Kamis, 15 Januari 2026

Di Antara Detik yang Pergi


Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik demi detik berlalu dengan tenang, nyaris tak bersuara. Namun justru dalam keheningan itulah, jatah hidup kita terus berkurang, pelan, pasti, dan tak bisa ditawar.


Sering kali kita terjebak dalam rutinitas. Hari-hari diisi kesibukan yang terasa penting, tetapi belum tentu bermakna. Kita menunda banyak hal baik dengan alasan “nanti”, seolah waktu adalah tabungan yang tak akan habis. Padahal hidup bukan soal berapa lama kita ada, melainkan seberapa sadar kita menjalaninya.


Waktu sejatinya tidak pernah memusuhi manusia. Ia hanya jujur menjalankan perannya. Yang kerap lalai justru kita terlalu sibuk mengejar yang fana, hingga lupa menyiapkan yang kekal. Setiap kesempatan berbuat baik yang diabaikan, setiap niat yang dibiarkan menunggu, adalah bagian dari detik-detik yang pergi tanpa kembali.


Allah mengingatkan dengan sangat lembut namun tegas:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya.”

(QS. Al-A‘raf: 34)


Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan tambahan waktu, melainkan tambahan kesadaran. Agar di antara detik-detik yang terus pergi, hidup tidak sekadar berlalu—tetapi benar-benar bernilai.

Selasa, 13 Januari 2026

Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai; Mitos Atau...


Pernah dengar larangan demikian. Entah dari orang tua, warga sekitar pantai, atau sekadar peringatan yang beredar dari mulut ke mulut: jangan pakai baju hijau kalau ke pantai. Sebagian langsung patuh, sebagian lagi tersenyum sinis, menganggapnya sekadar cerita lama yang tak masuk akal.


Di era serba rasional seperti sekarang, larangan semacam itu memang mudah dicap mitos. Apalagi jika dikaitkan dengan kisah-kisah mistis yang sulit diterima akal sehat. Tidak sedikit yang lalu memilih bersikap ekstrem: menolak mentah-mentah, bahkan menertawakan apa pun yang berlabel “kearifan lokal”.


Namun, benarkah larangan itu berdiri sepenuhnya di atas keyakinan mistis? Ataukah kita terlalu cepat menutup telinga sebelum memahami pesan di baliknya?

Masyarakat tradisional, khususnya yang hidup di wilayah pesisir, mengenal laut bukan sebagai tempat wisata, melainkan ruang hidup yang penuh risiko. Mereka menyaksikan sendiri betapa laut bisa berubah dalam hitungan menit. Ada yang terseret ombak, ada yang tak kembali, dan ada pula yang sulit ditemukan meski jaraknya tak seberapa jauh dari bibir pantai.


Dalam kondisi seperti itu, pesan keselamatan tidak disampaikan dengan istilah teknis. Ia harus sederhana, mudah diingat, dan cukup kuat untuk ditaati. Maka lahirlah larangan-larangan praktis, termasuk soal warna pakaian. Bukan karena laut “memilih” korban, tetapi karena manusia perlu dibuat lebih waspada.


Baru di titik inilah nalar modern menemukan penjelasannya. Secara ilmiah, warna hijau memang kurang ideal dikenakan di pantai. Warnanya mudah menyatu dengan warna laut, terutama di perairan tropis. Dalam situasi darurat, seseorang yang mengenakan baju hijau lebih sulit terlihat dari kejauhan. Padahal, keterlihatan adalah kunci utama dalam proses penyelamatan.


Orang-orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah visibilitas atau spektrum cahaya. Namun mereka mengenal akibatnya. Mereka belajar dari kejadian-kejadian nyata. Pesan keselamatan itu lalu diwariskan dengan bahasa zamannya, agar generasi setelahnya lebih berhati-hati.


Di sinilah kita perlu bersikap adil dan dewasa. Tidak semua kearifan lokal harus diterima tanpa kritik, tetapi juga tidak layak dipatahkan dengan ejekan. Yang perlu kita lakukan adalah memisahkan pesan keselamatan dari bungkus ceritanya, lalu menjelaskannya dengan akal sehat.


Maka, memilih tidak memakai baju hijau di pantai bukan soal percaya atau tidak percaya pada hal mistis. Ia soal kesadaran akan risiko dan tanggung jawab pada keselamatan diri. Bukan takut pada sesuatu yang tak terlihat, melainkan peduli pada hal yang sangat nyata: nyawa manusia.


Sabtu, 03 Januari 2026

Awal Tahun; Momentum Menata Diri Menjadi Lebih Baik

Awal tahun selalu menghadirkan ruang sunyi untuk merenung. Bukan karena kalender berganti, tetapi karena kita disadarkan bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan hidup tidak pernah benar-benar bertambah. Ia justru berkurang, hari demi hari, tanpa bisa ditawar.

Di titik inilah awal tahun menjadi penting. Ia bukan sekadar penanda usia, melainkan undangan untuk menata ulang langkah. Menghitung kembali arah hidup: apa yang sedang kita kejar, dan apa yang sebenarnya sedang kita siapkan untuk masa depan yang lebih panjang dari sekadar dunia.

Al-Qur’an mengingatkan dengan kalimat yang jernih dan menenangkan, sekaligus menggugah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini terasa seperti cermin. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak setiap diri untuk jujur melihat bekal yang telah disiapkan. Bukan hanya tentang apa yang sudah kita capai, tetapi apa yang sudah kita persembahkan. Karena pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa sibuk kita berjalan, melainkan ke mana arah langkah itu menuju.

Refleksi awal tahun seharusnya tidak berhenti pada penyesalan. Ia harus berlanjut menjadi kesadaran. Dan kesadaran yang sejati akan mendorong perubahan. Mungkin tidak besar, tetapi nyata. Mungkin tidak ramai, tetapi konsisten.

Beramal lebih baik tidak selalu berarti melakukan hal-hal luar biasa. Ia bisa sesederhana bekerja lebih jujur, melayani dengan lebih tulus, berbagi dengan lebih ringan, dan menjaga lisan serta sikap di tengah perbedaan. Amal yang kecil, jika dilakukan dengan niat yang lurus dan istiqamah, sering kali justru memberi dampak yang paling panjang.

Awal tahun juga mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh ditunda. Tidak menunggu waktu lapang, tidak menunggu keadaan ideal, dan tidak menunggu orang lain memulai. Setiap hari adalah kesempatan untuk menambah amal, sekecil apa pun bentuknya.

Semoga awal tahun ini menjadi titik berangkat untuk hidup yang lebih tertata: niat yang lebih bersih, langkah yang lebih terarah, dan amal yang lebih bermanfaat. Karena sebaik-baik bekal bukanlah yang paling banyak terlihat oleh manusia, tetapi yang paling bernilai di hadapan Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak sekadar melewati waktu, tetapi benar-benar mengisinya dengan kebaikan.

_______________

Triyanto, S. Pd. 

Guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul. Ketua Majelis Tabligh PCM Jetis. 

