Rabu, 29 Desember 2021

GALAU PAK GURU DI HADAPAN PARA BINTANG

 Oleh : Triyanto, S.Pd.

Beberapa hari sebelum penerimaan rapor, ada arahan agar setiap siswa mendapat apresiasi dalam bentuk piagam atas keunggulan anak-anak. Sebagai contoh; siswa paling tertib, paling berani, paling santun, paling pemurah, dll. Diharapkan dengan apresiasi ini siswa akan termotivasi dan meningkat belajarnya.

apresiasi individu menyangkut karakter atau kebiasaan tentu butuh pencermatan dan cukup data untuk memastikan bahwa siswa A adalah paling “ini” dibanding siswa lain. Sedangkan satu semester ini kegiatan belajar masih terbatas karena kebijakan antisipasi pandemic Covid-19, maka menjadi tidak sederhana untuk memberikan predikat “Paling” pada setiap siswa dengan tepat. Salah dalam memberikan apresiasi atau predikat tentu justru bisa berdampak kurang baik juga.

Terbayang nama siswa untuk apresiasi paling disiplin. Tetapi kemudian ingat suasana belajar selama ini di kelas menunjukkan kondusif dan sangat disiplin. Apalagi kemarin Ketika pelaksanaan PAS, disiplin, rapi dan tertib. Dan ini dilakukan oleh semua siswa, satu sama lain memiliki andil disiplin mewujudkan suasana kelas yang disiplin. Maka predikat paling disiplin pada satu siswa menjadi terasa kurang tepat. Semua siswa menunjukkan sikap yang sangat disiplin.

Apresiasi untuk siswa paling pemurah, muncul satu nama. Tetapi kemudian ingat, suasana kelas ketika ada 1 atau 2 siswa yang lupa tidak membawa pensil dan Pak Guru menawarkan pada kelas, “Siapa yang berkenan meminjami pensil Mas A?”. Hampir semua siswa menjawab, “Saya Pak!”. Meski ada juga siswa yang tidak menjawab, tapi pada anak tersebut ketika suatu saat ada teman sebelahnya tidak membawa pewarna. Pak Guru mengatakan pada siswa itu, “Mbak nanti pewarnanya bisa sekalian dipakai Mbak B ya. Mbak B tidak membawa pewarna hari ini.” Dan tanpa rasa berat, dia pun langsung mau berbagi/meminjami pewarna teman. Artinya semua siswa menunjukkan sikap pemurah meski tidak semua ekspresif menjawab seru, Entah siapa kemudian yang paling pemurah.

Apresiasi bagi siswa paling santun. Mencoba mengingat nama yang tepat. Yang muncul adalah wajah-wajah semua siswa kelas 2A yang semangat belajar dan sangat hormat pada guru. Ketika mau ke belakang, semua izin dengan santun. Ketika ditanya suatu hal oleh Pak Guru, semua siswa menunjukkan sikap santun. Antar siswa pun ketika bermain dan berbicara menunjukkan sikap baik dan rukun. Menjelang pulang, para siswa mengucap “Pak, kula badhe mantuk. Assalamu’alaikum.” Ah, siapa yang paling santun?

Masuk pada pemikiran untuk menunjuk siswa paling berani. Nama-nama siswa yang sangat aktif ingin maju ke depan pun bermunculan, sebagai kandidat siswa paling berani. Tetapi teringat juga siswa-siswa yang tampak kalem, tenang, namun ketika diminta ke depan untuk tugas bercerita atau pun yang lain, mereka juga tampak pede, berani. Hanya tidak seagresif beberapa teman lain. Tampilannya di depan juga tidak kalah dengan siswa yang ingin maju paling awal. Duh, siapakah kemudian yang paling berani?.

Kategori-kategori lain pun juga demikian, selalu kesulitan untuk menunjuk satu nama. Bukan karena tidak ada yang pantas, justru semua siswa pantas untuk mendapatkan predikat tersebut. Penyematan predikat “Paling” pada siswa tertentu seperti mengecilkan “Paling” pada siswa lain.

Tiba-tiba masuk WA dari koordinator kesiswaan, mengingatkan kelas 2A belum mengumpulkan data siswa dan kategori prestasi. Piagam sudah akan dicetak, semua kelas sudah mengumpulkan, hanya kurang kelas 2A. “Siap, Bu’. Saya jawab dengan singkat dengan sebenarnya masih sedikit berfikir tentang kategori-kategori tadi. Tetapi bukan berarti galau. Guru mesti punya ide untuk mengatasi aneka situasi.

Inspirasi akhirnya muncul. Siswa kelas 2A tidak harus mendapat apresiasi “Paling” dibanding siswa lain. Potensi keunggulan satu sama lain ada banyak kesamaan, tentang sikap santun, berani, rendah hati, pemurah, dan lain-lain. Dengan tidak mengabaikan karakteristik masing-masing. Mereka semua adalah ibarat bintang, bersinar terang di langit. Bukan satu bintang, tapi semua siswa kelas 2A adalah bintang. Insyaallah kelak mereka akan menjadi bintang-bintang kehidupan, menebar manfaat dan kebaikan bagi sesama. Aamiin.

Izinkan dengan bangga, kategori prestasi setiap siswa kelas 2A adalah sebagai bintang. Bintang kelas 2A Usamah Bin Zaid SD Unggulan Aisyiyah Bantul.

 




 

Bantul, Desember 2021

Rabu, 15 Desember 2021

TERIMA KASIH & SELAMAT KEPADA AYAH BUNDA ORANG TUA SISWA KELAS 2A

Foto di bawah ini diambil pada saat anak-anak mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS) hari terakhir. Tampak suasana tertib dan khidmat anak-anak mengerjakan PAS. Dan seperti inilah suasana sepanjang hari anak-anak kelas 2A mengikuti PAS sejak hari pertama.

Tidak ada kegaduhan, kericuhan dan kesemrawutan suasana dalam pelaksanaan PAS. Ini bukanlah hal sederhana bagi anak-anak kelas bawah, kelas 1 atau pun kelas 2.

Kondisi lain yang kadang harus dimaklumi pada suasana PAS adalah suasana yang cukup "riuh". Ada anak yang belum bisa membaca, ada yang tidak paham materi, ada yang belum paham maksud soal, ada yang tidak bisa menuliskan jawaban, ada yang ingin didampingi guru terus dan lain-lain. Dan hal ini tidak terjadi di kelas 2A.

Anak-anak bisa tertib dan khidmat mengerjakan PAS tentu di antaranya karena anak mampu mengerjakan. Bisa membaca, bisa menulis, memahami materi meski belum semua dikuasai, paham aturan ujian, dan mulai tumbuh kesadaran bagaimana sebaiknya bersikap ketika di kelas khususnya dalam suasana ujian.

Kadang kami melihat di kelas lain, ada yang butuh waktu tambahan untuk menyelesaikan soal. Bahkan sampai 30 menit setelah jam kepulangan baru siap berdoa pulang karena anak-anak memang baru selesai kerjakan soal. Kelas 2A Alhamdulillah selalu bisa selesai sebelum waktu maksimal.

Guru pengawas yang digilir mendampingi kami menjadi saksi, merasa begitu nyaman menunggu dan mengawasi pelaksanaan ulangan di kelas 2A dibanding ketika menjaga di beberapa kelas lain. Tidak perlu banyak wira-wiri menghampiri dan menjelaskan soal pada anak-anak tertentu yang kesulitan.

Ayah bunda, kondisi di atas adalah gambaran suasana pelaksaan PAS kelas 2A. Tentu bukan berarti sangat ideal dan sempurna. Hasil pekerjaan anak pun tidak semua maksimal. Namun ini adalah kondisi yang patut kita syukuri.

