Minggu, 30 Oktober 2022

GURU SEBAGAI MANAGER

(Catatan dari Arahan Pengawas pada kegiatan Komunitas Belajar GK. III)


Paradigma pendidikan mengalami dinamika dan perubahan. Hal yang dahulu biasa dilakukan belum tentu tepat dilakukan saat ini. Budaya memberikan hadiah atau hukuman sebagai tindaklanjut atas perilaku siswa yang sudah sangat lazim dilakukan guru, dilihat dari paradigma pendidikan sekarang dianggap kurang cocok.

Kemerdekakan, kebahagian dan keselamatan siswa adalah orientasi pokok yang harus dilakukan guru. Hal ini dibarengi dengan menumbuhkan budaya positif.

Sebagai contoh upaya menumbuhkan budaya positif adalah ketika ada siswa yang terlambat masuk sekolah, maka respon guru haruslah tepat. Pada paradigma dahulu, ketika ada kondisi semacam di atas maka ada beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh guru; ada guru yang kemudian memberikan hukuman, bisa dengan hukuman fisik, penugasan akademik ataupun hukuman yang dikaitkan aktivitas agama seperti menghafal doa dsb. Apapun itu hukumannya, pada paradigma sekarang memberikan hukuman dikhawatirkan berdampak psikologis kurang baik pada siswa. Bisa jadi muncul perasaan dendam pada siswa.

Ada juga guru yang menceramahi siswa yang terlambat dengan maksud membuat siswa merasa bersalah dan tidak mengulang perbuatan melanggar lagi. Seperti halnya pemberian hukuman, mengkondisikan siswa sebagai pihak yang harus merasa bersalah dikhawatirkan menjadikan psikis atau mental siswa bermasalah. Seperti minder, selalu merasa bersalah atau tidak yakin kalau bisa berbuat baik.

Selain itu, ada juga guru yang cenderung membiarkan saja siswa melakukan pelanggaran, tidak memberi hukuman sama sekali dan tampak memgutamakan keakraban dengan siswa hingga seakan tidak ada jarak. Tentu semacam ini tidak akan berdampak pada perilaku perbaikan siswa yang melanggar.

Lantas bagaimana mensikapi siswa yang sering terlambat seperti pada contoh kasus di atas sesuai paradigma pendidikan sekarang?

Ketika ada siswa yang datang terlambat, hal awal yang dilakukan guru adalah memastikan siswa tetap nyaman. Bisa dengan mengatakan bahwa kamu bukan satu-satunya siswa yang pernah terlambat, bahkan bu guru pun pernah terlambat. Mengarahkan atau menyilahkan siswa duduk dengan baik dan bersiap mengikuti pelajaran. Kemudian pada kesempatan yang lain siswa bersangkutan dipanggil atau ditemui. Diajak diskusi, kenapa dia terlambat. Siswa dituntun untuk berfikir kenapa dia terlambat dan mencari alternatif solusi agar tidak terlambat lagi. Pada proses ini diharapkan siswa mampu menemukan sendiri solusi agar tidak terlambat lagi, sebagai misal bertekad untuk bangun lebih pagi, dlsb.

Pendekatan guru mengajak diskusi, membimbing siswa untuk menganalisis masalah sekaligus menemukan solusi inilah peran guru pada paradikma sekarang. Guru sebagai manajer.

Inilah gambaran paradigma pendidikan sekarang. Guru adalah manajer. Memastikan ada kemerdekaan, kebahagiaan dan keselamatan siswa adalah tugas utama guru. Pada konteks yang lebih jauh, keselamatan disini adalah keselamatan masa depannya. Sukses, berkah, dunia akhirat.

Salam, sahabat kombel GK III.

Triyanto, S.Pd.

29-10-2022










Kamis, 14 April 2022

Simbah ini Gelisah Karena Pernah Beli Es dengan Uang Temuan

foto Mbah Jono

Marjono namanya, dan biasa dipanggil Mbah Jono karena usianya memang sudah mulai sepuh. Usai shalat Maghrib dan buka puasa di masjid Nurrohim, keluar masjid dan menepuk pundak temannya salah satu khatib Jumat di kampung, Ust Gunarto.