Rabu, 17 Desember 2025

Gerakan Ayah Mengambil Rapor: Antara Harapan dan Realitas Kehidupan yang Beragam

 


Upaya menghadirkan peran ayah secara lebih aktif dalam pendidikan anak patut diapresiasi. Selama ini, keterlibatan pendidikan kerap dipersepsikan lebih dekat dengan peran ibu. Karena itu, gerakan ayah mengambil rapor ke sekolah dapat dipahami sebagai ikhtiar positif untuk menegaskan kembali bahwa ayah juga memiliki tanggung jawab moral dan emosional yang penting dalam tumbuh kembang anak.


Gerakan semacam ini membawa pesan keteladanan yang kuat. Kehadiran ayah di sekolah bukan sekadar urusan administratif, melainkan simbol perhatian, kepedulian, dan komitmen terhadap proses belajar anak. Dalam konteks ini, sekolah tentu menyambut baik setiap upaya yang mendorong keterlibatan orang tua secara lebih utuh.


Namun demikian, setiap kebijakan atau himbauan yang baik akan memiliki dampak yang lebih luas dan bermakna apabila disertai dengan kepekaan terhadap realitas keluarga yang beragam.


Di ruang-ruang kelas kita, ada anak yang pulang sekolah masih bisa menggenggam tangan ayahnya. Tetapi tidak sedikit pula yang sejak dini telah belajar tentang kehilangan. Anak yatim, atau anak yang ayahnya telah wafat, hidup dalam realitas yang tidak sama. Bagi mereka, narasi tentang “ayah mengambil rapor” bisa menyentuh ruang batin yang sangat personal jika tidak disampaikan dengan pendekatan yang tepat.


Karena itu, persoalan utamanya bukan pada niat gerakan ini—sebab niatnya jelas baik dan mulia—melainkan pada bagaimana kebijakan tersebut diimplementasikan dan dikomunikasikan di satuan pendidikan.


Sekolah berada pada posisi strategis sebagai perpanjangan tangan kebijakan, sekaligus sebagai ruang aman bagi seluruh peserta didik. Maka, penting bagi sekolah dan guru untuk menyertai setiap himbauan dengan narasi yang menenangkan dan inklusif. Tanpa itu, pesan yang sejatinya mendorong partisipasi justru berpotensi menimbulkan rasa berbeda, rasa kurang, atau beban psikologis bagi sebagian anak dan keluarga.


Pendidikan sejatinya adalah ruang yang memanusiakan. Setiap anak datang dengan latar belakang keluarga yang unik, dan semuanya layak dihargai secara setara. Maka, pesan yang perlu ditegaskan bersama adalah bahwa kehadiran ayah sangat dianjurkan dan bernilai, namun ketiadaan ayah bukanlah kekurangan anak, dan bukan pula penghalang bagi tumbuhnya prestasi dan karakter.


Ayah dan ibu adalah dua peran yang saling melengkapi. Jika ayah dapat hadir mengambil rapor, itu merupakan kebaikan yang patut diapresiasi. Jika ibu yang hadir, itu juga sepenuhnya baik. Jika yang datang adalah wali, kakek, nenek, atau pengasuh, maka itulah wujud tanggung jawab dan kasih sayang yang tak kalah mulia.


Dengan pendekatan demikian, gerakan ayah mengambil rapor akan lebih bermakna jika diposisikan sebagai ajakan yang inspiratif, bukan standar tunggal. Sebagai penguatan nilai, bukan tekanan. Sebagai pintu dialog antara sekolah dan keluarga, bukan sekadar kehadiran fisik atau dokumentasi kegiatan.


Pada akhirnya, ikhtiar terbaik bagi masa depan anak tidak semata ditentukan oleh siapa yang datang mengambil rapor, tetapi oleh siapa yang sungguh-sungguh peduli, mendampingi proses belajarnya, serta mendoakan dan menuntunnya dengan penuh kasih sayang.



Triyanto, S. Pd.

Wakil Kepala Sekolah SDUA Bantul

Senin, 24 November 2025

Refleksi Hari Guru: Menjaga Kemuliaan, Mengukuhkan Integritas

Oleh: Triyanto, S. Pd.


Setiap peringatan Hari Guru selalu membawa kita pada dua perasaan yang saling menguatkan: rasa bangga dan rasa perlu berbenah. Bangga, karena menjadi guru adalah jalan mulia yang tidak diberikan kepada semua orang. Dan perlu berbenah, karena amanah yang kita sandang tidak akan pernah lepas dari ujian, terutama di zaman ketika integritas mudah diuji oleh tekanan, tuntutan, dan godaan zaman.

Sebagai guru—terlebih di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah—kita selalu diingatkan oleh sabda Nabi ﷺ tentang tiga amal jariyah yang tidak terputus meski seorang hamba wafat. Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Di sinilah letak keistimewaan profesi ini: setiap huruf yang kita ajarkan, setiap kebiasaan baik yang kita tanamkan, setiap karakter mulia yang kita dampingi tumbuh—semua itu bukan sekadar pekerjaan, tetapi peluang emas menuju keberkahan dan kemuliaan akhirat.

Namun, menjadi guru hari ini tidak cukup hanya bersemangat mengajar. Integritas kita diuji hampir setiap hari. Di era digital yang serba cepat, guru bukan hanya dinilai dari kecerdasan akademik atau kemampuan mengajar, tetapi dari keteladanan dalam perilaku, ucapan, dan jejak digital yang kita tinggalkan. Guru, disadari atau tidak, selalu diamati: oleh murid, orang tua, masyarakat, bahkan oleh sistem yang terus berkembang. Kadang beban ini terasa berat—tetapi justru di situlah kemuliaan profesi ini diuji.

Hari Guru bukan hanya momen menerima ucapan “terima kasih”. Lebih dari itu, ia adalah ruang tafakur: sejauh mana kita menjaga nama baik profesi ini? Sejauh mana kita menjaga adab, kesopanan, dan kepantasan sebagai pendidik? Sejauh mana kita memastikan bahwa murid-murid kita mendapatkan bukan hanya ilmu, tetapi juga keteladanan?

Jangan sampai kita hanya bangga menyebut profesi guru sebagai ladang amal jariyah, tetapi lupa bahwa ladang itu hanya subur bila dijaga dari hama: ketidakjujuran, kemalasan, sikap tidak peduli, atau ketidaktertiban. Integritas bukan sekadar slogan, tetapi napas panjang yang harus kita hidupi setiap hari—sekalipun tidak ada yang melihat.

Hari Guru adalah pengingat bahwa menjadi guru bukan profesi biasa. Ia adalah amanah panjang yang menuntut kesungguhan. Ia adalah kebanggaan yang harus dirawat dengan kedisiplinan dan akhlak. Ia adalah peluang menuju kemuliaan, tetapi juga medan evaluasi atas komitmen kita pada nilai-nilai Islam, nilai-nilai pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Maka mari melangkah dengan dua sikap sekaligus: bangga, karena kita diberi kesempatan memanen pahala tanpa batas. Dan waspada, agar kemuliaan itu tidak tergerus oleh kelalaian kita sendiri.