Kami haturkan terima kasih kepada ayah bunda atas kerja sama, partisipasi pendampingan dan pembekalan anak. Semoga ke depan senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam proses belajar hingga anak-anak menjadi pribadi sukses seperti yang kita harapkan. Generasi shalih. Kuat ilmu, kuat iman, kuat amal.

Selamat untuk ayah bunda semua, salam hormat dari kami guru kelas 2A SD Unggulan Aisyiyah Bantul. 🙏🏻😊

Wassalamu'alaikum w W.

SDUA Bantul, 14/12/2021




Selasa, 14 Desember 2021

PENGUATAN CALISTUNG SISWA KELAS RENDAH PASCA-PJJ

 Oleh: Triyanto, S.Pd.


Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir dua tahun dan ini adalah musibah sekaligus fenomena yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sebuah wabah penyakit yang menyebabkan jutaan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya mengalami gejala dari yang ringan hingga berat. Data berdasarkan worldometer, sedikitnya 5.118.347 orang di seluruh dunia meninggal karena virus corona sejak awal pandemi. Dunia pun terus bekerja keras untuk menanganinya, tidak terkecuali negara Indonesia. Selain upaya menemukan obat dan vaksin yang bisa menangkal, berbagai kebijakan dibuat oleh negara untuk mengurangi resiko penularan virus. Protokol kesehatan diberlakukan ketat pada semua lini aktivitas masyarakat.

Lingkungan pendidikan adalah salah satu yang terdampak perubahan kebijakan terkait protokol kesehatan di masa pandemi. Sekolah tidak diizinkan melakukan kegiatan pembelajaran langsung tatap muka di kelas. Kegiatan belajar dilakukan secara jarak jauh atau yang biasa disingkat PJJ, dan siswa belajar dari rumah. Materi pelajaran disampaikan secara online melalui perangkat elektronik seperti HP dan laptop. Kegiatan offline bisa pula dilakukan yaitu melalui lembar kerja peserta didik (LKPD), tetapi kesemuanya tetap dikerjakan siswa di rumah.

Dalam perkembangannya, setelah pandemi Covid-19 dinyatakan menurun, pemerintah  mengizinkan sekolah-sekolah di zona hijau atau resiko rendah mulai mengadakan kegiatan pembelajaran tatap muka kembali. Tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Jam belajar pun belum sepenuhnya seperti ketika tiada pandemi. Jumlah siswa dalam satu kelas dibatasi dan hari masuk sepekan hanya dua sampai tiga kali. Siswa dan guru kembali bisa saling interaksi langsung di kelas meskipun masih terbatas.

Kegiatan belajar langsung di kelas setelah lama PJJ perlu penanganan yang betul-betul tepat, telaten dan cermat terutama kepada siswa kelas rendah sekolah dasar. Kelas 1 dan kelas 2. Siswa kelas 2 adalah siswa yang ketika kelas 1 sepenuhnya belajar jarak jauh. Padahal kelas 1 adalah masa awal anak belajar di tingkat sekolah dasar, dan dasar-dasar kompetensi membaca, menulis serta berhitung baru dimulai di kelas 1 tersebut. Akan tetapi, karena PJJ maka tingkat ketercapaian kompetensi seperti yang ditargetkan dalam kurikulum menjadi belum optimal dan tidak merata.

Sebelum lebih lanjut guru mengajar materi sesuai target kurikulum di tingkat kelas saat ini, maka perlu diketahui terlebih dahulu secara detail kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) siswa. Meskipun di tingkat kelas sebelumya sudah ada penilaian harian, penilaian tengah semester, akhir semester dan penilaian kenaikan kelas. Kegiatan penilaian yang dilakukan secara jarak jauh tentu tidak seakurat ketika kegiatan dilakukan langsung. Mengenai hal ini, guru bisa membuat soal atau perangkat khusus untuk menjajaki kemampuan calistung siswa secara lebih detail dan dilakukan secara tatap muka langsung.

Mengevaluasi atau menjajaki kemampuan dasar calistung siswa kelas 2 awal juga dilakukan penulis yang kebetulan tahun ini ditugasi mengajar kelas 2 SD Unggulan Aisyiyah Bantul. Disusunlah perangkat khusus untuk melakukan kegiatan penjajakan ini. Beberapa baris kalimat dengan tingkat kesulitan mudah ke sulit disajikan untuk mengetahui kemampuan membaca. Menulis nama benda dari mudah ke sulit, menyalin dan membuat kalimat. Pada aspek berhitung, disajikan gambar kumpulan benda, siswa diminta menghitung dan menulis lambang bilangannya. Menuliskan bilangan secara urut sampai jumlah tertentu, dan beberapa soal penjumlahan dan pengurangan sederhana.

Hasil penjajakan menunjukkan belum semua siswa dalam kondisi siap mengikuti materi pelajaran lanjut sesuai target kurikulum. Masih ada beberapa anak yang belum lancar membaca, bahkan ada anak yang bisa dikategorikan belum bisa membaca. Sebagian lagi masih lemah dalam konsep berhitung dasar. Belum mampu membilang runtut sampai bilangan tertentu. Kesulitan menjumlah atau mengurang bilangan meski masih operasi hitung sederhana. Tentang kemampuan menulis, masih banyak anak-anak yang ketika menulis kata belum lengkap hurufnya. Kadang juga didapati salah huruf, seperti b ditulis d atau sebaliknya.

Adanya kondisi anak-anak yang belum mencapai tingkat kompetensi sebagaimana standarnya anak-anak di tingkat tertentu, bisa kita maklumi. Setahun lebih anak-anak belajar di rumah. Fasilitas pendukung setiap anak berbeda. Kapasitas orang tua untuk mendampingi belajar anak-anak di rumah juga berbeda-beda, baik itu menyangkut kuantitas waktu maupun kemampuan orang tua melakukan pendampingan belajar. Tidak berlebihan bila kemudian banyak pihak mengkhawatirkan, bila pandemi tidak juga kunjung usai dan siswa belajar dengan pola demikian, bagaimana masa depan anak-anak kita. Meski sekolah sudah berusaha maksimal untuk tetap melakukan layanan belajar, tetap ada kesenjangan capaian dibanding bila kegiatan belajar dilakukan secara normal. Bersyukur, pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda dan kegiatan belajar tatap muka sudah mulai bisa dilaksanakan.

Setelah didapatkan hasil penjajakan calistung dasar siswa, maka guru bisa menjadikan data tersebut sebagai acuan start pendampingan belajar siswa di kelas. Siswa yang masih lemah kemampuan membacanya perlu secara intensif difokuskan belajarnya untuk meningkatkan kemampuan membaca. Siswa yang lemah konsep berhitung dasar, perlu dikuatkan pemahamannya tentang konsep berhitung dan mengenal bilangan, demikian juga mengenai kemampuan menulis. Adapun tentang teknik atau metode, tentu guru sudah banyak memiliki referensi untuk melakukan pendampingan tersebut. Titik tekan yang menjadi poin krusial adalah perlunya penjajakan di awal. Ini yang kadang terlewat menganggap data nilai-nilai formal yang tercantum pada tingkat sebelumnya sudah mewakili kompetensi, pada kenyataannya belum sepenuhnya. Karena proses belajar maupun penilaian di waktu-waktu darurat pandemi kemarin hampir seluruhnya dilakukan secara online.

Kini, pandemi memang belum sepenuhnya berakhir, tetapi kondisi apapun proses belajar mengajar, proses pendidikan, tetap harus berjalan. Banyak cara yang bisa ditempuh dan kita sudah membuktikan, hanya celah yang memungkinkan mengurangi optimalnya hasil harus diantisipasi. Sebagaimana kita uraikan di atas, penguatan calistung siswa kelas bawah pada kegiatan pertemuan tatap muka terbatas termasuk hal yang sangat penting. Calistung bisa diibaratkan alat, alat untuk meraih ilmu-ilmu yang lebih luas lagi.