"Gun, aku pingin crita", katanya dengan logat Jawa memulai pembicaraan dengan Ust Gunarto temannya yang dipandang lebih paham ilmu agama. "Ada apa?" Jawab Ust Gunarto.

"Aku itu beberapa waktu lalu ketika buruh angkut meja kursi (mebel) sempat berhenti di jalan karena capek. Ndilalah aku lihat ada uang sepuluh ribu di jalan". Beliau memulai menceritakan perihal yang sepertinya menjadi pemikiran atau bahkan kegelisahan dalam beberapa waktu.

"Tidak pikir panjang, karena kebetulan haus, aku ambil uang itu terus aku gunakan beli es". Beliau melanjutkan ceritanya dengan tampak serius.

Ust Gunarto tampak mendengarkan tapi sepertinya agak buru-buru mau segera pulang. Aku lihat Mbah Jono mengikuti langkah Ust Gunarto hingga di parkiran.

"Aku durung rampung!" Kata Mbah Jono sedikit memberi penekanan agar Ust Gunarto mau mendengar ceritanya hingga selesai dan memberi tanggapan.

"Aku jadi kepikiran, bisa halal ndak ya uang itu. Padahal tidak mungkin mencari pemiliknya". Lanjut Mbah Jono dengan ekspresi yang menunjukkan kegelisahan.

Ust Gunarto melihat Mbah Jono yang tampak sangat serius menanyakan hal itu kemudian menanggapi. "Kalau barang temuan itu hanya di wilayah kampung bisa diumumkan, tapi masalahe nemunya di paran (perjalan jauh) tentu sulit untuk mencari pemiliknya. Yang aman adalah mensodaqahkan uang temuan bila memang tidak mungkin mengembalikan pada pemiliknya". Jawab Ust Gunarto. "Tapi semoga tidak apa-apa". Tambah Ust Gunarto yang tidak ingin temannya semakin gelisah.

"Berarti bila aku sodaqah senilai itu dan aku niatkan untuk pemilik uang sepuluh ribu itu boleh to?" Tanya Mbah Jono kemudian. "Ya, bagus itu". Jawab Ust Gunarto.


Percakapan di atas saya dengar jelas karena kebetulan saya juga bersamaan keluar masjid menuju kendaraan yang parkir bersebelahan dengan kendaran Ust Gunarto. Dan kisah di atas nyata, hanya detail percakapan yang saya tuliskan tidak persis karena beliau-beliau berbicara dengan bahasa  Jawa.

Bagi sebagian orang uang sepuluh ribu hanya dianggap receh, bahkan tidak berarti apa-apa. Bisa jadi pemilik asli uang sepuluh ribu itu pun malah tidak sadar kalau uangnya terjatuh dan tidak merasa kehilangan. Tetapi Mbah Jono yang tidak sengaja melihat dan posisi kehausan diperjalanan karena kerja angkut meja kursi, terus gunakan uang itu untuk jajan es, ternyata beliau merasa bahwa uang itu bukan haknya. Harus ditempuh ikhtiar agar tidak menjadikan dosa.

Ya Allah, ternyata masih banyak hamba Mu yang berusaha untuk betul-betul bersih dalam laku. Tidak ingin sekecil apa pun barang haram masuk ke badannya.

Sangat kontras. Sangat kontras dengan realita bahwa koruptor uang milyaran pun begitu banyak di negeri ini. Dan sepertinya tampak tenang-tenang saja.

Semoga orang-orang baik seperti Mbah Jono istiqomah dalam kebaikannya hingga kelak menghadap Rabb dengan husnul khatimah. Semoga pula, saya serta siapapun yang membaca cerita ini diberi petunjuk untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

 

Triyanto.

Dahromo, 14-4-2022

Rabu, 16 Maret 2022

IKRAR SYAWALAN BAHASA JAWA


Assalamu’alaikum wr. wb.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Asyhadu alla ilaaha illallah.

Wa asyh hadu anna Muhammadarrosulullah.

Astaghfirullah hal adzim 3x

 

Kula sedaya Keluwarga ageng (SD Unggulan Aisyiyah Bantul) saha sedaya ingkang lenggah ing papan menika kanthi ihklasing manah keparenga ngaturaken ikrar syawalan.

 

Ingkang sepisan, dhumateng ngarsanipun bapak-bapak, ibu-ibu, ingkang kaleres sepuh saha ingkang kasepuhaken, kula ngaturaken sungkem pangabektos.