Selamat Hari Guru. Semoga Allah menunjuki kita untuk terus menjaga integritas, merawat niat ikhlas, dan meneguhkan langkah sebagai pendidik yang benar-benar membawa manfaat bagi umat.


✒️

_Penulis adalah Guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul dan Ketua Komunitas Belajar Guru Kelas 3 Kapanewon Bantul_

Selasa, 18 November 2025

Menjadi Guru Muhammadiyah Hari Ini: Antara Amanah, Kesadaran, dan Harapan

Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113


Hari ini, bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-113, kita diajak kembali merenungkan satu hal mendasar: sudahkah kita mendidik sebagaimana yang dicita-citakan Kiai Ahmad Dahlan? Pertanyaan ini sederhana, tetapi mampu menyentak kesadaran kita. Sebab menjadi guru atau pegawai di Amal Usaha Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan rutinitas. Kita sedang memikul amanah dakwah dan peradaban.


Setiap pagi ketika memasuki kelas atau ruang kerja, sejatinya kita sedang menapaki jejak panjang perjuangan. Di depan kita ada peserta didik dan masyarakat yang Allah titipkan. Tugas kita lebih dari sekadar menyampaikan materi atau menyelesaikan pekerjaan administratif. Kita ditugasi membentuk akhlaq, menanamkan nilai Islami yang berkemajuan, serta menghadirkan keteladanan yang hidup. Di situlah letak istimewanya: pekerjaan kita adalah ibadah, dan ibadah kita adalah pelayanan.


Kita belajar dari teladan Kiai Ahmad Dahlan yang mengajar dengan ketulusan luar biasa di serambi rumah kecil Kauman. Tidak ada fasilitas modern, tidak ada sorotan publik, tetapi ada keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Hari ini kita bekerja di lingkungan yang jauh lebih lengkap—kelas yang nyaman, teknologi yang mendukung, organisasi yang mapan—namun tantangannya tetap sama: mampukah kita menjaga ketulusan itu?


Milad Muhammadiyah mengingatkan bahwa gerakan ini berdiri bukan karena banyaknya seremonial, tetapi karena kokohnya kerja-kerja sunyi para pendidik dan pegiat amal usaha. Guru-guru yang sabar menuntun huruf demi huruf, ustaz-ustazah yang memperbaiki wudu anak-anak, tenaga administrasi yang menjaga keteraturan, pimpinan yang merawat marwah lembaga—semuanya adalah penerus cahaya perjuangan Kiai Dahlan.


Di tengah dunia yang semakin bising, penuh distraksi digital, dan tantangan moral yang kian kompleks, kita dituntut hadir bukan hanya sebagai tenaga profesional, tetapi juga sebagai figur teladan. Kita perlu menjadi pribadi yang sabar, jujur, disiplin, dan menyemai kasih dalam setiap interaksi. Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia dalam sekejap, tetapi kita bisa menghadirkan ketenangan dan nilai dalam ruang-ruang yang kita layani setiap hari.


Pada akhirnya, Milad ke-113 ini adalah ajakan untuk menata niat, memperbaiki langkah, dan merapatkan barisan. Kita mungkin lelah, mungkin merasa belum sempurna, tetapi selama kita terus menjaga ruh ikhlas dan komitmen, kita telah menjadi bagian penting dari mata rantai dakwah Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah, klinik, panti asuhan, kantor layanan, hingga ruang-ruang kecil pekerjaan kita, ada cahaya yang terus tumbuh.


Selamat Milad Muhammadiyah ke-113. Semoga Allah menjaga keteguhan kita dalam mengabdi. Semoga setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini menjadi bagian dari terang besar yang menerangi masa depan umat dan bangsa. Mari melanjutkan jejak Kiai Dahlan dengan kerja nyata, hati yang bersih, dan barisan yang rapi. 


Triyanto, S. Pd.

Wakil Kepala Sekolah SDUA Bantul

Senin, 10 November 2025

Meneladani Semangat Pahlawan

 


Oleh: Triyanto, S. Pd.


Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai momentum mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi tanah air. Namun, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan nostalgia belaka. Ia harus menjadi cermin bagi kita untuk merefleksikan makna kepahlawanan dalam kehidupan masa kini, terutama dalam bingkai spiritualitas dan keimanan.


Di medan pertempuran Surabaya tahun 1945, kita menyaksikan keberanian luar biasa dari para pemuda yang tak gentar menghadapi kekuatan kolonial. Mereka bukan hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak yang harus diperjuangkan, bahkan jika harus dibayar dengan nyawa. Dalam konteks religius, pengorbanan mereka mencerminkan nilai-nilai keikhlasan dan jihad fi sabilillah—berjuang di jalan kebenaran demi kemaslahatan umat.


Pahlawan sejati bukan hanya mereka yang gugur di medan perang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun bisa menjadi pahlawan: guru yang sabar mendidik generasi muda, petani yang tekun menanam harapan di ladang, atau anak muda yang menjaga integritas di tengah godaan zaman. Kepahlawanan adalah tentang keberanian moral, tentang memilih jalan yang benar meski sulit, dan tentang memberi tanpa pamrih.


Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)


Ayat ini mengingatkan kita bahwa pengorbanan di jalan kebaikan tidak pernah sia-sia. Para pahlawan yang telah mendahului kita mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan, dan kita yang masih hidup memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan mereka—dengan cara kita masing-masing.


Hari Pahlawan adalah panggilan untuk bangkit dari keacuhan. Ia mengajak kita untuk menyalakan kembali semangat cinta tanah air, memperkuat solidaritas sosial, dan menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa hidup ini adalah ladang amal. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih berani, dan lebih bertakwa.


Karena pada akhirnya, pahlawan bukan hanya dikenang karena keberaniannya, tetapi karena cintanya yang tulus kepada bangsa dan Tuhannya.

Selasa, 04 November 2025

Puisi: Aku Masih Belajar


Aku Masih Belajar

Oleh: Triyanto M. Faraz


Aku bukan cahaya,

hanya lilin kecil yang mencoba menerangi sekitarnya.

Kadang apinya redup,

kadang nyalanya tertiup lelah dan waktu.


Setiap pagi aku melangkah ke ruang kelas,

membawa harapan, juga rasa takut.

Takut bila ilmu yang kubagi

belum sampai pada hati yang kucintai.


Anak-anak datang dengan dunia mereka masing-masing,

ada tawa, ada luka, ada tanya yang belum terjawab.

Aku belajar dari mata mereka,

tentang kesabaran, tentang makna pengabdian.


Bukan aku yang selalu tahu segalanya,

merekalah yang sering mengajariku tentang hidup.

Tentang bagaimana jatuh, lalu bangkit;

tentang bagaimana berani bermimpi, meski langit mendung.


