Sejak tahun 2013 saya tinggal di Dusun Turi. Sebelumnya,
sejak kecil hingga dewasa, saya tumbuh di dusun Dahromo, Pleret. Dua tempat ini
sama-sama lingkungan dusun/pedesaan, sama-sama masyarakatnya hangat. Namun ada
satu hal yang sangat terasa berbeda bagi saya: suasana kehidupan masjid.
Di Dahromo, terkhusus
di lingkungan sekitar rumah saya, ketika waktu sholat tiba, hampir seperti
kesepakatan tak tertulis. Ayah, ibu, kakak, pakde, budhe, paklik, bulik dan
tetangga kanan kiri—berbondong-bondong menuju masjid atau musholla untuk sholat
berjamaah. Suasananya begitu hidup. Bahkan ada rasa “tidak enak” jika tidak
ikut berjamaah. Masjid bukan sekadar bangunan, tapi benar-benar menjadi pusat
kehidupan warga.
Ketika saya pindah
ke Turi, saya mendapati suasana yang berbeda. Bukan berarti tidak ada kegiatan
keagamaan. Pengajian tetap ada, bahkan jika ada acara tertentu, jamaah yang
hadir cukup banyak. Namun untuk sholat fardhu berjamaah harian, jumlahnya
sangat sedikit.
Masjid yang berada
di RT 02 Dusun Turi pun demikian. Khususnya bapak-bapak, yang rutin berjamaah
bisa dihitung dengan jari. Tidak tampak suasana yang “mengajak” secara sosial
seperti yang dulu saya rasakan di Dahromo. Bahkan, tidak berjamaah pun terasa
menjadi hal yang biasa.
Yang juga menjadi
kegelisahan saya adalah minimnya keterlibatan pemuda. Sejak tahun 2013 hingga
sekarang, 2026, saya belum melihat adanya aktivitas remaja masjid yang
benar-benar hidup. Belum tampak pemuda yang rutin berjamaah, sekaligus memiliki
kepedulian untuk mengajak dan menggerakkan teman-temannya agar turut meramaikan
masjid.
Padahal, setahu saya, di banyak tempat justru ada
sosok-sosok seperti itu—pemuda yang bukan hanya hadir, tetapi juga menjadi
penggerak. Mereka yang memikirkan bagaimana masjid tetap hidup, bagaimana
jamaah bertambah, dan bagaimana suasana kebersamaan itu terjaga.
Keberadaan pemuda seperti inilah yang sejatinya menjadi denyut nadi gerakan dakwah di tingkat paling bawah, di dusun. Dari merekalah semangat itu biasanya tumbuh, menyebar, dan perlahan menghidupkan lingkungan.
Bersyukur, belakangan ini ada satu dua anak usia SMP yang mulai tampak rajin ke masjid. Juga mulai ada anak-anak usia TK dan SD awal yang rajin ke masjid. Namun untuk pemuda usia matang yang biasanya menjadi motor penggerak kegiatan masjid, masih belum terlihat.
Secara latar
kedekatan organisasi, warga Dusun Turi umumnya adalah warga Nahdlatul Ulama,
sementara saya sendiri tumbuh dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Namun
bagi saya pribadi, perbedaan ini bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Karena
dalam urusan sholat berjamaah, ini bukan tentang latar organisasi, melainkan tentang
ketaatan kita sebagai seorang muslim kepada Allah.
Setelah lebih dari 13 tahun tinggal di sini, akhirnya
muncul tekad dalam diri saya untuk mulai berikhtiar, meski kecil. Saya sadar,
perubahan tidak akan datang jika tidak ada yang memulai.
Malam Ahad kemarin,
dalam sesi lain-lain pada rapat RT, saya mencoba menyampaikan ajakan sederhana.
Dan hari ini, saya kembali menguatkan ajakan tersebut melalui grup WhatsApp
warga, karena setelah pertemuan kemarin, belum tampak adanya perubahan kehadiran
jamaah di masjid.
Ajakan yang saya
sampaikan pun sederhana:
Bapak-bapak warga RT 02 Dusun Turi yang
saya hormati,
Mengulang
yang sempat saya sampaikan pada pertemuan kemarin, izinkan saya kembali
mengajak diri saya pribadi dan panjenengan semua untuk bisa menyempatkan sholat
fardhu berjamaah di masjid.
Kita sadari bersama, di tengah kesibukan sehari-hari, seringkali waktu sholat berlalu begitu saja tanpa berjamaah. Padahal di situlah ada keutamaan yang besar, sekaligus menjadi sarana kita mempererat silaturahmi antarwarga.
Tidak perlu langsung sempurna, mari kita mulai
pelan-pelan. Siapa
yang dekat dan longgar waktunya, monggo bisa hadir. Semoga langkah kecil ini
Allah berkahi, dilapangkan rezeki kita, dan dijadikan sebab kebaikan untuk
keluarga kita semua.
Maturnuwun, semoga Allah mudahkan langkah kita semua. 🙏🏻
Saya menyadari, apa yang saya lakukan ini sangat kecil.
Bahkan mungkin belum terasa dampaknya. Tapi saya percaya, dakwah memang
seringkali dimulai dari langkah yang sunyi, dari niat yang sederhana, dan dari
konsistensi yang tidak terlihat.
Selama ini, di luar
lingkungan dusun, saya cukup aktif dalam kegiatan pengajian di lingkungan
Persyarikatan Muhammadiyah, baik sebagai peserta maupun kadang sebagai pengisi
kajian. Namun di dalam Dusun Turi, saya merasa belum benar-benar menemukan
jalan untuk berkontribusi lebih.
Di masjid sini,
saya bukan siapa-siapa. Tidak ada jadwal sebagai imam, khatib, atau pengisi
kajian. Hanya warga biasa. Tapi mungkin justru dari posisi sebagai “warga
biasa” inilah ikhtiar itu harus dimulai.
Setidaknya, saya
berusaha untuk tetap tertib berjamaah. Karena saya yakin, ajakan yang paling
kuat bukanlah kata-kata, melainkan keteladanan yang terus diupayakan.
Semoga Allah
mudahkan langkah kecil ini. Dan semoga suatu saat nanti, suasana masjid di
Dusun Turi bisa kembali hidup—bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran dan
kebutuhan hati setiap warganya.
Triyanto M. Faraz
