Dhumateng sesami-sami, kula ngaturaken salam ta’lim. Dhumateng ingkang kaleres enem, kula ngaturaken sih katresnan saha donga pangestu.

 

Atur kaping kalih, kula ngaturaken Sugeng Riyadi Fitri 1444 Hijriah, kairing donga Taqobbalallohu minna wa minkum, Shiyamana wa shiyamakum, Ja’alanallahu  wa iyyakum Minal 'aidin wal faidzin.

 

Atur kaping tiga, kula nyuwun pangapunten saking sedaya kalepatan kula, ingkang lahir punapa ingkang batos, ingkang sedaya wau mboten pikantuk idining sarak agami, mugi-mugi panjenengan sedaya kersa paring pangapunten dhumateng kula.

 

Kosok wangsulipun, mbok bilih panjenengan kagungan kelepatan dhumateng kula, kula lega lila caos pangapunten sedaya kelepatan panjenengan ingkang tumanduk dhumateng kula.

Mugi-mugi Gusti Alloh ngijabahi lan paring maghfirah dumateng kula panjenengan sami.

Amin, amin, ya robbal ‘alamin.

 

Mekaten lan semanten ikrar syawalan ingkang saged kula aturaken. Kirang langkungipun nyuwun pangapunten.

Akhirul kalam..

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

 

Sabtu, 19 Februari 2022

BAGAIMANA AKTIF BERMUHAMMADIYAH?

Sahabat-sahabat yang bekerja di amal usaha milik Muhammadiyah seperti menjadi guru/karyawan SD, SMP, SMA Muhammadiyah atau RS PKU Muhammadiyah kadang bahkan rutin berkala diminta untuk mendapatkan surat keterangan aktif di Ranting atau Cabang Muhammadiyah dimana ia tinggal. Tetapi tidak jarang dari sahabat-sahabat malah belum paham bagaimana di Muhammadiyah atau aktif bermuhammadiyah itu. Haruskah menjadi pengurus/pimpinan Muhammadiyah, atau aktif menghadiri pengajian Muhammadiyah?

Iya, menjadi pengurus (Pimpinan) Muhammadiyah di tingkat manapun bila mampu itu yang diharapkan, juga aktif menghadiri kegiatan kajian yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah baik langsung maupun online. Tetapi tentu tidak semua dari sahabat-sahabat berkesempatan untuk dua hal tersebut, maka sebenarnya banyak cara untuk tetap bisa aktif di persyarikatan Muhammadiyah.

Berikut adalah kegiatan atau aktivitas yang bisa dianggap sebagai wujud keaktifan di Persyarikatan Muhammadiyah:

1.     Menjadi Pimpinan (Pengurus) Muhammadiyah atau organisasi otonom (Aisyiyah, PM, NA, IPM, IMM, HW, Tapak Suci) di tingkat ranting, cabang, ataupun di atasnya.
2.     Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Muhammadiyah seperti; pengajian, rapat pimpinan, semarak milad Muhammadiyah, dan kegiatan-kegiatan resmi lainnya.
3.     Aktif berjamaah sholat fardlu di masjid/musholla Muhammadiyah.
4.     Menjadi khatib/Imam, mengisi pengajian atau menjadi pembicara kegiatan dengan materi sesuai paham Muhammadiyah.
5.     Membuat karya tulis (buku, artikel, berita) tentang Muhammadiyah.
6.     Membaca/mempelajari buku-buku resmi terbitan Muhammadiyah (HPT, Tafsir At Tanwir, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, dll)
7.     Berinfaq/sedekah dalam rangka mendukung kegiatan atau program Muhammadiyah.
8.     Menulis status medsos atau share info-info positif tentang Muhammadiyah.
9.     Membuat video dakwah atau informasi tentang Muhammadiyah di youtube ataupun media lainnya.
10.  Melaksanakan tugas yang diamanahkan AUM dengan sungguh-sungguh dan seoptimal mungkin.
11.  dll, yang intinya adalah menerima paham agama Islam sebagaimana yang diyakini Muhammadiyah dan berusaha untuk mengamalkan serta mendakwahkan pada orang lain/masyarakat luas agar terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Dari  uraian tentang aktivitas yang bisa dianggap sebagai wujud keaktifan di persyarikatan Muhammadiyah di atas, semoga sahabat-sahabat menjadi lebih paham. Bahwa tidak sulit untuk aktif di Muhammadiyah, tinggal seberapa kemauan dan semangat kita untuk ikut andil dalam gerakan amar makruf nahi mungkar ini. bahkan yang suka bermedos ria pun sangat bisa untuk tetap aktif bermuhammadiyah. Karena hakikatnya kita bermuhammadiyah adalah ikhtiar untuk menjadikan diri kita sendiri menjadi pribadi muslim yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.