Dan di setiap ujung hari,

aku menundukkan kepala, berdoa lirih:

Ya Allah, jadikan pekerjaanku ini ibadah,

jadikan setiap kata yang terucap jadi cahaya,

bukan bara yang membakar hati mereka.


Aku bukan guru yang sempurna,

aku hanya murid yang tak berhenti belajar—

belajar mencintai,

belajar mengerti,

belajar menjadi manusia yang berguna.

Minggu, 26 Oktober 2025

Pelajaran Hidup dari Laron

Oleh: Triyanto, S. Pd.

Setiap awal musim hujan, kita sering menyaksikan pemandangan menarik yang menandai datangnya kehidupan baru. Saat malam hari di sekitar lampu rumah, atau di pagi hari ketika embun masih menggantung dan matahari masih malu-malu menampakkan diri, ribuan laron tampak beterbangan. Mereka berputar di udara, seakan berpesta menyambut turunnya hujan. Tak lama kemudian, satu per satu jatuh ke tanah, sayap-sayapnya rontok, dan sebagian besar mati. Sekilas tampak sederhana, bahkan sepele. Namun bila kita mau merenung sejenak, laron menyimpan pelajaran hidup yang dalam tentang tujuan, kesungguhan, dan arti sebuah momen.

Laron sejatinya bukan hewan lain, melainkan rayap dewasa yang telah melewati proses panjang di dalam tanah. Setelah tubuhnya matang dan sayapnya tumbuh, ribuan laron keluar serentak dari sarang pada waktu yang sama, biasanya setelah hujan pertama turun. Mereka tak pernah berlatih terbang, tak pernah diuji oleh induknya, namun ketika waktunya tiba, mereka langsung mengepakkan sayap dan melayang di udara dengan sempurna. Ini terjadi karena sistem saraf dan otot mereka sudah diprogram oleh alam—oleh Sang Pencipta—untuk melaksanakan satu tugas besar: mencari pasangan hidup dan membangun koloni baru.

Menariknya, kemampuan terbang itu hanya digunakan sekali seumur hidup. Setelah mendarat dan menemukan pasangan, laron dengan sendirinya melepaskan sayapnya. Ia tidak akan terbang lagi. Sejak saat itu, ia berubah menjadi raja dan ratu rayap yang mengabdikan hidupnya di bawah tanah. Secara ilmiah, hal ini menunjukkan bahwa laron tak perlu latihan karena terbang bukan kebiasaannya, melainkan misi sekali jalan. Fungsinya jelas, waktunya terbatas, dan semuanya sudah diatur dengan sempurna. Sementara burung dan hewan lain butuh latihan karena terbang adalah bagian dari keseharian mereka. Setiap makhluk memang diciptakan dengan kadar, peran, dan petunjuknya masing-masing. Allah telah menetapkan, “Yang menciptakan lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (setiap sesuatu) lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A‘la: 2–3)

Laron mengajarkan kita tentang arti kesempatan. Ia hanya memiliki momen singkat di udara, tetapi justru pada saat itulah masa depan koloni barunya ditentukan. Ia tidak mengeluh, tidak menunda, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Banyak manusia diberi waktu panjang, namun sering ragu dan menunda-nunda langkah. Laron hanya punya waktu sebentar, tapi ia menuntaskan tugas hidupnya dengan kesungguhan. Dari makhluk kecil ini kita belajar bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang panjang, melainkan yang dijalani dengan penuh tujuan.

Ketika kita masih memiliki “sayap waktu” dalam hidup ini, gunakanlah sebaik mungkin untuk terbang menuju kebaikan. Karena kita tidak tahu kapan sayap itu akan lepas, dan kesempatan untuk menunaikan tugas akan berakhir. Hidup tidak harus lama untuk berarti; cukup dijalani dengan niat yang tulus dan kesungguhan yang penuh, agar ketika waktunya tiba untuk menapak bumi, kita meninggalkan jejak kebaikan yang tumbuh seperti koloni baru kehidupan.

Minggu, 19 Oktober 2025

Majelis Tabligh PCM Jetis Gelar Pelatihan Khatib: Menyiapkan Dai Pencerah di Mimbar Jumat

 


Jetis, 19 Oktober 2025 — Dalam upaya menyiapkan kader khatib yang mumpuni dan berjiwa dakwah mencerahkan, Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis menyelenggarakan Pelatihan Khatib yang diikuti 32 peserta. Mereka merupakan perwakilan dari empat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), takmir masjid, serta guru-guru SD Muhammadiyah Blawong 1.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua PCM Jetis, Endro Suwarno, S.E. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya peran khatib Jumat sebagai ujung tombak dakwah yang membimbing umat dengan ilmu, keteladanan, dan tutur yang menyejukkan.

  


Pelatihan hari pertama menghadirkan pemateri dari Majelis Tabligh PDM Bantul, yang membawakan materi Dasar-Dasar Khutbah dan Teknik Penyampaian Khutbah. Peserta diajak memahami rukun dan syarat khutbah Jumat secara fikih, sekaligus dilatih dalam teknik penyampaian yang efektif agar pesan dakwah lebih menyentuh jamaah.

Ketua panitia kegiatan yang juga Ketua Majelis Tabligh PCM Jetis, Triyanto, S.Pd., menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang dalam dua tahap.


“Pertemuan pertama fokus pada pemahaman dasar dan teori, sedangkan pertemuan kedua pada Ahad, 26 Oktober 2025, seluruh peserta akan berlatih praktik khutbah secara langsung,” jelasnya.

Triyanto menambahkan, pelatihan ini merupakan bagian dari langkah nyata PCM Jetis dalam memperkuat kaderisasi dai dan khatib di tingkat ranting dan masjid.

“Kami berharap para peserta tidak hanya mampu berkhutbah dengan benar, tetapi juga menghadirkan pesan yang mencerahkan dan membangun kesadaran sosial umat,” imbuhnya.

Melalui pelatihan ini, Majelis Tabligh PCM Jetis berkomitmen melahirkan khatib-khatib muda yang siap menjadi dai pencerah di mimbar Jumat. khatib yang bukan sekadar berbicara, melainkan menanamkan nilai Islam berkemajuan di tengah kehidupan masyarakat.








Selasa, 07 Oktober 2025

Panitia Semarak Milad Muhammadiyah PCM Jetis Audiensi dengan Panewu Jetis

Jetis, 7 Oktober 2025 – Panitia Semarak Milad ke-113 Muhammadiyah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis melakukan audiensi dengan Panewu Jetis pada Selasa siang (7/10) di kantor Kapanewon Jetis.

Rombongan panitia dipimpin langsung oleh Endro Suwarno, Ketua PCM Jetis, bersama jajaran panitia milad yang terdiri atas Triyanto (Ketua Panitia), Edi Hartanto (Wakil Ketua), Sri Puji Lestari (Bendahara Panitia), dan Decky Nano Suwarno (Perwakilan KOKAM). Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Panewu Jetis, Bapak Anwar Nur Fahrudin, beserta jajaran.