Akhirnya, kita semua berharap pandemi Covid-19 bisa segera terlewati, tertangani dengan tuntas sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa kembali terlaksana dengan lancar. Kekhawatiran adanya lost generation jangan sampai terjadi, dan kita sebagai guru menjadi bagian penting untuk antisipasi hal tersebut.
Bantul, 14 November 2021.
 
Referensi Pustaka:
https://covid19.go.id

https://www.worldometers.info

Senin, 02 Agustus 2021

AKU TELAH MERASAKAN SAKIT ITU

 


Oleh: Triyanto

(Catatan pengalaman berjibaku dengan gejala covid)

 

Terpapar virus covid-19 dan mengalami sakit tentu tidak kita harapkan. Tetapi, siapa yang bisa memastikan kita terhindar dari virus yang tidak kasat mata tersebut meski sudah berusaha taat protocol kesehatan 3 M atau 5 M. Dan inilah sedikit cerita pengalaman saya mengalami gejala terpapar covid yang ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat, semoga ada hikmahnya.

Berawal dari kedua orang tua saya yang mengalami sakit duluan, tetapi tidak sempat periksa karena ketika mau periksa saya antar ke beberapa klinik berobat kebetulan sedang tutup. Akhirnya hanya beli obat sekedarnya dan istirahat di rumah.

Hari berganti, semingu lebih, bapak saya tidak menunjukkan kondisi semakin membaik, bahkan semakin lemah.

Sempat terfikir dan hanya menduga kalau bapak dan ibu terpapar covid, dari gejala-gejala yang dirasakan. Konsultasi dengan kerabat yang kebetulan kerja sebagai perawat di RS PKU. Dan indiaksinya memang bisa dipastikan bapak/ibu terpapar virus covid-19. Kerabat saya itu pun membantu mengkonsultasikan dengan dokter dan memintaka resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi bapak dan ibu.

Dilema, melihat bapak dan ibu, terutama bapak yang sampai tidak mau makan, hanya terbaring lemah. Akhirnya nekat tetap menemani bapak dan ibu, setidaknya memotivasi untuk mau makan dan minum obat meski ada resiko ikut terpapar.

Dan benar, pulang dari tempat bapak ibu, saya mulai merasa tidak enak badan. Badan merasa dingin. Sepanjang hari itu dan berlanjut sampai tiga hari. Masih bisa beraktivitas, bahkan hari ke 4 bertepatan Hari Raya Idul Adha, saya sempatkan membersamai panitia qurban dengan fokus di sekretariat dan mulai dengan sadar jaga jarak lebih optimal dari teman-teman.

Siang dzuhur, aktivitas qurban belum selesai masih puncak kesibukan, tapi saya merasa lelah, badan terasa panas dan terpaksa bolos pulang duluan. Saya ambil thermo gun, ternyata suhu tubuh 39,5. Ah, ini saatnya isolasi mandiri. Saya bilang istri akan kondisi saya dan dengan lembut ia sigap memyiapkan kamar tersendiri yang harus saya tempati agar tidak langsung berinteraksi dengan anggota keluarga lain khususnya anak-anak. Isolasi.

Sejak saat itu saya hanya banyak istirahat, badan demam hampir setiap saat, sedikit turun pasca minum obat penurun panas namun tidak lama suhu badan naik lagi. Kepala pun terasa pusing, berdiri dan berjalan menjadi pekerjaan berat dengan kondisi saat ini.

Saya berusaha menata hati, pasrah dan bersabar, inilah sakit covid itu. Namun terbersit kekhawatiran bila kondisi semakin buruk dan misal sesak nafas seperti berita-berita yang banyak beredar. Saya tidak punya tabung oksigen dan belum pernah tahu cara kerja tabung oksigen. Kemana saya harus cari pertolongan.

Saya pun berusaha mencari nomor Puskesmas kecamatan, ingin melaporkan bahwa saya isolasi mandiri di rumah, dengan harapan ada arahan dan pantauan untuk selanjutnya. Dan akhirnya saya mendapatkan nomor salah satu petugas Puskesmas.

Setelah komunikasi beberapa waktu lewat WA, saya kemudian didaftarkan untuk mengikuti tes swab di Puskesmas Jetis 1 esok hari jam 8.

Sesuai info petugas Puskesmas, dengan badan yang sudah merasa lemah dan pusing saya paksakan berangkat ke Puskesmas, jam 8 pagi tepat. Kebetulan jarak rumah ke puskesmas tidak terlalu jauh, 3 menit naik motor sampai. Sampai Puskesmas ambil antrian swab nomor 28. Dan pasien terus berdatangan. 15-20 menit menunggu dan melihat antrian masih banyak, sedang kepala terus terasa pusing, badan sama sekali tidak nyaman untuk berlama lama duduk apalagi berdiri menunggu antrian. Bila saya paksakan bisa jadi saya akan pingsan dalam antrian ini.

Tidak berfikir lama, karena kondisi semakin tidak nyaman, saya pun keluar antrian tunggu. Menuju parkiran, ambil motor dan pulang. Segera sesampai di rumah kembali hanya bisa terbaring. Tidak jadi swab.

 

Tetiba WA masuk dari kerabat saya yang perawat, menanyakan kabar dan memberi nomor salah satu dokter RS PKU. “De, coba konsultasikan kondisi pak de ke beliau, nanti tanya obatnya apa misal suruh ambil ke RS tak ambilke.” Demikian ucapnya dalam WA.

Saya pun menghubungi nomor dokter tersebut, ceritakan kondisi saya dan selang berapa menit beliau pun membalas demikian:

 

“Waalaikum salam

Jika tidur lebih banyak tengkurap.

Tetep olahraga ringan

Berjemur..

Minum wedhang jahe

Minum QUSTHU hindi 3x 1 capsul

Multivitamin lanjutkan

Untuk meriang/nyeri/demam/pusing kepala bisa minum ibuprofen 3x1 kang”

 

Dokter itu menyebut saya dengan kata “kang” karena dia memang lebih muda dari saya, dan saya pun sudah kenal lama juga dengan dia.

Beberapa hari saya berusaha laksanakan aktivitas dan mengkonsumsi obat+vitamin sesuai arahan dokter tersebut. Setiap hari istri dengan telaten menyiapkan vitamin dan obat yang harus saya konsumsi dan asupan makanan tentunya. Meski ketika makan sungguh tiada nikmat dirasakan. Rasa makanan aneh, dan bila dipaksakan mual. Banyak teman dan kerabat yang memotivasi agar saya tetap banyak makan. "Yang penting makan yang banyak" kata mereka. Sungguh ini motivasi yang bisa saja benar, tapi dalam hati saya katakan, jangankan makan banyak, sesuap dua suap saja sudah terasa mual dan sangat-sangat tidak enak makan. Maka saya pun hanya berusaha yang penting ada makanan yang masuk dalam tubuh, tidak harus banyak karena memang tidak mampu untuk makan dengan porsi normal, yang penting ada makanan untuk energi badan beberapa waktu ke depan. Demikian saya menata diri.

Demam masih terus muncul, kepala pusing seperti tiada mau pergi. Menyentuh air, terasa dingin meski ketika memang ada keperluan ke kamar kecil untuk buang air tetap mampu lakukan dengan memaksakan diri. Berjalan yang hanya berapa meter ke kamar kecil terasa susah, ibarat seperti layang-layang putus, sempoyongan, dan nafas terasa ngos-ngosan. Ketika waktu sholat tiba, terpaksa mengambil ruksyah tayamum karena berwudlu serasa tidak mampu. Dan dalam beberapa hari, saya mengerjakan sholat sambil duduk karena tidak mampu sambil berdiri, bahkan kadang sambil berbaring.