Triyanto, S.Pd.
Anggota Majelis Tabligh PDM Bantul

Tr

Rabu, 29 Desember 2021

GALAU PAK GURU DI HADAPAN PARA BINTANG

 Oleh : Triyanto, S.Pd.

Beberapa hari sebelum penerimaan rapor, ada arahan agar setiap siswa mendapat apresiasi dalam bentuk piagam atas keunggulan anak-anak. Sebagai contoh; siswa paling tertib, paling berani, paling santun, paling pemurah, dll. Diharapkan dengan apresiasi ini siswa akan termotivasi dan meningkat belajarnya.

apresiasi individu menyangkut karakter atau kebiasaan tentu butuh pencermatan dan cukup data untuk memastikan bahwa siswa A adalah paling “ini” dibanding siswa lain. Sedangkan satu semester ini kegiatan belajar masih terbatas karena kebijakan antisipasi pandemic Covid-19, maka menjadi tidak sederhana untuk memberikan predikat “Paling” pada setiap siswa dengan tepat. Salah dalam memberikan apresiasi atau predikat tentu justru bisa berdampak kurang baik juga.

Terbayang nama siswa untuk apresiasi paling disiplin. Tetapi kemudian ingat suasana belajar selama ini di kelas menunjukkan kondusif dan sangat disiplin. Apalagi kemarin Ketika pelaksanaan PAS, disiplin, rapi dan tertib. Dan ini dilakukan oleh semua siswa, satu sama lain memiliki andil disiplin mewujudkan suasana kelas yang disiplin. Maka predikat paling disiplin pada satu siswa menjadi terasa kurang tepat. Semua siswa menunjukkan sikap yang sangat disiplin.

Apresiasi untuk siswa paling pemurah, muncul satu nama. Tetapi kemudian ingat, suasana kelas ketika ada 1 atau 2 siswa yang lupa tidak membawa pensil dan Pak Guru menawarkan pada kelas, “Siapa yang berkenan meminjami pensil Mas A?”. Hampir semua siswa menjawab, “Saya Pak!”. Meski ada juga siswa yang tidak menjawab, tapi pada anak tersebut ketika suatu saat ada teman sebelahnya tidak membawa pewarna. Pak Guru mengatakan pada siswa itu, “Mbak nanti pewarnanya bisa sekalian dipakai Mbak B ya. Mbak B tidak membawa pewarna hari ini.” Dan tanpa rasa berat, dia pun langsung mau berbagi/meminjami pewarna teman. Artinya semua siswa menunjukkan sikap pemurah meski tidak semua ekspresif menjawab seru, Entah siapa kemudian yang paling pemurah.

Apresiasi bagi siswa paling santun. Mencoba mengingat nama yang tepat. Yang muncul adalah wajah-wajah semua siswa kelas 2A yang semangat belajar dan sangat hormat pada guru. Ketika mau ke belakang, semua izin dengan santun. Ketika ditanya suatu hal oleh Pak Guru, semua siswa menunjukkan sikap santun. Antar siswa pun ketika bermain dan berbicara menunjukkan sikap baik dan rukun. Menjelang pulang, para siswa mengucap “Pak, kula badhe mantuk. Assalamu’alaikum.” Ah, siapa yang paling santun?

Masuk pada pemikiran untuk menunjuk siswa paling berani. Nama-nama siswa yang sangat aktif ingin maju ke depan pun bermunculan, sebagai kandidat siswa paling berani. Tetapi teringat juga siswa-siswa yang tampak kalem, tenang, namun ketika diminta ke depan untuk tugas bercerita atau pun yang lain, mereka juga tampak pede, berani. Hanya tidak seagresif beberapa teman lain. Tampilannya di depan juga tidak kalah dengan siswa yang ingin maju paling awal. Duh, siapakah kemudian yang paling berani?.