Dalam kesempatan tersebut, Triyanto, selaku Ketua Panitia Milad, memaparkan rencana kegiatan puncak Milad Muhammadiyah tingkat PCM Jetis yang akan digelar dalam bentuk Jalan Sehat Kebangsaan pada Ahad, 16 November 2025. Acara ini direncanakan berpusat di halaman Kapanewon Jetis sebagai titik start dan finis.

“Jalan sehat ini kami desain sebagai ajang silaturahmi warga Jetis lintas kalangan. Kegiatannya terbuka untuk umum, dan kami menargetkan sekitar 1.500 peserta dari berbagai unsur masyarakat,” jelas Triyanto.

Sebagai bentuk apresiasi dan daya tarik kegiatan, panitia menyiapkan berbagai doorprize menarik, di antaranya tiga ekor kambing, kulkas, dan TV Android 24 inci. Selain itu, acara juga akan diisi dengan hiburan pentas seni, bazar, dan juga launching Gowesmu. 

Panewu Jetis, Anwar Nur Fahrudin, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif PCM Jetis yang mengemas semangat milad Muhammadiyah dengan kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.

“Kami sangat menyambut baik agenda ini. Semoga berjalan lancar dan mampu mempererat kebersamaan warga Jetis, sekaligus menumbuhkan semangat hidup sehat dan ukhuwah di tengah masyarakat,” ujar beliau.

Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi. Panitia berharap dukungan penuh dari pihak Kapanewon serta instansi terkait demi suksesnya kegiatan Semarak Milad Muhammadiyah PCM Jetis 2025.

Sebagai penutup, panitia mengajak seluruh warga Jetis dan sekitarnya untuk berpartisipasi dalam Jalan Sehat Kebangsaan pada Ahad, 16 November 2025 mendatang. Melalui kegiatan ini diharapkan tumbuh semangat persaudaraan, kebugaran, dan rasa syukur atas perjalanan panjang dakwah Muhammadiyah yang terus membawa pencerahan bagi umat dan bangsa.



Rabu, 01 Oktober 2025

Pancasila Itu Sakti, Tapi Bukan Seperti Superhero


Oleh: Triyanto, S. Pd.

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Bagi anak-anak, kata kesaktian sering terbayang seperti di film kartun: ada superhero yang punya jurus ajaib atau naga yang bisa mengeluarkan api. Padahal, makna kesaktian Pancasila bukanlah kesaktian seperti di dunia fantasi.

Kesaktian Pancasila artinya Pancasila terbukti kuat dan kokoh menjaga Indonesia. Dulu, pernah ada kelompok yang ingin mengganti Pancasila dengan paham komunisme, yang jelas bertentangan dengan keyakinan bangsa kita, terutama umat Islam. Itu terjadi pada tahun 1965. Alhamdulillah, Pancasila tetap tegak berdiri dan menjadi dasar negara kita. Karena itulah, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai tanda syukur dan pengingat bahwa Pancasila tidak bisa digantikan.

Kalau kita perhatikan, isi Pancasila sangat dekat dengan ajaran agama. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sejalan dengan Tauhid dalam Islam, yaitu hanya menyembah Allah semata. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengajarkan kita berbuat baik dan adil kepada sesama. Sila-sila berikutnya pun mengajak kita hidup rukun, saling menolong, bermusyawarah, dan menjaga keadilan.

Jadi, Pancasila itu sakti bukan karena ada Garuda yang punya kekuatan gaib, tapi karena nilai-nilainya mampu menyatukan bangsa yang besar dan beragam ini. Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke ada ribuan pulau, banyak bahasa, suku, dan budaya, tetapi kita bisa hidup bersama dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Itu semua karena kita sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

Untuk anak-anak Indonesia, memperingati Hari Kesaktian Pancasila berarti belajar mencintai negeri ini dengan cara sederhana: rajin belajar, beribadah dengan taat, hormat kepada orang tua dan guru, serta berteman tanpa membeda-bedakan. Dengan begitu, kita ikut menjaga Pancasila tetap hidup dalam keseharian kita.

Pancasila itu sakti. Bukan karena jurus superhero, tetapi karena ia berisi kebaikan yang sesuai dengan fitrah manusia dan ajaran agama. Selama kita memegangnya teguh, Indonesia akan selalu kuat, rukun, dan sejahtera.

InsyaAllah. *

Kamis, 25 September 2025

Mensyukuri Kehidupan

Oleh: Triyanto M. Faraz

Hidup adalah karunia Allah yang begitu agung. Setiap detik yang kita lalui sejatinya adalah hadiah, meski seringkali kita tidak menyadarinya. Saat tubuh masih bisa berdiri tegak, lidah masih bisa mengucap kata, mata masih bisa memandang terang, sesungguhnya kita sedang berenang dalam lautan nikmat. Namun seringkali, kita lebih mudah mengingat kekurangan, kesulitan, dan penderitaan daripada mensyukuri apa yang sudah dimiliki.

Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَاۗ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Ayat ini menegaskan, betapapun kita berusaha menghitung nikmat Allah, hasilnya akan selalu tak terjangkau. Bahkan dalam keadaan sakit, lemah, atau kesulitan, sejatinya nikmat-Nya tetap jauh lebih banyak dibandingkan ujian yang menimpa kita.

Kerap kali kita baru benar-benar merasakan betapa berharganya nikmat setelah nikmat itu hilang. Sehat baru terasa berharga ketika sakit datang. Waktu luang baru terasa bermakna ketika usia sudah menua dan tenaga tidak lagi sama. Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengingatkan kita untuk tidak menunda rasa syukur. Kesempatan beribadah, belajar, menebar kebaikan, atau sekadar menyapa dengan senyum—semuanya adalah nikmat yang bisa jadi esok sudah tak ada lagi.

Maka menikmati hidup bukan berarti hidup tanpa ujian, tetapi hidup dengan kesadaran bahwa setiap keadaan adalah anugerah. Ketika kuat, kita bersyukur karena bisa berkarya. Ketika lemah, kita bersyukur karena diberi waktu untuk beristirahat dan merenung. Ketika mendapat rezeki, kita bersyukur karena bisa berbagi. Ketika diuji kesempitan, kita bersyukur karena diberi kesempatan untuk mendekat pada Allah.

Syukur juga bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, tetapi kesadaran hati yang diwujudkan dengan amal. Allah ﷻ berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini memberi janji sekaligus peringatan. Janji bahwa syukur membuka pintu nikmat yang lebih luas, dan peringatan bahwa mengingkari nikmat justru mendatangkan murka.

Dengan demikian, marilah kita belajar mensyukuri setiap detik kehidupan. Jangan hanya menunggu momen besar untuk bersyukur. Nikmat sederhana—seperti bisa bangun pagi, bisa meneguk air, bisa sujud dengan tenang—itu semua adalah harta tak ternilai. Jika hati dilatih melihat nikmat dalam hal-hal kecil, maka hidup akan terasa lapang meski dalam keadaan sulit.