Hari berganti, badan semakin merasa lemah. Persendian seakan tidak mampu menopang badan untuk bergerak apalagi beraktivitas. Bersabar. Inilah mungkin yang dimaksud sakit covid belum ada obatnya. Meski vitamin dan obat penurun panas serta demam rutin diminum namun badan masih saja terasa sakit.

Tepat hari ke 10 dari awal saya merasakan gejala, tiba-tiba badan sudah tidak demam. Obat penurun panas tidak saya minum lagi dan seharian sudah tidak kambuh lagi demamnya. Alhamdulillah. Berkurang rasa tidak nyaman, tiada demam walau kepala masih merasakan pusing dan batuk-batuk justru semakin sering.

Di group WA keluarga besar saya simak ada yang mengirim tulisan tentang tidak perlunya pasien covid tes swab lagi pasca isoman, karena virus hanya akan bertahan 7-9 hari dalam tubuh kemudian mati sendiri. Demikian diantara info pada tulisan tersebut dengan mencantumkan sumber yang sepertinya valid.

Sungguh, info itu menguatkan diri saya. Berarti ketika saya sudah mengalami gejala lebih sepuluh hari, virus dalam tubuh sudah otomatis mati. Makanya demam tetiba hilang sendiri. Artinya badan saya sudah tidak berjuang melawan virus lagi, tapi karena selama sakit kemarin bisa saja ada anggota bagian dalam tubuh yang ikut terluka maka rasa lelah dan pusing masih sedikit terasa. Begitu saya menebak kondisi diri saya sendiri kemudian.

Hari ke 11 sore, masih dengan suasana yang dominan berbaring, telpon berdering. Nomor dari adik saya yang masih tinggal serumah dengan bapak/ibu. Saya angkat dan terdengar bapak berbicara, tanya kabar kondisiku sekaligus mengabarkan kalau bapak dan ibu sudah sehat sekarang.

Alhamdulillah, masyallah. Sungguh ini kabar yang menentramkan. Karena ketika awal saya sakit, saya tahu persis kondisi bapak ibu masih sangat lemah, belum tampak kondisi membaik. Sedangkan saya akhirnya tidak bisa melanjutkan menemai bapak ibu dalam proses perawatan dan pemyembuhan. Alhamdulillah, adik ragil saya yang baru kelas 1 SMK saat ini tetap bersama bapak ibu, ikut membantu mengkondisikan bapak ibu. Dan dia tetap sehat. Selain itu, adik saya satunya yang sekarang dalam kondisi mengandung beberapa bulan, juga tidak tega membiarkan bapak ibu, dan ia pun sering ngaruhke tanpa takut sama sekali bila ikut terpapar. Menemani minum obat, vitamin, dan bahkan kadang menyuapi makan bapak. Alhamdulillah, ia pun tetap sehat tidak terpapar virus.

Kabar telpon dari bapak ibu dan juga keyakinan virus dalam tubuh sudah mati, membuat badan ini seperti muncul energi lagi. Ah, saya sudah sembuh. Hanya mungkin butuh waktu untuk kembali sehat bertenaga seperti sedia kala. Rasa pusing pun berangsur berkurang. Dan badan mulai bisa untuk sedikit beraktivitas, jalan keluar rumah, berjemur, dan menyapu halaman mulai bisa. Alhamdulillah.

Hari ke 14 tepat, saya sudah merasa 95% badan sehat kembali. Saya lihat anak saya yang berusia 1 tahun1 bulan, de Faraz, dia tampak begitu kangen dengan gendongan ayahnya. Tetapi istri mengatakan, sempurnakan isoman 14 hari. Esok baru boleh bopong dede. Ah, rindu ini sudah sangat berat untuk ditahan. Tatapan polos si kecil yang seakan memahami kondisi ayahnya sungguh semakin menggemaskan. Namun sebagai ikhtiar kesempurnaan, saya pun tetap menahan diri. Hingga pukul 00.00 malam berlalu yang artinya hari telah berganti, saya dengar dede terbangun dan menangis. Dengan keyakinan insyallah saya sudah sembuh, sehat, de Faraz pun aku bopong. Allahu akbar, inilah saat yang begitu membahagiakan setelah dua minggu saya tidak bisa langsung menyentuhnya. De Faraz pun tampak seperti sangat senang tapi juga bingung karena tiba-tiba dibopong ayahnya.

Alhamdulilah, demikian sedikit kisah yang saya alami. Meski sampai saya sembuh akhirnya saya tidak sempat swab apakah benar covid atau bukan, tetapi dari arahan kerabat yang perawat serta konsultasi dengan dokter RS PKU, saya hampir pasti bisa dikatakan telah terpapar virus tersebut. Dan sekarang atas izin Allah sudah kembali sehat. Tidak lupa saya pun melaporkan pada petugas Puskesmas yang dulu sempat memberi arahan dan menjadwalkan swab. Saya katakan pada beliau setelah sebelumnya mohon maaf karena tidak bisa ikut swab, “Bu, Alhamdulillah setelah isoman 14 hari insyaallah saya sudah sembuh kembali.” Beliapun menanyakan masih adakah keluhan dan adakah anggota keluarga yang mengalami gejala, saya pun jawab.;”Alhamdulillah, istri dan dua anak saya sehat, dan sudah tidak ada keluhan kecuali hanya merasa belum full tenaga, mungkin butuh waktu pemulihan.”

 

Bantul, 2-8-2021

Selasa, 25 Mei 2021

Barakallahu laka

Dia baru akan lulus SMA tahun ini, beberapa waktu lalu minta dicarikan referensi untuk kuliah sekaligus mondok di Jogja.

Tetapi, tiba-tiba ada laki-laki yang secara penilaiannya sholih datang dan meminangnya untuk segera menikah. Padahal, laki-laki tersebut orang yang belum begitu dikenalinya sebelumnya.
Hanya butuh beberapa waktu untuk berfikir, dan ada kecenderungan ia menerimanya. Ayah ibunya yang kebetulan kakak saya pun sempat panik, minta pendapat saya.
Diskusi keluarga berjalan. Berbagai pertimbangan dikemukakan. Saya pun minta ijin untuk bisa komunikasi lebih detail dengan si laki-laki yang menghendaki ponakan saya tersebut.
Akhirnya, proses berlanjut.
dengan mengharap Ridho Allah swt. Insyallah pernikahan akan dilangsungkan Jumat besok, 28 Mei 2021.
Semoga lancar, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Aamiin..
Saya pun bersiap menyeberangi selat untuk bisa hadir menyaksikan langsung pernikahannya, sekaligus nderekke bapak saya, mbah kakungnya. Ke Tanjung Enim, Sumatera Selatan.



Minggu, 15 November 2020

MENULISLAH

Oleh: Triyanto, S.Pd.


Ada ungkapan yang masyhur kita dengar sebagai bentuk motivasi untuk menulis, "Menulislah, dengan menulis engkau ada". Demikian, saya tidak tahu siapa pertama yang mengemukakan hal tersebut, tetapi jelas maknanya. Menulislah, lewat tulisanmu maka terbaca hal-hal yang kamu lakukan maupun ide-ide yang kamu punya. Dengan menulis maka orang lain jadi tahu walaupun si penulis sudah tiada atau tidak di hadapan pembaca. Pramoedya Ananta Toer bahkan mengatakan,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”


Jejak sejarah pun banyak terungkap lewat tulisan. Meski di era saat ini, tulisan bukan satu-satunya media untuk mengungkapkan sesuatu. Bisa juga lewat video maupun rekaman suara. Tetapi, menulis tetap tidak akan ketinggalan jaman. Tulisan masih dan akan terus menjadi salah satu media komunikasi yang dibutuhkan manusia.