Kategori-kategori lain pun juga demikian, selalu kesulitan untuk menunjuk satu nama. Bukan karena tidak ada yang pantas, justru semua siswa pantas untuk mendapatkan predikat tersebut. Penyematan predikat “Paling” pada siswa tertentu seperti mengecilkan “Paling” pada siswa lain.

Tiba-tiba masuk WA dari koordinator kesiswaan, mengingatkan kelas 2A belum mengumpulkan data siswa dan kategori prestasi. Piagam sudah akan dicetak, semua kelas sudah mengumpulkan, hanya kurang kelas 2A. “Siap, Bu’. Saya jawab dengan singkat dengan sebenarnya masih sedikit berfikir tentang kategori-kategori tadi. Tetapi bukan berarti galau. Guru mesti punya ide untuk mengatasi aneka situasi.

Inspirasi akhirnya muncul. Siswa kelas 2A tidak harus mendapat apresiasi “Paling” dibanding siswa lain. Potensi keunggulan satu sama lain ada banyak kesamaan, tentang sikap santun, berani, rendah hati, pemurah, dan lain-lain. Dengan tidak mengabaikan karakteristik masing-masing. Mereka semua adalah ibarat bintang, bersinar terang di langit. Bukan satu bintang, tapi semua siswa kelas 2A adalah bintang. Insyaallah kelak mereka akan menjadi bintang-bintang kehidupan, menebar manfaat dan kebaikan bagi sesama. Aamiin.

Izinkan dengan bangga, kategori prestasi setiap siswa kelas 2A adalah sebagai bintang. Bintang kelas 2A Usamah Bin Zaid SD Unggulan Aisyiyah Bantul.

 




 

Bantul, Desember 2021

Rabu, 15 Desember 2021

TERIMA KASIH & SELAMAT KEPADA AYAH BUNDA ORANG TUA SISWA KELAS 2A

Foto di bawah ini diambil pada saat anak-anak mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS) hari terakhir. Tampak suasana tertib dan khidmat anak-anak mengerjakan PAS. Dan seperti inilah suasana sepanjang hari anak-anak kelas 2A mengikuti PAS sejak hari pertama.

Tidak ada kegaduhan, kericuhan dan kesemrawutan suasana dalam pelaksanaan PAS. Ini bukanlah hal sederhana bagi anak-anak kelas bawah, kelas 1 atau pun kelas 2.

Kondisi lain yang kadang harus dimaklumi pada suasana PAS adalah suasana yang cukup "riuh". Ada anak yang belum bisa membaca, ada yang tidak paham materi, ada yang belum paham maksud soal, ada yang tidak bisa menuliskan jawaban, ada yang ingin didampingi guru terus dan lain-lain. Dan hal ini tidak terjadi di kelas 2A.

Anak-anak bisa tertib dan khidmat mengerjakan PAS tentu di antaranya karena anak mampu mengerjakan. Bisa membaca, bisa menulis, memahami materi meski belum semua dikuasai, paham aturan ujian, dan mulai tumbuh kesadaran bagaimana sebaiknya bersikap ketika di kelas khususnya dalam suasana ujian.

Kadang kami melihat di kelas lain, ada yang butuh waktu tambahan untuk menyelesaikan soal. Bahkan sampai 30 menit setelah jam kepulangan baru siap berdoa pulang karena anak-anak memang baru selesai kerjakan soal. Kelas 2A Alhamdulillah selalu bisa selesai sebelum waktu maksimal.

Guru pengawas yang digilir mendampingi kami menjadi saksi, merasa begitu nyaman menunggu dan mengawasi pelaksanaan ulangan di kelas 2A dibanding ketika menjaga di beberapa kelas lain. Tidak perlu banyak wira-wiri menghampiri dan menjelaskan soal pada anak-anak tertentu yang kesulitan.

Ayah bunda, kondisi di atas adalah gambaran suasana pelaksaan PAS kelas 2A. Tentu bukan berarti sangat ideal dan sempurna. Hasil pekerjaan anak pun tidak semua maksimal. Namun ini adalah kondisi yang patut kita syukuri.