Hidup ini singkat. Detik yang lewat tidak akan pernah kembali. Maka mari jadikan setiap detik yang Allah titipkan sebagai kesempatan untuk bersyukur, berbuat baik, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebab, bisa jadi hari ini adalah detik terakhir yang kita miliki. 


Jumat, 05 September 2025

Menjaga Kerapian Tulisan Tangan di Era Digital


Oleh: Triyanto, S. Pd. 


Tulisan tangan adalah salah satu keterampilan dasar yang seolah sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam proses belajar anak. Dari situlah mereka menuangkan ide, mencatat pelajaran, hingga mengerjakan soal. Sayangnya, kini semakin banyak kita jumpai tulisan tangan siswa SD yang kurang rapi, bahkan kadang sulit dibaca. Kondisi ini tentu patut menjadi perhatian kita bersama, sebab kerapian menulis erat kaitannya dengan kerapian berpikir.


Jika kita menengok ke masa lalu, suasana kelas begitu berbeda. Guru berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan, menuliskan huruf demi huruf di papan tulis hitam. Tulisan itu biasanya rapi, jelas, dan penuh ketelitian, karena menulis dengan kapur menuntut kehati-hatian: debunya mudah berantakan, goresannya tidak bisa terlalu cepat. Siswa pun terbiasa mengamati tulisan rapi guru mereka, lalu menirukan dalam buku tulis. Ada proses pembiasaan yang secara tidak sadar melatih ketelitian dan kesabaran anak-anak.


Kini, pemandangan itu mulai jarang terlihat. Hampir semua kelas beralih ke whiteboard dengan spidol, bahkan lebih sering lagi bergantung pada layar proyektor. Menulis dengan spidol relatif lebih cepat, lebih mudah dihapus, dan tidak menimbulkan debu. Namun, justru karena itulah tulisan guru seringkali seadanya, tanpa terlalu memperhatikan kerapian. Anak-anak yang menyalin pun cenderung meniru gaya itu: cepat menulis, asal jadi, tanpa latihan menjaga kerapian. Perubahan media pembelajaran ini, walau praktis dan modern, sedikit banyak ikut memengaruhi kualitas tulisan tangan generasi sekarang.


Selain itu, kita juga tidak bisa menutup mata pada pengaruh gawai dan perangkat digital. Anak-anak lebih akrab dengan layar sentuh ketimbang kertas dan pensil. Jari mereka luwes saat menggeser layar, tetapi sering kaku ketika diminta menulis huruf dengan bentuk yang benar. Akibatnya, keterampilan dasar menulis tangan yang dulu sangat ditekankan, kini mulai terpinggirkan.


Padahal, tulisan tangan rapi bukan hanya soal keindahan, melainkan juga melatih fokus, kedisiplinan, dan kejelasan dalam menyampaikan gagasan. Jika anak terbiasa menulis rapi sejak kecil, besar kemungkinan ia juga terbiasa berpikir lebih terstruktur.


Bismillah, sebagai ikhtiar kecil memperbaiki kebiasaan menulis tangan siswa, kami menghadirkan buku belajar menulis rapi. Buku ini dirancang sederhana, mudah dipakai untuk siswa SD kelas awal, bahkan cocok juga untuk anak usia TK.


Semoga kehadiran buku ini membawa manfaat nyata. File buku kami bagikan gratis bagi siapa saja yang menghendaki. Semoga menjadi amal jariyah bagi penyusun, dan menjadi salah satu upaya bersama untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga teliti dan rapi dalam setiap goresan pena.

Rabu, 20 Agustus 2025

Masjid Sepi, Iman yang Layu


Fenomena yang sering kita jumpai di banyak kampung hari ini adalah masjid yang sepi jamaah. Tidak semua, tentu. Ada beberapa masjid yang tetap hidup makmur jamaah fardlu lima waktu, semarak pengajian bahkan tempat belajar mengaji anak-anak (TPA). Namun, mari jujur melihat kenyataan: di sebagian besar masjid, shalat berjamaah lima waktu sering hanya diisi oleh segelintir orang, itu pun mayoritas kaum sepuh. 


Kehadiran remaja dan pemuda? Hampir tak terlihat. Anak-anak kadang ramai di masjid, tapi hanya saat Ramadhan itu pun hanya di awal bulan. Selebihnya, masjid kembali lengang. Jika keadaan ini dibiarkan, masjid berpotensi berubah fungsi hanya menjadi bangunan fisik yang megah tapi kehilangan denyut sosial dan spiritual.


Sepinya jamaah masjid bukan sekadar persoalan absennya tubuh-tubuh muslim di saf shalat, tapi cermin semangat berislam yang kian meredup. Islam tidak hanya diajarkan untuk diyakini, tapi untuk dihidupi. Dan shalat berjamaah adalah salah satu indikator nyata. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian. Jika keutamaan sebesar itu saja tidak menggugah hati, maka jelas ada yang salah dengan pola keberagamaan kita hari ini.


Masyarakat kampung yang dulu dikenal religius pun mulai kehilangan ruh kebersamaan di masjid. Faktor penyebabnya tentu beragam: kesibukan mencari nafkah, daya tarik hiburan digital, minimnya teladan dari tokoh muda, hingga kurang kreatifnya pengelolaan masjid. Namun, alasan apa pun tidak bisa menutupi kenyataan pahit: masjid sepi jamaah adalah tanda alarm spiritual umat.


Karena itu, perlu ada gerakan yang lebih sungguh-sungguh untuk menghidupkan kembali masjid. Tak cukup sekadar membangun fisik megah dengan menara tinggi, tetapi menumbuhkan ruh dakwah yang menggembirakan. Remaja dan pemuda harus dilibatkan, bukan hanya ditempatkan sebagai penonton. Masjid harus menjadi pusat kehidupan, tempat ilmu, diskusi, olahraga, hingga kreativitas. Semangat dakwah mesti tampil dengan wajah yang ramah, segar, dan penuh optimisme, bukan sekadar khutbah panjang yang membosankan.


Masjid adalah rumah kita bersama. Jika ia sepi, itu berarti rumah iman kita sendiri sedang keropos. Maka, mari bergandengan tangan, dari para takmir, tokoh agama, orang tua, hingga pemuda, untuk kembali memakmurkan masjid. Shalat berjamaah bukan hanya ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan kekuatan umat. Jika masjid ramai, insyaAllah iman kita pun kembali menyala.

Selasa, 19 Agustus 2025

Akhlak di Era Digital: Tantangan Serius di Tengah Dunia yang Serba Cepat

Oleh: Triyanto M. Faraz


Kita hidup di zaman yang serba cepat. Dengan satu sentuhan layar, berita dari belahan dunia bisa langsung kita baca. Dengan satu unggahan, seseorang bisa terkenal dalam semalam. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan terkikis: akhlak.