Permasalahan muncul ketika tidak setiap orang mampu menulis. Tidak setiap kita memiliki kompetensi untuk mengemukakan ide, gagasan, bahkan informasi lewat tulisan. Bukan hanya orang awam, bahkan seorang guru belum tentu terbiasa membuat tulisan yang runtut dan layak untuk dibaca orang lain. Padahal di antara tuntutan era teknologi 4.0 kemampuan menulis seorang guru menjadi sangat dibutuhkan bahkan teramat penting.


Saya pribadi bukanlah orang yang mahir menulis. Tetapi saya merasa ada perkembangan yang signifikan tentang kemampuan menulis ini dibanding beberapa waktu lalu, apalagi bila menengok perjalanan sejak saya belajar di sekolah, menulis adalah di antara momok bagi saya.


Ketika saya masih di tingkat SD, di antara pelajaran yang kurang saya sukai adalah Bahasa Indonesia khususnya materi membuat karangan. Pasti seperti tercekat tangan ini untuk mau menuliskan kata dan untaian kalimat. Tugas akhirnya hanya jadi dalam bentuk minimalis, baris sedikit, banyak coretan dan hapusan.


Menginjak remaja, tepatnya di usia SMK saya kadang merasa frustasi bila kakak saya yang bekerja di luar provinsi menulis surat untuk keluarga, dan nanti pasti ayah ibu meminta saya yang membuat surat balasan. Mendapat surat dari saudara yang menyampaikan kabar tentu saya juga senang, tetapi bahwa kemudian saya yang harus membuat surat balasan, ini yang bikin pusing mikirnya. Seperti tidak muncul ide, bagaimana harus menulis kata demi kata untuk surat tersebut.


Hal paling parah saya rasakan ketika saya sudah sampai masanya untuk menyusun tugas akhir skripsi pada masa kuliah. Macet. Buntu. Beberapa semester saya lalui dengan seakan nol progres. Sudah tidak ada kuliah teori, tetapi kemauan menulis belum ada. Hanya registrasi, melakukan pembayaran kuliah di awal semester kemudian menghilang dari kampus, tidak berangkat kuliah karena tidak ada mood untuk mulai mengerjakan skripsi. Hingga hampir saja saya menyerah dan memupus harapan orang tua untuk anaknya memiliki titel sarjana.


Dalam kebuntuan mengerjakan tugas akhir, ada sahabat-sahabat yang mencoba memotivasi. Mulai dari yang memakai bahasa halus hingga yang nadanya memarahi, dengan harapan saya mau menuntaskan tugas akhir skripsi. Entah berapa sahabat yang memotivasi saya untuk tetap semangat. Di antara yang saya ingat adalah nasihat dan motivasi dari Ibu Siti Jazamah, beliau adalah karyawan senior SMA Muhammadiyah Pleret. Kebetulan waktu itu, sebelum lulus kuliah saya sudah diminta membantu mengajar sebagai guru di SMA Muhammadiyah Pleret. “Mas Tri”, demikian beliau memanggail saya. “Sampeyan sebaiknya segera selesaikan tugas kuliah. Di sini kalau nuruti gawean tidak akan selesai, sampeyan pasti mampu,” tuturnya. “Biasanya orang yang sungguh-sungguh ikhlas mengabdi di sekolah ini, besok akan mendapatkan aktivitas dan linkungan kerja yang lebih baik”. Demikian beliau melanjutkan. Kalimat akhir beliau sekaligus sebagai doa. Beliau tahu bagaimana saya bekerja di sekolah tersebut, dan memang sekolah yang kondisinya waktu itu bisa dibilang belum membanggakan. Siswanya sedikit dan rata-rata anak dengan motivasi belajar sangat rendah.


Dorongan dari para sahabat akhirnya membuat saya mau memaksakan diri untuk menulis, menyusun tugas akhir skripsi. Kalimat demi kalimat, paragraph demi paragraph terlampaui juga walau dengan teramat sangat berat. Hingga hari yang membangakan datang, saya lulus kuliah dengan diantaranya mendapatkan nilai A untuk tugas akhir. Allahu akbar.


Doa dari Ibu Siti Jazamah masih saya ingat, ketika kemudian saya diterima menjadi salah satu guru SD Ungulan Aisyiyah Bantul. Sebuah kebanggaan saya bisa berada di sekolah ini dan menjadi di antara guru angkatan pertama. Tentu kemudian tertantang juga untuk terus meningkatkan kompetensi agar amanah sebagai guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul bisa terlaksana dengan baik.


Pengalaman sulit menulis termasuk prioritas untuk saya benahi. Melalui aktivitas di organisasi, pelatihan dan hobi menggunakan media sosial khususnya facebook saya ikhtiarkan untuk peningkatan kapasitas ini. Saya juga membuat blog untuk memposting tulisan-tulisan saya. Abihusna.blogspot.com saya namai blog tersebut. Atas ijin Allah SWT, Alhamdulillah, saya juga berhasil menerbitkan buku pertama saya melalui penerbit resmi Eduvation, yaitu buku yang berjudul “Karena Kita Harus Berbuat”.


Sebagai guru juga saya berusaha membimbing siswa untuk  berlatih dan terbiasa menulis. Saya tidak ingin anak didik saya mengalami hal seperti saya dulu, sulit menulis. Melalui bimbingan yang tepat saya yakin siswa kelas rendah SD pun bisa menulis. Alhamdulillah, pada kelas SD yang pernah saya dampingi sebagai guru kelas, karya-karya sederhana ini bisa muncul:

·         Antologi Cerpen Siswa Kelas 3 Zaid Bin Tsabit,

·        Kumpulan Cerpen Karya Siswa Kelas 2 Abu Dzar,

·        Kumpulan Cerita Pendek Sederhana Siswa Kelas 1 Bilal Bin Rabbah,

·         Kumpulan Cerita Siswa Kelas 1 Amru Bin Ash.


Alhamdulillah, syukur dan berharap kita hanya kepada Alah SWT. Begitu lemah kita di hadapan-Nya. Lika-liku setiap kita menjadi proses yang pantas untuk menjadi koreksi sekaligus pemicu untuk memperbaiki diri. Termasuk kemampuan kita dalam menulis. Sedikit hal yang saya tuangkan ini, semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi.


Bantul, 15 November 2020.


Minggu, 18 Oktober 2020

MENDUKUNG BUKAN KARENA IMING-IMING DAN JANJI


Forum guru sekolah swasta yang tergabung dalam PGSI Kabupaten Bantul mengadakan silaturahmi bersama Paslon NoTo di Gandung Pardiman Centre, Imogiri, Bantul, Selasa 13 Oktober 2020.


Dalam kesempatan ini PGSI menyatakan dukungan kepada paslon NoTo dalam pilkada Bantul 2020. Pernyataan ini disampaikan resmi oleh ketua PGSI Bapak Drs. H. Encep Komarudin, M.Pd.I.


Dalam kesempatan yg sama, Abi Husna salah satu anggota PGSI mengatakan, kami guru-guru swasta menyatakan dukungan kepada paslon Noto bukan karena iming-iming ataupun janji besok akan dapat apa. Akan tetapi ini adalah murni menyangkut panggilan moral untuk menyampaikan pendapat calon pemimpin yang kita pandang lebih tepat dan amanah bila terpilih.