Kami haturkan terima kasih kepada ayah bunda atas kerja sama, partisipasi pendampingan dan pembekalan anak. Semoga ke depan senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam proses belajar hingga anak-anak menjadi pribadi sukses seperti yang kita harapkan. Generasi shalih. Kuat ilmu, kuat iman, kuat amal.

Selamat untuk ayah bunda semua, salam hormat dari kami guru kelas 2A SD Unggulan Aisyiyah Bantul. 🙏🏻😊

Wassalamu'alaikum w W.

SDUA Bantul, 14/12/2021




Selasa, 14 Desember 2021

PENGUATAN CALISTUNG SISWA KELAS RENDAH PASCA-PJJ

 Oleh: Triyanto, S.Pd.


Pandemi Covid-19 telah berlangsung hampir dua tahun dan ini adalah musibah sekaligus fenomena yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sebuah wabah penyakit yang menyebabkan jutaan orang meninggal dunia dan jutaan lainnya mengalami gejala dari yang ringan hingga berat. Data berdasarkan worldometer, sedikitnya 5.118.347 orang di seluruh dunia meninggal karena virus corona sejak awal pandemi. Dunia pun terus bekerja keras untuk menanganinya, tidak terkecuali negara Indonesia. Selain upaya menemukan obat dan vaksin yang bisa menangkal, berbagai kebijakan dibuat oleh negara untuk mengurangi resiko penularan virus. Protokol kesehatan diberlakukan ketat pada semua lini aktivitas masyarakat.

Lingkungan pendidikan adalah salah satu yang terdampak perubahan kebijakan terkait protokol kesehatan di masa pandemi. Sekolah tidak diizinkan melakukan kegiatan pembelajaran langsung tatap muka di kelas. Kegiatan belajar dilakukan secara jarak jauh atau yang biasa disingkat PJJ, dan siswa belajar dari rumah. Materi pelajaran disampaikan secara online melalui perangkat elektronik seperti HP dan laptop. Kegiatan offline bisa pula dilakukan yaitu melalui lembar kerja peserta didik (LKPD), tetapi kesemuanya tetap dikerjakan siswa di rumah.

Dalam perkembangannya, setelah pandemi Covid-19 dinyatakan menurun, pemerintah  mengizinkan sekolah-sekolah di zona hijau atau resiko rendah mulai mengadakan kegiatan pembelajaran tatap muka kembali. Tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Jam belajar pun belum sepenuhnya seperti ketika tiada pandemi. Jumlah siswa dalam satu kelas dibatasi dan hari masuk sepekan hanya dua sampai tiga kali. Siswa dan guru kembali bisa saling interaksi langsung di kelas meskipun masih terbatas.

Kegiatan belajar langsung di kelas setelah lama PJJ perlu penanganan yang betul-betul tepat, telaten dan cermat terutama kepada siswa kelas rendah sekolah dasar. Kelas 1 dan kelas 2. Siswa kelas 2 adalah siswa yang ketika kelas 1 sepenuhnya belajar jarak jauh. Padahal kelas 1 adalah masa awal anak belajar di tingkat sekolah dasar, dan dasar-dasar kompetensi membaca, menulis serta berhitung baru dimulai di kelas 1 tersebut. Akan tetapi, karena PJJ maka tingkat ketercapaian kompetensi seperti yang ditargetkan dalam kurikulum menjadi belum optimal dan tidak merata.

Sebelum lebih lanjut guru mengajar materi sesuai target kurikulum di tingkat kelas saat ini, maka perlu diketahui terlebih dahulu secara detail kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) siswa. Meskipun di tingkat kelas sebelumya sudah ada penilaian harian, penilaian tengah semester, akhir semester dan penilaian kenaikan kelas. Kegiatan penilaian yang dilakukan secara jarak jauh tentu tidak seakurat ketika kegiatan dilakukan langsung. Mengenai hal ini, guru bisa membuat soal atau perangkat khusus untuk menjajaki kemampuan calistung siswa secara lebih detail dan dilakukan secara tatap muka langsung.

