Hari Jumat kemarin, Faraz yang masih TK sebenarnya sudah izin tidak berangkat sekolah karena kondisi badannya kurang fit. Ia sedang agak batuk pilek. Namun di sisi lain, sejak pagi Faraz juga tampak bersemangat karena siang harinya pukul 13.30 ia akan ikut ibunya berangkat kemah.
Kebetulan ibunya menjadi panitia kegiatan kemah siswa MTsN
2 Bantul yang dilaksanakan di bumi perkemahan Lindhu Gedhe, Prambanan. Agar
Faraz bisa beristirahat dengan nyaman selama kegiatan berlangsung, ibunya
sampai menyewa tenda sendiri. Tenda itu dipakai Faraz untuk tidur, istirahat,
dan berbagai keperluan lainnya selama kemah.
Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Faraz pun
tampak senang menikmati suasana kemah dari Jumat siang hingga Ahad pagi. Baru
sekitar pukul 10.30 mereka pulang ke rumah.
Yang menarik justru
terjadi hari Senin.
Saat waktunya
berangkat sekolah, Faraz malah minta libur. Alasannya sederhana menurut
logikanya: sejak Jumat siang sampai Ahad dia ikut kemah, jadi merasa belum
punya waktu libur.
Namun yang membuat
kami tersenyum adalah cara Faraz menyampaikan alasannya.
Dengan wajah
serius, ia mencoba menghubungkan permintaannya dengan pelajaran agama dari
gurunya.
“Kata Bu Guru,
kalau orang sakit waktu puasa boleh tidak puasa… tapi gantinya di hari lain.”
Faraz sempat
berhenti beberapa detik, seperti sedang mencari susunan kalimat yang tepat.
Lalu ia melanjutkan dengan logikanya sendiri.
“Jadi kemarin aku
belum libur… sekarang gantinya libur.”
Kami pun menahan
senyum.
Begitulah cara anak
kecil memahami dunia. Polos, sederhana, tetapi kadang terasa sangat masuk akal
menurut versinya sendiri. Mereka menyerap pelajaran dari guru, lalu mencoba
menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dengan logika yang unik.
Dan dari hal-hal
kecil seperti itu, sering kali orang tua justru mendapat momen paling hangat
untuk dikenang.
Akhirnya, kami sebagai orang tua pun mengabulkan permintaan Faraz untuk tidak masuk sekolah hari itu. Kami juga menyampaikan hal tersebut kepada bu gurunya. Bukan semata karena ingin memanjakan, tetapi karena kami merasa sedang menikmati satu fase indah dari cara berpikir anak kecil yang polos, jujur, dan menggemaskan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar