahkan warganya untuk memilih calon tertentu apalagi bila calon tersebut adalah kader persyarikatan yang dipandang mampu dan akan amanah mengemban tugas.
Berkaitan dengan hal di atas, semakin dekatnya Pilkada Bantul tahun 2020, maka sudah sepatutnya Muhammadiyah mendorong dan merekomendasikan salah satu kader terbaiknya untuk maju berkontestasi dengan sehat dalam Pilkada 2020. Tentunya dengan menjalin komunikasi baik terhadap partai politik atau koalisi partai politik yang memiliki peluang mengajukan kandidat.
Hal ini jangan dimaknai Muhammadiyah terjun dalam politik praktis, akan tetapi Muhammadiyah perlu untuk ikut ikhtiar memunculkan calon pemimpin daerah yang memang bersih, amanah, visioner dan mampu memimpin dengan benar.
Adapun untuk memilih tokoh yang dipandang mampu untuk menjadi satu yang direkomendasikan tentunya tidak sulit, karena para pimpinan dan kader persyarikatan banyak yang telah memiliki pengalaman dalam hal kepememimpinan.
Sebut saja sebagai contoh, Bapak Drs. H. Sahari yang saat ini sebagai ketua PDM Bantul. Bapak Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd. salah satu Pimpinan Muhammadiyah yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul, Ust. Thoyib Hidayat Da'i kharismatik anggota Majelis Tabligh PDM Bantul, dan masih banyak lagi.
Hal penting yang juga perlu masyarakat luas ketahui, ketika Muhammadiyah telah mampu mendudukkan kadernya dalam jabatan publik, maka Muhammadiyah merelakan dan mewakafkan kemampuan kadernya tersebut untuk berkhidmat yang terbaik untuk kemashlahatan masyarakat luas. Bukan untuk kepentingan khusus Muhammadiyah apalagi hanya segelintir orang atau kelompok saja.
Ini menjadi semacam garansi, karena sungguh tidak mudah mencari pemimpin yang mampu berlaku adil di era sekarang ini, akan tetapi insyaallah para kader persyarikatan Muhammadiyah akan melakukan hal tersebut bila dipercaya mengemban amanah.

By. Triyanto, S.Pd., Bantul, 9-10-2019

Sarasehan Pendidikan Teguhkan Optimisme Kemajuan Sekolah Muhammadiyah Cabang Jetis

  Jetis, 4 Agustus 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul menyelengga...