Mengevaluasi atau menjajaki kemampuan dasar calistung siswa kelas 2 awal juga dilakukan penulis yang kebetulan tahun ini ditugasi mengajar kelas 2 SD Unggulan Aisyiyah Bantul. Disusunlah perangkat khusus untuk melakukan kegiatan penjajakan ini. Beberapa baris kalimat dengan tingkat kesulitan mudah ke sulit disajikan untuk mengetahui kemampuan membaca. Menulis nama benda dari mudah ke sulit, menyalin dan membuat kalimat. Pada aspek berhitung, disajikan gambar kumpulan benda, siswa diminta menghitung dan menulis lambang bilangannya. Menuliskan bilangan secara urut sampai jumlah tertentu, dan beberapa soal penjumlahan dan pengurangan sederhana.

Hasil penjajakan menunjukkan belum semua siswa dalam kondisi siap mengikuti materi pelajaran lanjut sesuai target kurikulum. Masih ada beberapa anak yang belum lancar membaca, bahkan ada anak yang bisa dikategorikan belum bisa membaca. Sebagian lagi masih lemah dalam konsep berhitung dasar. Belum mampu membilang runtut sampai bilangan tertentu. Kesulitan menjumlah atau mengurang bilangan meski masih operasi hitung sederhana. Tentang kemampuan menulis, masih banyak anak-anak yang ketika menulis kata belum lengkap hurufnya. Kadang juga didapati salah huruf, seperti b ditulis d atau sebaliknya.

Adanya kondisi anak-anak yang belum mencapai tingkat kompetensi sebagaimana standarnya anak-anak di tingkat tertentu, bisa kita maklumi. Setahun lebih anak-anak belajar di rumah. Fasilitas pendukung setiap anak berbeda. Kapasitas orang tua untuk mendampingi belajar anak-anak di rumah juga berbeda-beda, baik itu menyangkut kuantitas waktu maupun kemampuan orang tua melakukan pendampingan belajar. Tidak berlebihan bila kemudian banyak pihak mengkhawatirkan, bila pandemi tidak juga kunjung usai dan siswa belajar dengan pola demikian, bagaimana masa depan anak-anak kita. Meski sekolah sudah berusaha maksimal untuk tetap melakukan layanan belajar, tetap ada kesenjangan capaian dibanding bila kegiatan belajar dilakukan secara normal. Bersyukur, pandemi menunjukkan tanda-tanda mereda dan kegiatan belajar tatap muka sudah mulai bisa dilaksanakan.

Setelah didapatkan hasil penjajakan calistung dasar siswa, maka guru bisa menjadikan data tersebut sebagai acuan start pendampingan belajar siswa di kelas. Siswa yang masih lemah kemampuan membacanya perlu secara intensif difokuskan belajarnya untuk meningkatkan kemampuan membaca. Siswa yang lemah konsep berhitung dasar, perlu dikuatkan pemahamannya tentang konsep berhitung dan mengenal bilangan, demikian juga mengenai kemampuan menulis. Adapun tentang teknik atau metode, tentu guru sudah banyak memiliki referensi untuk melakukan pendampingan tersebut. Titik tekan yang menjadi poin krusial adalah perlunya penjajakan di awal. Ini yang kadang terlewat menganggap data nilai-nilai formal yang tercantum pada tingkat sebelumnya sudah mewakili kompetensi, pada kenyataannya belum sepenuhnya. Karena proses belajar maupun penilaian di waktu-waktu darurat pandemi kemarin hampir seluruhnya dilakukan secara online.

Kini, pandemi memang belum sepenuhnya berakhir, tetapi kondisi apapun proses belajar mengajar, proses pendidikan, tetap harus berjalan. Banyak cara yang bisa ditempuh dan kita sudah membuktikan, hanya celah yang memungkinkan mengurangi optimalnya hasil harus diantisipasi. Sebagaimana kita uraikan di atas, penguatan calistung siswa kelas bawah pada kegiatan pertemuan tatap muka terbatas termasuk hal yang sangat penting. Calistung bisa diibaratkan alat, alat untuk meraih ilmu-ilmu yang lebih luas lagi.

Akhirnya, kita semua berharap pandemi Covid-19 bisa segera terlewati, tertangani dengan tuntas sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa kembali terlaksana dengan lancar. Kekhawatiran adanya lost generation jangan sampai terjadi, dan kita sebagai guru menjadi bagian penting untuk antisipasi hal tersebut.
Bantul, 14 November 2021.
 