Lebih lanjut Abi Husna mengatakan, lima tahun kepemimpinan Bapak Drs. H. Suharsono terbukti Bantul kondusif, pembangunan gencar dan baik, serta Bantul meraih berbagai penghargaan diantaranya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena pengelolaan pemerintahan yang transparan dan bebas korupsi.


Kondisi kondusif dan prestasi Bantul yang sangat baik ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Oleh karenanya kami memandang tepat bila Bapak Suharsono bisa terpilih lagi. Apalagi saat ini berpasangan dengan Bapak Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd. sebagai wakilnya dan masyarakat sudah tahu track record beliau yang juga sangat bagus. Pungkas Abi Husna.


*KabarBantul



INGIN GOLPUT PILKADA TAHUN INI?

Sebagian masyarakat mungkin jenuh dengan proses pemilihan semacam Pilkada, hingga terbersit untuk tidak menggunakan hak suaranya alias golput.

Banyak faktor penyebabnya. Ada yg menganggap ini hanya even lima tahunan dan tidak akan berdampak apa-apa, siapapun yang terpilih, kehidupan tetap begini-begini saja. Ada yg merasa tidak ada calon ideal seperti yang dia harapkan. Ada yang menilai Pilkada adalah aktivitas politik dan politik identik kotor, culas, korup, dsb. Ada juga yang  tidak mau muncul masalah dengan terlibat dukung mendukung. Dan berbagai alasan lain.

Sahabat, memilih ataupun tidak memang adalah hak kita sendiri. Akan tetapi yang perlu diketahui, proses politik semacam pilkada ataupun di atasnya sangatlah berpengaruh terhadap tatanan kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai hal diputuskan melalui mekanisme politik. Hingga menyangkut hajat hidup kita seperti jaminan kesehatan, pendidikan, harga-harga bahan pokok dll. Dan di tingkat daerah, Bupati menjadi diantara peran sentral dalam berbagai kebijakan tersebut.

Dalam kondisi semua kandidat orang-orang hebat, baik dan amanah, maka siapapun yang jadi akan baik dan rakyat akan terayomi. Tetapi, fakta menunjukkan, adakalanya terdapat kandidat yang tidak amanah. Dan ketika terpilih sebagai kepala daerah yang dilakukan adalah; korupsi, kolusi, nepotisme, berusaha membangun dinasti politik, mementingkan kelompoknya, dan laku tidak amanah lainnya. 

Kita tidak tahu, kandidat Pilkada Bantul apakah semua orang amanah. Dan kita pun mesti berprasangka baik. Hanya saja kehati-hatian,  jernih dalam menimbang dan mengetahui track record kandidat sangatlah penting. Juga siapa pengusungnya.

Setelah betul-betul menimbang dengan cermat, adalah hak anda semua untuk memilih. 1 atau 2. 

Saya pribadi melihat, Bantul yang sudah sangat kondusif dan baik ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Memberi kesempatan ke dua bagi Bupati petahana, Bapak Drs. H. Suharsono, insyaallah lebih meyakinkan untuk amanah 5 tahun ke depan. Beliau telah menunjukkan bukti. Meski kemarin bekerja bersama wakil yang saat ini juga maju. Tetapi saya percaya, Bupati tentunya lebih dominan dalam peran mengambil kebijakan. Dan kita perlu bijak untuk memilihnya kembali. Bersama Bapak Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd. kita pun semakin yakin.

Bila anda sependapat dengan saya, maka mari, jangan sampai golput. Niatkan suara kita untuk ikut mempertahankan Bantul tetap baik, dan semakin baik.

Bismillah. NOTO


*Abi Husna

Jumat, 04 September 2020

BENARKAH ADA CALON "UNTHUL" DALAM PILURDES SEGOROYOSO?

 Kabar Pilurdes Segoroyoso


Sedulur warga Segoroyoso, tahukah kalian bahwa bulan Desember tahun ini akan diadakan pemilihan lurah desa Segoroyoso, dan sudah tahukah sedulur, siapa saja calonnya?

Iya, betul, calon lurah terdaftar resmi ada dua orang. Yaitu Bapak Miyadiana Selaku inkumben yang akan maju untuk periode ketiga kalinya. Dan calon baru, seorang pemuda yg statusnya masih singgle atau jomblo alias belum menikah. Mas Saryanto yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Koteng.

Tentang seperti apa kompetensi kedua kandidat, untuk inkumben tentunya sedulur-sedulur sudah tahu. Karena Bapak Miyadiana sudah menjadi lurah dua periode atau sekitar 12 tahun. Kelebihan dan kekurangan pasti ada, tentunya warga sudah punya penilaian.

Tetapi dalam tulisan ini, akan kita korek siapakah kandidat baru yang dalam status jomblonya sudah berani nyalon lurah, iya Mas Saryanto.

Bagi warga Dahromo tentu tidak asing dengan beliau. Mantan ketua Muda-mudi Dahromo I dan juga wakil ketua Siskamling itu adalah sosok yang berkarakter blak-blakan. Apa adanya dan sangat humoris.

Ketika ditanya apa motivasinya nyalon lurah,  dengan rendah hati beliau hanya jawab ingin mengabdi pada masyarakat.

Mas Saryanto memang dikenal sangat aktif di lingkungan masyarakat. Badan besarnya tidak menghalangi untuk ke sana kemari dalam rangka melaksanakan tugas organisasi atau kemasyarakatan.

Tetangga-tetangga dan umumnya warga Dahromo awalnya kaget dengan keputusannya untuk ikut mencalonkan diri sebagai kandidat lurah desa Segoroyoso.

Tetapi, akhirnya masyarakatpun tahu dan tidak sedikit yang mulai menampakkan simpatik untuk ikut mendukung serta mensosialisasikan.

Ada pula yang berpendapat dia dicalonkan hanya sebagai "unthul" alias pelengkap saja. Yang hampir pasti kalah. Menanggapi tentang hal ini, beliau hanya senyum. Unthul atau bukan, ketika sudah resmi terdaftar sebagai calon maka peluangnya adalah 50 - 50. Masyarakat nanti yang akan memilih dan menentukan. Tidak sedikit diberbagai daerah calon yang tidak diunggulkan bisa memenangi kompetisi.

Dan bila pada waktunya tugas itu betul-betul diamahkan kepadanya, insyaallah dia akan melaksanakan dengan sungguh-sungguh.

So, sedulur mau pilih siapa, adalah hak sedulur sendiri. Kami hanya mengabarkan.

Salam guyup rukun warga Segoroyoso.

 

*Abi Husna

4 September 2020

Kamis, 03 September 2020

Doa Seorang Ayah


Oleh: Triyanto

Guru SDU Aisyiyah Bantul


Guru swasta atau sering disebut honorer, mungkin bagi banyak orang hanya posisi yang biasa cenderung dianggap rendah. Tetapi, bukan bagi seorang ayah desa yang memang berharap agar diantara anaknya kelak ada yang kerja sebagai guru di sekolah atau pun pegawai kantor sebuah instansi. Tidak peduli honorer maupun PNS. Setidaknya ia berfikir jangan sampai anak-anaknya hanya setingkat dengan orang tuanya yang sekolah dasar saja tidak lulus, dan bekerja serabutan sebagai buruh. Walaupun pernah juga diantara pengalamannya dulu sang ayah bekerja di hotel, namun nuraninya mengatakan bukan ini tempat yang berkah baginya. Buruh tani pun akhirnya menjadi labuhan terakhir setelah aneka ikhtiar kerja diupayakannya. Hingga sekarang.

Sang ayah berharap anaknya kelak ada yang jadi pegawai. Menjadi orang di masyarakat. Bisa berbuat banyak untuk sesama.

