Senin, 11 Mei 2026

Logika Faraz

Hari Jumat kemarin, Faraz yang masih TK sebenarnya sudah izin tidak berangkat sekolah karena kondisi badannya kurang fit. Ia sedang agak batuk pilek. Namun di sisi lain, sejak pagi Faraz juga tampak bersemangat karena siang harinya pukul 13.30 ia akan ikut ibunya berangkat kemah.

Kebetulan ibunya menjadi panitia kegiatan kemah siswa MTsN 2 Bantul yang dilaksanakan di bumi perkemahan Lindhu Gedhe, Prambanan. Agar Faraz bisa beristirahat dengan nyaman selama kegiatan berlangsung, ibunya sampai menyewa tenda sendiri. Tenda itu dipakai Faraz untuk tidur, istirahat, dan berbagai keperluan lainnya selama kemah.

Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Faraz pun tampak senang menikmati suasana kemah dari Jumat siang hingga Ahad pagi. Baru sekitar pukul 10.30 mereka pulang ke rumah.

Yang menarik justru terjadi hari Senin.

Saat waktunya berangkat sekolah, Faraz malah minta libur. Alasannya sederhana menurut logikanya: sejak Jumat siang sampai Ahad dia ikut kemah, jadi merasa belum punya waktu libur.

Namun yang membuat kami tersenyum adalah cara Faraz menyampaikan alasannya.

Dengan wajah serius, ia mencoba menghubungkan permintaannya dengan pelajaran agama dari gurunya.

“Kata Bu Guru, kalau orang sakit waktu puasa boleh tidak puasa… tapi gantinya di hari lain.”

Faraz sempat berhenti beberapa detik, seperti sedang mencari susunan kalimat yang tepat. Lalu ia melanjutkan dengan logikanya sendiri.

“Jadi kemarin aku belum libur… sekarang gantinya libur.”

Kami pun menahan senyum.

Begitulah cara anak kecil memahami dunia. Polos, sederhana, tetapi kadang terasa sangat masuk akal menurut versinya sendiri. Mereka menyerap pelajaran dari guru, lalu mencoba menerapkannya pada kehidupan sehari-hari dengan logika yang unik.

Dan dari hal-hal kecil seperti itu, sering kali orang tua justru mendapat momen paling hangat untuk dikenang.

Akhirnya, kami sebagai orang tua pun mengabulkan permintaan Faraz untuk tidak masuk sekolah hari itu. Kami juga menyampaikan hal tersebut kepada bu gurunya. Bukan semata karena ingin memanjakan, tetapi karena kami merasa sedang menikmati satu fase indah dari cara berpikir anak kecil yang polos, jujur, dan menggemaskan.

 

Selasa, 05 Mei 2026

Ikhtiar Kecil Menghidupkan Jamaah di Masjid

Sejak tahun 2013 saya tinggal di Dusun Turi. Sebelumnya, sejak kecil hingga dewasa, saya tumbuh di dusun Dahromo, Pleret. Dua tempat ini sama-sama lingkungan dusun/pedesaan, sama-sama masyarakatnya hangat. Namun ada satu hal yang sangat terasa berbeda bagi saya: suasana kehidupan masjid.

Di Dahromo, terkhusus di lingkungan sekitar rumah saya, ketika waktu sholat tiba, hampir seperti kesepakatan tak tertulis. Ayah, ibu, kakak, pakde, budhe, paklik, bulik dan tetangga kanan kiri—berbondong-bondong menuju masjid atau musholla untuk sholat berjamaah. Suasananya begitu hidup. Bahkan ada rasa “tidak enak” jika tidak ikut berjamaah. Masjid bukan sekadar bangunan, tapi benar-benar menjadi pusat kehidupan warga.

Ketika saya pindah ke Turi, saya mendapati suasana yang berbeda. Bukan berarti tidak ada kegiatan keagamaan. Pengajian tetap ada, bahkan jika ada acara tertentu, jamaah yang hadir cukup banyak. Namun untuk sholat fardhu berjamaah harian, jumlahnya sangat sedikit.

Masjid yang berada di RT 02 Dusun Turi pun demikian. Khususnya bapak-bapak, yang rutin berjamaah bisa dihitung dengan jari. Tidak tampak suasana yang “mengajak” secara sosial seperti yang dulu saya rasakan di Dahromo. Bahkan, tidak berjamaah pun terasa menjadi hal yang biasa.

Yang juga menjadi kegelisahan saya adalah minimnya keterlibatan pemuda. Sejak tahun 2013 hingga sekarang, 2026, saya belum melihat adanya aktivitas remaja masjid yang benar-benar hidup. Belum tampak pemuda yang rutin berjamaah, sekaligus memiliki kepedulian untuk mengajak dan menggerakkan teman-temannya agar turut meramaikan masjid.