Dalam Islam, akhlak bukan sekadar sopan santun di depan orang lain. Akhlak adalah cermin keimanan: bagaimana kita menjaga hati, lisan, mata, telinga, dan jari agar selalu berada di jalan yang diridhai Allah. Rasulullah ﷺ pernah menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad). Jadi, inti risalah Islam sebenarnya adalah pendidikan akhlak.


Lalu, bagaimana nasib akhlak di tengah dunia digital yang riuh ini?


Ketika Buruk Jadi Biasa

Media sosial ibarat panggung besar. Semua orang bebas tampil, entah dengan kebaikan atau keburukan. Masalahnya, perilaku buruk sering kali justru ditonton lebih banyak orang. Komentar pedas, gosip, pamer berlebihan, bahkan konten yang jelas-jelas melanggar norma agama, bisa mendapat jutaan “like”.


Akhirnya, yang salah terasa biasa. Yang memalukan dianggap lucu. Yang seharusnya dijaga justru dipamerkan. Padahal Allah sudah mengingatkan: “Tiada satu kata pun yang terucap melainkan ada malaikat pengawas yang selalu siap.” (QS. Qaf: 18). Kalau lisan saja diawasi, apalagi jari yang mengetik dan membagikan konten.


Idola Baru yang Tak Selalu Patut Ditiru

Generasi muda sekarang lebih kenal influencer daripada ulama. Lebih hafal jargon seleb TikTok daripada nasihat orang tuanya sendiri. Tidak semua figur publik buruk, tentu saja. Ada juga yang berdakwah dengan kreatif di dunia maya. Tapi faktanya, banyak anak belajar “nilai hidup” dari orang yang sukses secara materi, namun jauh dari akhlak Islami.


Akibatnya, ukuran sukses bergeser. Bukan lagi soal keberkahan atau ridha Allah, tapi seberapa banyak followers, seberapa viral, atau seberapa banyak endorse.


Filter Diri yang Rapuh

Ponsel di tangan sebenarnya seperti pisau tajam. Ia bisa dipakai untuk memasak kebaikan, tapi juga bisa melukai diri sendiri. Anak-anak (bahkan orang dewasa) sering sulit menahan diri. Awalnya hanya ingin menonton sebentar, tahu-tahu sudah larut berjam-jam di dunia maya.


Inilah pentingnya tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Bukan sekadar tahu mana yang benar dan salah, tapi mampu menahan diri dari yang salah meski tidak ada yang melihat. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabah) adalah benteng terbaik dalam menghadapi derasnya arus digital.


Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah. Kita butuh strategi nyata agar akhlak tetap hidup di tengah era digital.


1. Jangan kalah di ruang digital.

Dai, guru, dan orang baik harus hadir di media sosial. Jangan biarkan ruang digital hanya diisi konten kosong. Dakwah bisa dikemas dengan bahasa ringan, desain menarik, bahkan humor segar, tanpa kehilangan nilai.


2. Keluarga jadi benteng pertama.

Orang tua harus hadir, bukan sekadar secara fisik, tapi juga digital. Sesekali ikut nimbrung melihat apa yang ditonton anak, memberi contoh bagaimana bermedia dengan adab.


3. Ajarkan literasi digital Islami.

Literasi digital bukan sekadar tahu cara menggunakan aplikasi, tapi juga paham adabnya: apa yang boleh diunggah, apa yang tidak pantas dibagikan, dan apa konsekuensinya di dunia serta akhirat.


4. Perbanyak teladan nyata.

Anak-anak lebih mudah meniru daripada mendengar nasihat panjang. Kalau orang tua bisa menahan diri dari posting berlebihan, anak pun belajar. Kalau guru bisa mengendalikan diri di ruang digital, murid pun meniru.


Penutup

Era digital tidak bisa kita tolak. Ia sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan teknologi ini tidak mengikis akhlak, tapi justru memperkuatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi). Maka ukuran mulia di sisi Allah bukanlah seberapa canggih gawai kita, atau seberapa viral kita di dunia maya, tetapi seberapa indah akhlak kita, di dunia nyata maupun dunia digital.

Selasa, 05 Agustus 2025

Bimtek Pembelajaran Mendalam, Guru Kelas 3 Bantul Siap Berinovasi


Bantul, 5 Agustus 2025 — Sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan, guru-guru kelas 3 SD se-Kapanewon Bantul mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan oleh Koordinator Wilayah (Korwil) Kapanewon Bantul bertempat di Aula Korwil, Selasa (5/8). Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua K3S Kapanewon Bantul, Bapak Juwariyo, S.Pd., serta para Kepala Sekolah pendamping Kombel Guru Kelas 3.


Bimtek ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2025 yang menekankan pentingnya pembelajaran mendalam sebagai kunci peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dasar.


Narasumber dari Korwil Bantul menghadirkan materi-materi strategis yang disusun untuk menjawab tantangan pembelajaran masa kini. Ibu Tutik Saptiningsih, M.Pd., memaparkan arah kebijakan Kemendikdasmen terkait peningkatan kualitas pembelajaran, yang meliputi penerapan pembelajaran mendalam, integrasi 8 Kompetensi Lulusan, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penerapan koding dan kecerdasan artifisial di jenjang dasar, penyempurnaan asesmen melalui pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) bagi siswa kelas 6, Growth Mindset, serta kebijakan Hari Belajar Guru sebagai bentuk penguatan profesionalisme pendidik.


Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Umi Fatonah, M.Pd., yang memaparkan Capaian Pembelajaran edisi revisi 2025. Beliau menekankan pentingnya penerjemahan capaian tersebut ke dalam Tujuan Pembelajaran yang lebih spesifik dan kontekstual, serta penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang selaras dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.


Sebagai penguatan teknis, Bapak Andi Feri Wijayanto membimbing peserta dalam sesi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang efektif dan aplikatif. Sementara itu, Ibu Riel Widiastuti menyajikan strategi implementasi pembelajaran mendalam di kelas melalui metode inkuiri kolaboratif, yang mengajak para guru untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pencarian dan pembentukan pengetahuan bersama, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan berbagai pihak.

Kegiatan berlangsung dalam suasana semangat dan antusiasme tinggi. Untuk menjaga fokus dan energi peserta, sesi ice breaking yang interaktif diselipkan di sela-sela agenda, menciptakan suasana pelatihan yang cair namun tetap produktif.

Melalui Bimtek ini, diharapkan para guru kelas 3 SD di wilayah Kapanewon Bantul semakin siap menghadirkan pembelajaran yang bermutu, relevan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, sehingga dapat mencetak profil lulusan yang unggul dan berkarakter.

Triyanto, S.Pd.
Ketua Kombel Guru Kelas 3
Kapanewon Bantul



Sabtu, 02 Agustus 2025

Dari Asa Keunggulan, Menuju Generasi Terbaik: Refleksi Milad 19 Tahun SDUA Bantul


Tahun 2025 ini, SD Unggulan Aisyiyah (SDUA) Bantul menapaki usia ke 19 tahun. Sebuah perjalanan yang tak hanya panjang, tetapi sarat makna perjuangan dan cita-cita. Sekolah ini lahir dari gagasan Pimpinan Daerah Aisyiyah Bantul yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan pendiriannya, dengan harapan menghadirkan sebuah sekolah dasar yang unggul dalam iman, ilmu, dan amal.