Sujud di akhir malam dan doa tulus pun sang ayah panjatkan, untuk kebaikan keluarga dan kelancaran anak-anaknya. Hampir tidak pernah absen tahajjud ia tunaikan. Syukur dan pengharapan hanya kepada Allah SWT ia serahkan.

Atas doanya itu Allah menunjukkan tanda diijabah. Salah satu putranya, tepatnya putra ketiga diantara lima bersaudara mendapatkan kesempatan mengikuti seleksi PBUD untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tanpa tes. 

Tidak terbersit sebelumnya, bahwa putranya akan dengan mudah masuk kuliah di perguruan tinggi. Sedangkan di lingkungan masyarakat di kampung, masih sangat sedikit anak yang berkesempatan kuliah. Rata-rata hanya sampai SMA atau SMK dan sudah kemudian bekerja dan menikah.

Masih diusia kuliah, putranya itupun menampakkan mulai aktif di masyarakat sebagai pengurus remaja masjid. Kemudian menjadi pengajar TPA hingga sempat diamanahi selaku ketua Badan Koordinasi TKA-TPA kecamatan.

Waktu berlalu, sang anak pun lulus S1. Dan selang beberapa minggu setelah melalui seleksi ketat, sang anak telah dinyatakan diterima bekerja sebagai salah satu guru honorer sekolah swasta rintisan.

Sekolah yang belum begitu wujud karena siswa baru ada kelas 1, ijin operasional sedang diproses dan gedung masih pinjam bangunan lama yang tidak dipakai.

Namun, perlahan dan pasti sekolah itupun berkembang. Ratusan jumlah siswanya bahkan menjadi yang terbesar di Kabupaten Bantul. Yaitu SD Unggulan Aisyiyah Bantul.

Selain sebagai guru kelas, sang putra pun ditugasi sebagai wakil kepala sekolah dan setelah 4 tahun berlalu, amanah sebagai Kepala Sekolah pun diembankan padanya.

Di luar sekolah, sang putra tetap aktif diorganisasi. Setelah beberapa waktu mengemban amanah sebagai ketua Pemuda Muhammaditah Ranting kemudian lanjut mendapat amanah selaku sekretaris Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Ia mulai banyak beradaptasi komunikasi dengan bapak-bapak yang lebih senior, hingga Musyawarah Ranting untuk pergantian kepengurusan baru di tahun 2016, sang putra pun terpilih sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah periode 2015-2020.

Ada rasa haru dan kesyukuran terpancar dari wajah sang ayah yang mulai berusia lanjut. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, putranya menjadi diantara tokoh di masyarakat. Sebagai ketua PRM, sering mendapat jadwal khutbah jumat, mengisi pengajian. Mulai dipercaya ketika ada hajatan pernikahan untuk sebagai wakil keluarga untuk masrahke atau menerima calon pengantin. Dan tugas-tugas masyarakat yang lain. Sungguh, itu adalah diantara cita-citanya yang jauh hari bertahun lalu beliau harapkan. Ingin diantara anak keturunannya bisa menjadi orang. Bukan tentang hartanya, tetapi perannya di masyarakat.

Begitu kalimat sang ayah diungkapkan pada putranya.

Masyaallah, Subhanallah, Astaghfirullah..

Entah ujub, sombong, atau syukur, tak bisa sang anak simpulkan atas gejolak hati mendengar pengakuan sang ayah.

Yang jelas, ia tidak bisa menyembunyikan nikmat. Nikmat menjadi wujud dari sebuah doa tulus orang tuanya,  ini sungguh karunia luar biasa. 

Semoga kondisi bisa berbuat untuk kebaikan di masyarakat ini terus dilimpahkan Allah SWt kepadanya, kepada sang putra, yaitu saya sendiri penulis kisah ini. Dan semoga Ayahanda betul-betul bangga pada putranya dan terus mentautkan doa untuk kebaikan dunia dan akhirat, dirinya dan keluarganya. Terkhusus pada kami anak-anaknya. Dan kami pun mendokan yang terbaik untuk ayahanda serta bunda. 

Salam takdzim dan terima kasih yang tak terhingga atas pengorbanan selama ini.

Terkhusus kepada *Pimpinan Daerah Aisyiyah Bantul* yang memberikan kesempatan dan kepercayaan pada kami untuk turut mengabdi, semoga Allah SWt meridloi setiap langkah perjuangan ibu-ibu dan kita semua. Kami bangga sebagai guru di amal usaha bidang pendidikan Aisyiyah.

Salam dari ayah dan bunda kami, Bapak Amir-Ibu Lanjariyah.


---

Dahromo, 2 September 2020










Rabu, 02 September 2020

ZIARAH MAKAM KH. AHMAD DAHLAN



Bertepatan tanggal milad 111 tahun Muhammadiyah hari ini saya menyempatkan ziarah ke makam Alm. KH. Ahmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhammadiyah di Karangkajen, Yogyakarta. Dan baru kali ini saya melihat langsung makam ulama besar sekaligus pahlawan nasional itu. Sangat sederhana tidak seperti kebanyakan tokoh besar yang makamnya dibangun sedemikian rupa.

Tidak ada orang lain disaat saya memasuki area makam tersebut. Padahal ini hari penting bertepatan milad organisasi besar yang didirikan oleh alm. KH. Ahmad Dahlan. Artinya memang tidak ada tradisi ziarah khusus dihari penting berdirinya Muhammadiyah, apalagi hari2 biasa. Warga Muhammadiyah tidak anti ziarah kubur, tetapi memang tidak ada kebiasaan sebagaimana sebagian masyarakat lain lakukan.

Sungguh, saya dan kita pantas iri terhadab beliau. Organisasi yg beliau dirikan 111 tahun lalu, hingga kini terus bergerak dan semakin semarak. Ribuan amal usaha pendidikan, rumah sakit, tempat ibadah, dan aneka lembaga sosial keagamaan terus lahir dari persyarikatan ini untuk umat, untuk bangsa. Betapa besar manfaatnya. Betapa dahsyat insyaallah aliran pahala dari jariyah yg beliau tinggalkan ini. Masyaallah..

Ya Allah, ijinkan hamba untuk mampu mengikuti tauladan orang2 yg engkau ridloi dalam beramal. Jadikanlah amalan kami, amalan yg Engkau terima. Barokah dunia akhirat. Aamiin..

8 Dzulhijjah 1441 H

29 Juli 2020 M

Abi Husna

 


Minggu, 02 Agustus 2020

MBOK SONTO & SEMANGAT BERQURBAN

Mbok Sonto Memangku De Faraz
Mbok Sonto, demikian aku memanggilnya. Beliau adalah nenekku. Ibu dari ibuku. Mbah buyutnya de Husna dan de Faraz yang dalam foto beliau pangku. 
Aku ingin ceritakan sedikit tentang beliau, tentang Mbok Sonto.

Mbok Sonto saat ini hanya tinggal seorang diri di rumah. Usianya hampir 80 tahun. Suaminya sudah lama meninggal, sekitar 20 tahun lalu. Walaupun anak-anaknya banyak, tapi masing-masing karena sudah berkeluarga maka tinggal di rumah bersama keluarganya sendiri tidak lagi bersama Mbok Sonto.

Tidak ada masalah dengan anak2nya. Hanya dalam kesendirian yang saat ini pun beliau sudah tidak bekerja maka praktis pemasukan tidak ada kecuali pemberian anak-anak yang cukup sekedar untuk makan sehari-hari. Beruntung ada bantuan pemerintah semacam PKH. 

Dulu beliau adalah bakul jamu gendong. Beliau meramu sendiri, membungkus, dan menjualnya dengan di gendong dan diedarkan pada warga yang menghendaki. Tidak hanya di kampung tempat tinggalnya tetapi hingga jarak 2-3 km beliau jajakan jamu gendongnya. Hingga suatu ketika beliau mengalami kecelakaan, terjatuh hingga cidera dan sulit untuk kembali beraktivitas dengan normal. Beliaupun memutuskan untuk berhenti membuat jamu.