Padahal, setahu saya, di banyak tempat justru ada sosok-sosok seperti itu—pemuda yang bukan hanya hadir, tetapi juga menjadi penggerak. Mereka yang memikirkan bagaimana masjid tetap hidup, bagaimana jamaah bertambah, dan bagaimana suasana kebersamaan itu terjaga.

Keberadaan pemuda seperti inilah yang sejatinya menjadi denyut nadi gerakan dakwah di tingkat paling bawah, di dusun. Dari merekalah semangat itu biasanya tumbuh, menyebar, dan perlahan menghidupkan lingkungan.

Bersyukur, belakangan ini ada satu dua anak usia SMP yang mulai tampak rajin ke masjid. Juga mulai ada anak-anak usia TK dan SD awal yang rajin ke masjid. Namun untuk pemuda usia matang yang biasanya menjadi motor penggerak kegiatan masjid, masih belum terlihat.

Secara latar kedekatan organisasi, warga Dusun Turi umumnya adalah warga Nahdlatul Ulama, sementara saya sendiri tumbuh dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah. Namun bagi saya pribadi, perbedaan ini bukanlah hal yang perlu dipersoalkan. Karena dalam urusan sholat berjamaah, ini bukan tentang latar organisasi, melainkan tentang ketaatan kita sebagai seorang muslim kepada Allah.

Setelah lebih dari 13 tahun tinggal di sini, akhirnya muncul tekad dalam diri saya untuk mulai berikhtiar, meski kecil. Saya sadar, perubahan tidak akan datang jika tidak ada yang memulai.

Malam Ahad kemarin, dalam sesi lain-lain pada rapat RT, saya mencoba menyampaikan ajakan sederhana. Dan hari ini, saya kembali menguatkan ajakan tersebut melalui grup WhatsApp warga, karena setelah pertemuan kemarin, belum tampak adanya perubahan kehadiran jamaah di masjid.

Ajakan yang saya sampaikan pun sederhana:

 

Bapak-bapak warga RT 02 Dusun Turi yang saya hormati,

Mengulang yang sempat saya sampaikan pada pertemuan kemarin, izinkan saya kembali mengajak diri saya pribadi dan panjenengan semua untuk bisa menyempatkan sholat fardhu berjamaah di masjid.

Kita sadari bersama, di tengah kesibukan sehari-hari, seringkali waktu sholat berlalu begitu saja tanpa berjamaah. Padahal di situlah ada keutamaan yang besar, sekaligus menjadi sarana kita mempererat silaturahmi antarwarga.

Tidak perlu langsung sempurna, mari kita mulai pelan-pelan. Siapa yang dekat dan longgar waktunya, monggo bisa hadir. Semoga langkah kecil ini Allah berkahi, dilapangkan rezeki kita, dan dijadikan sebab kebaikan untuk keluarga kita semua.

Maturnuwun, semoga Allah mudahkan langkah kita semua. 🙏🏻

 

Saya menyadari, apa yang saya lakukan ini sangat kecil. Bahkan mungkin belum terasa dampaknya. Tapi saya percaya, dakwah memang seringkali dimulai dari langkah yang sunyi, dari niat yang sederhana, dan dari konsistensi yang tidak terlihat.

Selama ini, di luar lingkungan dusun, saya cukup aktif dalam kegiatan pengajian di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, baik sebagai peserta maupun kadang sebagai pengisi kajian. Namun di dalam Dusun Turi, saya merasa belum benar-benar menemukan jalan untuk berkontribusi lebih.

Di masjid sini, saya bukan siapa-siapa. Tidak ada jadwal sebagai imam, khatib, atau pengisi kajian. Hanya warga biasa. Tapi mungkin justru dari posisi sebagai “warga biasa” inilah ikhtiar itu harus dimulai.

Setidaknya, saya berusaha untuk tetap tertib berjamaah. Karena saya yakin, ajakan yang paling kuat bukanlah kata-kata, melainkan keteladanan yang terus diupayakan.

Semoga Allah mudahkan langkah kecil ini. Dan semoga suatu saat nanti, suasana masjid di Dusun Turi bisa kembali hidup—bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran dan kebutuhan hati setiap warganya.

Triyanto M. Faraz

 

Selasa, 14 April 2026

EMPAT PULUH LIMA

 

Hari ini, angka empat puluh lima telah menyapa.