Momentum dramatis pun sempat mewarnai proses pendirian, ketika persiapan menuju tahun ajaran baru hampir matang, Bantul justru diguncang gempa bumi dahsyat pada 27 Mei 2006. Di tengah suasana duka dan keterbatasan pasca-bencana, semangat mendirikan SDUA tidak surut. Guru-guru telah direkrut, calon siswa telah terdaftar, dan tekad pun semakin kuat. Maka, dua bulan setelah gempa, tepatnya Juli 2006, kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDUA resmi dimulai, dengan enam orang guru dan 34 siswa di angkatan perdana.


Langkah kecil penuh keberanian itu kini telah menjelma menjadi langkah besar yang membanggakan. SDUA terus bertumbuh, dipercaya masyarakat luas sebagai sekolah favorit di Bantul. Setiap tahunnya, animo pendaftaran calon siswa selalu tinggi. Bahkan awal bulan Agustus ini hanya dalam sehari setelah link inden calon siswa baru dibuka, lebih dari 200 calon siswa langsung mendaftar, berebut kesempatan untuk bergabung menjadi bagian dari keluarga besar SDUA.


Kini, dari awalnya hanya 34 siswa, SDUA telah berkembang dengan empat kelas paralel di setiap angkatan, menampung total 720 siswa. Prestasi akademik SDUA pun tak henti mengukir catatan gemilang, selalu berada di peringkat atas dalam nilai ASPD tingkat Kabupaten Bantul. Sementara di bidang non-akademik, prestasi anak-anak SDUA telah merambah dari tingkat Kapanewon hingga kancah Nasional.


Namun, SDUA didirikan bukan sekadar untuk mencetak juara lomba. Visi besar SDUA adalah mendidik anak-anak menjadi generasi shalih dan shalihah, yang kelak siap memegang estafet kepemimpinan umat dan bangsa. Pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang kokoh, dengan balutan pembelajaran inovatif dan penuh kasih sayang, menjadi ruh yang terus dijaga hingga hari ini.


Milad ke-19 ini menjadi momentum muhasabah dan syukur. Sebuah pengingat bahwa keberhasilan SDUA hari ini adalah hasil dari kerja keras, doa, dan sinergi banyak pihak—guru, orang tua, persyarikatan, dan seluruh masyarakat yang terus mendukung. Semoga SDUA Bantul senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keunggulannya, menyemai generasi terbaik, dan menghadirkan keberkahan bagi umat.


Triyanto, S. Pd.

Wakil Kepala Sekolah SDUA Bantul

Jumat, 01 Agustus 2025

Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SDUA Bantul Masa Bakti 2025-2029 Resmi Dikukuhkan

Bantul, 31 Juli 2025 — Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Bantul secara resmi mengukuhkan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SD Unggulan Aisyiyah (SDUA) Bantul untuk masa bakti 2025-2029. Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula SDUA Bantul dan disaksikan oleh para tamu undangan dari unsur Dinas Pendidikan, Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah-Aisyiyah, tokoh masyarakat, serta jajaran internal sekolah.


Suwardi, M.Pd. kembali dipercaya melanjutkan amanah sebagai Kepala Sekolah, menandai periode ketiganya dalam kepemimpinan SDUA Bantul. Sementara itu, Triyanto, S.Pd. resmi dikukuhkan sebagai Wakil Kepala Sekolah setelah sebelumnya mengemban tugas sebagai Kepala Urusan Keislaman dan Budaya.


Selain mengukuhkan Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah, Majelis PAUD Dasar dan Menengah (PAUD Dasmen) PDA Bantul juga mengukuhkan jajaran Kepala Urusan SDUA Bantul sebagai berikut:


1. Rudito Adani, M.Pd. – Kepala Urusan Personalia

2. Wawan Nuri Irtanto, M.S.I. – Kepala Urusan Sarana dan Prasarana

3. Aighta Jemila Seti, S.Pd. – Kepala Urusan Kurikulum

4. Dwi Hastuti Pungkasari, S.Pd.I. – Kepala Urusan Kesiswaan

5. Rr. Sinta Kusuma Ningrum, M.Pd.Si. – Kepala Urusan Humas dan Kerumahtanggaan


Momen pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi SDUA Bantul untuk terus mengukuhkan komitmennya sebagai sekolah unggulan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan berorientasi pada keunggulan mutu pendidikan.


Acara berlangsung dengan khidmat, diiringi doa dan harapan bersama agar jajaran pimpinan yang baru dikukuhkan senantiasa diberikan kekuatan dan kelapangan hati dalam menjalankan amanah demi kemajuan sekolah dan generasi penerus bangsa.



Minggu, 27 Juli 2025

SD Bantul Timur Gelar Pengajian PERAK Perdana, Orang Tua Siswa Antusias Hadir

Bantul — SD Negeri Bantul Timur memulai tradisi baru dengan menyelenggarakan Pengajian Rutin Ahad Kliwon (PERAK) yang perdana pada Ahad, 27 Juli 2025. Kegiatan ini dihadiri para orang tua siswa kelas 1 hingga 3 sebagai peserta awal, bertempat di aula sekolah.


Pengajian dibuka dengan tadarus Al-Qur’an bersama, dilanjutkan sambutan dari Kepala Sekolah, Ibu Wining Nurdiyah, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas antusiasme para orang tua yang hadir dan mendukung program ini. "Pengajian ini menjadi ikhtiar bersama sekolah dan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai Islami sejak dini. Karena keterbatasan tempat, kami merencanakan ke depan peserta akan bergantian, pertemuan berikutnya untuk orang tua siswa kelas 4-6," ungkapnya.


Sebagai penceramah perdana, Ust. Triyanto, S.Pd., menyampaikan taushiyah bertajuk Ikhtiar Mewujudkan Generasi Shalih. Dalam kajiannya, beliau mengawali dengan membacakan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa: 9 tentang pentingnya perhatian terhadap generasi penerus. Ust. Triyanto kemudian memaparkan tips orang tua dalam mendidik anak, serta mengajak hadirin untuk menanamkan iman, menegakkan sholat, membiasakan anak mengaji, dan menanamkan akhlaq Islami di rumah.


Agar suasana tetap hidup, pengajian diselingi dengan ice breaking tepuk 1-5 yang memancing keceriaan para peserta, serta sesi tanya jawab yang berlangsung hangat.


Kegiatan ditutup dengan doa bersama, memohon kesungguhan dan tawakkal dalam mendidik anak-anak agar kelak menjadi generasi yang shalih dan sukses dunia-akhirat.


Dengan terselenggaranya pengajian PERAK perdana ini, SD Negeri Bantul Timur berharap dapat mempererat sinergi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk generasi Islami yang berkarakter kuat.



Di Antara Detik yang Pergi

Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik d...