Sejak saat itu beliau hanya beraktivitas ringan di rumah. Tetapi bila waktu sholat tiba, walau tertatih beliau tetap berangkat menuju musholla yg jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Jamaah sholat fardlu hampir tidak pernah beliau tinggalkan. Di pagi hari ketika matahari mulai cerah, beliaupun selalu melaksanakan sholat sunnah dhuha.
Selain itu, ada hal yang menurut saya luar biasa. Seingat saya setiap Idul Adha, beliau selalu ikut berqurban sapi. Sejak saat usahanya dulu masih lancar maupun ketika saat ini beliau hanya mendapatkan rezeki yang tidak seberapa dari pemberian anak-anaknya atau pun bantuan pemerintah. Sedikit yang beliau dapatkan tidak lupa sebagian disisihkan dan dengan cara demikian beliau bisa selalu ikut berqurban.
Padahal di lingkungannya, harga hewan qurban tergolong tinggi. Untuk bisa ikut qurban rombongan sapi maka per orang harus iuran lebih dari 3 juta.

Semangat ibadah yang tinggi inilah yang menurut saya pantas kita teladani. Bahkan dalam keterbatasan, tidak ada pemasukan pasti seperti halnya pegawai atau pekerja aktif, tetapi tidak ada kekhawatiran akan kurangnya rezeki untuk melaksanakan ibadah qurban.

Dan saya bersyukur, orang-orang dengan semangat ibadah yang tinggi seperti beliau banyak di kampungku, di dusun Dahromo. Maka, tidak heran ketika Idul Adha ini jumlah hewan qurban mencapai 13 ekor sapi dan 44 ekor kambing.

Semoga Mbok Sonto dan setiap kita yang senantiasa ikhlas dalam beribadah, berqurban, selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap aktivitasnya hingga kelak Allah meridloi kita memasuki Surga-Nya, Jannatun Na'im. Aamiin.

*Triyanto
12 Dzulhijjah 1441 H

Kamis, 14 Mei 2020

10 Halaman Pertama




Alhamdulillah. Bahagia, bangga dan bersyukur. Hari ini de Husna mampu mencapai targetnya sendiri, tadarus Al-Qur'an dengan disimak ayahnya hingga 10 halaman.

Sejak pagi sahur dia sudah ikrar, hari ini mau mengaji hingga 10 halaman. Kemudian ia utarakan teknisnya. Habis sholat subuh 2 halaman. Usai dzuhur 2 halaman, ashar 2 halaman, maghrib dan isya masing-masing juga 2 halaman. Ia tampak yakin akan mampu melaksanakannya. Padahal biasanya hanya 2-5 halaman sehari. Itu pun tidak jarang halaman akhir sudah mulai ngambek, kadang juga sambil menangis.
Benar, usai subuh ia pun mau disimak mengaji 2 halaman. Dengan ritme yang masih pelan, sekitar 5-6 menit untuk satu halaman. Dan belum bisa lebih cepat dari itu. Tetapi Alhamdulilah sudah mulai memperhatikan tajwid. Bacaan panjang pendek, ikhfa’, idzghom, tasdid, dsb.

Masalah muncul, usai dzuhur baru 1 halaman mengaji ia minta berhenti. Ia mau ikut ibunya pergi dulu. Kebetulan ibunya ada keperluan untuk membeli sesuatu di warung. Ayah pun membujuk untuk tidak usah ikut ibu,  “De, ndak usah ikut ibu. Nanti mengajinya ndak jadi bisa 10 halaman lho”. Tetapi ia tetep mau ikut ibunya dan bilang, “ Aku tetap mau iku ibu. Nanti pulang terus langsung ngaji lagi mau”.
Terpaksa mengaji ditunda. De husna pun ikut ibunya ke warung. Ternyata Ibu tidak sekedar ke warung, ada keperluan lain sehingga agak lama perginya dan baru pulang ketika waktu ashar tiba.
“Lho, adek jadi habis dzuhur ndak bisa 2 halaman to?!”
“Kan bisa nanti lagi” jawabnya.
“Habis ashar berarti adek baca 3 halaman” sahut ayah.
“Ndak mau, tetap 2. Nanti yang satu halaman sebelum maghrib.”
Dalam hati ayah senang, ternyata walau ada teknis yang meleset, de Husna langsung mencoba berfikir tentang alternatif waktu, dan munculah 1 halaman sebelum maghrib sebagai penebus kekurangan 1 halaman usai dzuhur. Artinya ia masih optimis untuk mampu meraih target 10 halaman hari ini.

Ayah mencoba bertanya lagi untuk memantabkan.
“Adek setelah mengaji 2 halaman usai ashar, terus bobok saja. Ayah khawatir nanti malam setelah taraweh de Husna sudah sangat ngantuk dan ndk mau mengaji”.
“Ndak mau!” jawabnya tegas.
“Dari pada bobok siang, Aku lebih memilih nanti malam mengaji walau mengantuk”, lanjutnya.
“Benar?”, tanya ayah agak menyangsikan.
“Iya. Kalau nanti ternyata de Husna ndak mau mengaji karena ngantuk. Ayah boleh menghukum de Husna. Seharian besok de Husna ndak usah dipinjami HP”.  

Masya Allah, haru ayah mendengar komitmentnya. Dalam hati ayah berdoa semoga nanti betul-betul lancar, karena biasanya kalau sudah mengantuk de Husna ngambek kalau disuruh mengaji.

Waktu berlalu, 1 halaman usai maghrib terlaksana. 2 halaman setelah maghrib pun dilaksanakan dengan masih semangat. Usai isya dan sholat taraweh wajah de Husna sudah menunjukkan kantuk. Tetapi ketika diingatkan untuk mengaji masih 2 halaman lagi, ternyata dijawab siap.
1 halaman mampu dibaca dengan lancar tetapi mulai dengan suara yang semakin lirih karena kantuk.
“Masih kurang satu lagi lho de!”.
Ia tampak berfikir.
Ayah pun paham, De Husna butuh motivasi atau bantuan untuk mampu menyelesaikan.
“Sini, ngajinya yang 1 halaman sambil ayah pangku”.
De Husna pun segera menuju pangkuan ayah dan mulai membaca halaman terakhir untuk mencapai target 10 halaman hari ini.

Alhamdulillah, akhirnya selesai. Target mengaji 10 halaman hari ini tercapai. dan ini adalah pertama kali de Husna mampu mengaji dalam sehari 10 halaman. Tiba-tiba, kantuknya seperti hilang.
“Ayah, hadiahnya mana?!” serunya dengan menunjukkan ekspresi berharap.
Ayahpun mengeluarkan dompet, diambilnya satu lembar uang warna hijau. Rp20.000.
“ini”, kata ayah sambil menyerahkan uang tersebut. Binar bahagia de Husna menerima hadiah tersebut dan Ia pun bertekad untuk hari-hari berikutnya kalau bisa 10 halaman terus atau malah 1 juz.
Semoga bisa. dan ayah sama ibu tentunya sangat berharap, kelak engkau pun menjadi anak yang benar-benar sholihah. Rajin beribadah, taat dan hormat dengan orang tua, berprestasi dan mampu berbuat banyak untuk kebaikan khususnya untuk agama Islam. Aamiin.

*Abi Husna
*Ramadhan-20-1441

Sarasehan Pendidikan Teguhkan Optimisme Kemajuan Sekolah Muhammadiyah Cabang Jetis

  Jetis, 4 Agustus 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul menyelengga...