Sebuah penanda waktu yang tidak sekadar berhenti pada hitungan, melainkan menghadirkan jeda yang mengajak untuk menengok perjalanan dengan lebih jernih. Bukan untuk memastikan bahwa semuanya telah sampai, melainkan untuk bertanya dengan lebih jujur: apakah langkah-langkah yang ditempuh selama ini telah berada di arah yang semestinya?

Di titik ini, saya tidak merasa telah sampai pada kematangan, apalagi pada kepastian. Justru yang terasa adalah ruang belajar yang masih luas, bahkan mungkin semakin terbuka. Banyak hal yang dahulu diyakini, kini ingin ditimbang kembali. Banyak langkah yang telah diambil, kini ingin diluruskan niatnya.

Empat puluh lima tahun terasa seperti jeda yang lembut, bukan untuk berhenti, tetapi untuk merapikan arah.

Saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk bergerak lebih cepat, tetapi sering kali mengajak kita untuk bergerak lebih tepat. Tidak semua yang bisa diraih perlu dikejar, dan tidak semua yang tampak penting benar-benar bernilai. Ada hal-hal yang justru menjadi jernih ketika kita memberi ruang untuk hening.

Ketika menengok ke belakang, saya menjumpai langkah-langkah yang mungkin pernah terlalu tergesa. Ada saat-saat di mana ambisi berjalan lebih cepat daripada ketulusan. Ada pula hari-hari ketika peran sebagai pendidik dan pengabdi masyarakat terasa bergerak dalam lingkar rutinitas, belum sepenuhnya menjelma sebagai panggilan jiwa yang hidup.

Dari sana, saya belajar bahwa kesibukan memperbaiki dunia luar kerap membuat kita luput merawat ruang batin sendiri. Kita begitu serius membenahi yang tampak, namun kadang abai pada yang menjadi sumber dari segala sikap dan keputusan: hati.

Maka dengan kerendahan hati, saya mengakui masih ada ego yang perlu ditundukkan. Agar setiap karya yang lahir, baik berupa tulisan, bimbingan, maupun interaksi sosial, benar-benar bertumpu pada niat yang lebih jernih. Agar apa yang dilakukan tidak sekadar selesai, tetapi memiliki makna.

Dalam perjalanan ini, tidak sedikit rencana yang berubah arah. Ada harapan yang tertunda, bahkan mungkin terlepas. Namun di situlah saya belajar untuk tidak hanya menggenggam, tetapi juga merelakan. Ikhtiar tetap perlu ditunaikan dengan sungguh-sungguh, sementara hasilnya diserahkan dengan lapang.


“Dan kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”

Ayat ini seolah menjadi pengingat yang menenangkan: bahwa ada janji kebaikan yang tidak selalu harus dipercepat oleh keinginan kita, tetapi cukup dijemput dengan kesungguhan dan kepercayaan.

Kini, saya ingin melangkah dengan ritme yang lebih tenang, tanpa kehilangan kejernihan arah. Bukan lagi mengejar riuhnya pencapaian, melainkan mengupayakan jejak kebermanfaatan yang lebih mengakar. Setiap langkah diupayakan sebagai proses menanam benih kebaikan yang mungkin tidak segera tampak, tetapi diyakini akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi cahaya.

Di usia ini, keinginan untuk terlihat perlahan ingin digantikan dengan upaya untuk berarti. Bukan sesuatu yang mudah, dan belum tentu sepenuhnya terwujud, tetapi setidaknya menjadi arah yang ingin terus dijaga.

Saya ingin lebih sungguh dalam hal-hal yang sering kali dianggap sederhana: meneguhkan ibadah agar tidak sekadar menjadi rutinitas, merawat lisan agar tetap santun, meluaskan kesabaran dalam membersamai keluarga, serta menjaga kejujuran dalam setiap amanah.

Sebab kualitas hidup sering kali tidak ditentukan oleh besarnya peristiwa, melainkan oleh ketepatan sikap dalam hal-hal kecil yang terus berulang.

Empat puluh lima juga menghadirkan kesadaran tentang keterbatasan. Usia yang bertambah sekaligus mengingatkan bahwa kesempatan tidak selalu panjang. Ada banyak hal yang mungkin belum sempat diperbaiki, dan ada waktu yang tidak bisa diulang kembali.

Maka jika hari ini masih diberi usia, semoga ini menjadi ruang perbaikan—bukan sekadar perpanjangan waktu. Ruang untuk meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar, serta menata ulang prioritas agar lebih selaras dengan tujuan hidup yang lebih hakiki.

Saya berharap, pada fase ini, pikiran tetap terjaga untuk terus belajar, dan hati tetap lapang untuk menerima kebenaran, dari mana pun ia datang. Setiap amanah di ruang pendidikan maupun di tengah masyarakat, ingin saya jalani dengan integritas yang terjaga: tegas tanpa kehilangan kelembutan, berwibawa tanpa menjauh dari kesederhanaan.

Perjalanan ini masih terbuka, dan justru terasa semakin bernilai untuk dijalani dengan kesadaran yang lebih utuh. Saya ingin terus berkarya, memperluas manfaat, serta menjadikan sisa usia sebagai ladang amal yang dirawat dengan kesungguhan.


Untuk diri saya sendiri, saya ingin berpesan:

Teruslah melangkah, sambil sesekali menengok arah.
Jangan lelah belajar, meski harus berulang dari awal.
Lakukan kebaikan, meski kecil dan tak selalu terlihat.
Dan jagalah hati, sebab darinya seluruh amal berakar.

Empat puluh lima tahun,
bukan penanda bahwa perjalanan telah mapan,
melainkan pengingat agar setiap langkah ke depan
semakin diupayakan berada di jalan yang lebih baik,
lebih jernih, dan lebih dekat kepada-Nya.

Semoga setiap jejak yang tertinggal, sekecil apa pun, tetap bernilai di hadapan-Nya.


14042026-Triyanto M. Faraz

 

Selasa, 13 Januari 2026

Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai; Mitos Atau...


Pernah dengar larangan demikian. Entah dari orang tua, warga sekitar pantai, atau sekadar peringatan yang beredar dari mulut ke mulut: jangan pakai baju hijau kalau ke pantai. Sebagian langsung patuh, sebagian lagi tersenyum sinis, menganggapnya sekadar cerita lama yang tak masuk akal.


Di era serba rasional seperti sekarang, larangan semacam itu memang mudah dicap mitos. Apalagi jika dikaitkan dengan kisah-kisah mistis yang sulit diterima akal sehat. Tidak sedikit yang lalu memilih bersikap ekstrem: menolak mentah-mentah, bahkan menertawakan apa pun yang berlabel “kearifan lokal”.


Namun, benarkah larangan itu berdiri sepenuhnya di atas keyakinan mistis? Ataukah kita terlalu cepat menutup telinga sebelum memahami pesan di baliknya?

Masyarakat tradisional, khususnya yang hidup di wilayah pesisir, mengenal laut bukan sebagai tempat wisata, melainkan ruang hidup yang penuh risiko. Mereka menyaksikan sendiri betapa laut bisa berubah dalam hitungan menit. Ada yang terseret ombak, ada yang tak kembali, dan ada pula yang sulit ditemukan meski jaraknya tak seberapa jauh dari bibir pantai.


Dalam kondisi seperti itu, pesan keselamatan tidak disampaikan dengan istilah teknis. Ia harus sederhana, mudah diingat, dan cukup kuat untuk ditaati. Maka lahirlah larangan-larangan praktis, termasuk soal warna pakaian. Bukan karena laut “memilih” korban, tetapi karena manusia perlu dibuat lebih waspada.


Baru di titik inilah nalar modern menemukan penjelasannya. Secara ilmiah, warna hijau memang kurang ideal dikenakan di pantai. Warnanya mudah menyatu dengan warna laut, terutama di perairan tropis. Dalam situasi darurat, seseorang yang mengenakan baju hijau lebih sulit terlihat dari kejauhan. Padahal, keterlihatan adalah kunci utama dalam proses penyelamatan.


Orang-orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah visibilitas atau spektrum cahaya. Namun mereka mengenal akibatnya. Mereka belajar dari kejadian-kejadian nyata. Pesan keselamatan itu lalu diwariskan dengan bahasa zamannya, agar generasi setelahnya lebih berhati-hati.


Di sinilah kita perlu bersikap adil dan dewasa. Tidak semua kearifan lokal harus diterima tanpa kritik, tetapi juga tidak layak dipatahkan dengan ejekan. Yang perlu kita lakukan adalah memisahkan pesan keselamatan dari bungkus ceritanya, lalu menjelaskannya dengan akal sehat.


Maka, memilih tidak memakai baju hijau di pantai bukan soal percaya atau tidak percaya pada hal mistis. Ia soal kesadaran akan risiko dan tanggung jawab pada keselamatan diri. Bukan takut pada sesuatu yang tak terlihat, melainkan peduli pada hal yang sangat nyata: nyawa manusia.


Logika Faraz

Hari Jumat kemarin, Faraz yang masih TK sebenarnya sudah izin tidak berangkat sekolah karena kondisi badannya kurang fit. Ia sedang agak bat...