Referensi Pustaka:
https://covid19.go.id

https://www.worldometers.info

Senin, 02 Agustus 2021

AKU TELAH MERASAKAN SAKIT ITU

 


Oleh: Triyanto

(Catatan pengalaman berjibaku dengan gejala covid)

 

Terpapar virus covid-19 dan mengalami sakit tentu tidak kita harapkan. Tetapi, siapa yang bisa memastikan kita terhindar dari virus yang tidak kasat mata tersebut meski sudah berusaha taat protocol kesehatan 3 M atau 5 M. Dan inilah sedikit cerita pengalaman saya mengalami gejala terpapar covid yang ingin saya bagikan kepada sahabat-sahabat, semoga ada hikmahnya.

Berawal dari kedua orang tua saya yang mengalami sakit duluan, tetapi tidak sempat periksa karena ketika mau periksa saya antar ke beberapa klinik berobat kebetulan sedang tutup. Akhirnya hanya beli obat sekedarnya dan istirahat di rumah.

Hari berganti, semingu lebih, bapak saya tidak menunjukkan kondisi semakin membaik, bahkan semakin lemah.

Sempat terfikir dan hanya menduga kalau bapak dan ibu terpapar covid, dari gejala-gejala yang dirasakan. Konsultasi dengan kerabat yang kebetulan kerja sebagai perawat di RS PKU. Dan indiaksinya memang bisa dipastikan bapak/ibu terpapar virus covid-19. Kerabat saya itu pun membantu mengkonsultasikan dengan dokter dan memintaka resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi bapak dan ibu.

Dilema, melihat bapak dan ibu, terutama bapak yang sampai tidak mau makan, hanya terbaring lemah. Akhirnya nekat tetap menemani bapak dan ibu, setidaknya memotivasi untuk mau makan dan minum obat meski ada resiko ikut terpapar.

Dan benar, pulang dari tempat bapak ibu, saya mulai merasa tidak enak badan. Badan merasa dingin. Sepanjang hari itu dan berlanjut sampai tiga hari. Masih bisa beraktivitas, bahkan hari ke 4 bertepatan Hari Raya Idul Adha, saya sempatkan membersamai panitia qurban dengan fokus di sekretariat dan mulai dengan sadar jaga jarak lebih optimal dari teman-teman.

Siang dzuhur, aktivitas qurban belum selesai masih puncak kesibukan, tapi saya merasa lelah, badan terasa panas dan terpaksa bolos pulang duluan. Saya ambil thermo gun, ternyata suhu tubuh 39,5. Ah, ini saatnya isolasi mandiri. Saya bilang istri akan kondisi saya dan dengan lembut ia sigap memyiapkan kamar tersendiri yang harus saya tempati agar tidak langsung berinteraksi dengan anggota keluarga lain khususnya anak-anak. Isolasi.

Sejak saat itu saya hanya banyak istirahat, badan demam hampir setiap saat, sedikit turun pasca minum obat penurun panas namun tidak lama suhu badan naik lagi. Kepala pun terasa pusing, berdiri dan berjalan menjadi pekerjaan berat dengan kondisi saat ini.

Saya berusaha menata hati, pasrah dan bersabar, inilah sakit covid itu. Namun terbersit kekhawatiran bila kondisi semakin buruk dan misal sesak nafas seperti berita-berita yang banyak beredar. Saya tidak punya tabung oksigen dan belum pernah tahu cara kerja tabung oksigen. Kemana saya harus cari pertolongan.

Saya pun berusaha mencari nomor Puskesmas kecamatan, ingin melaporkan bahwa saya isolasi mandiri di rumah, dengan harapan ada arahan dan pantauan untuk selanjutnya. Dan akhirnya saya mendapatkan nomor salah satu petugas Puskesmas.

Setelah komunikasi beberapa waktu lewat WA, saya kemudian didaftarkan untuk mengikuti tes swab di Puskesmas Jetis 1 esok hari jam 8.

Sesuai info petugas Puskesmas, dengan badan yang sudah merasa lemah dan pusing saya paksakan berangkat ke Puskesmas, jam 8 pagi tepat. Kebetulan jarak rumah ke puskesmas tidak terlalu jauh, 3 menit naik motor sampai. Sampai Puskesmas ambil antrian swab nomor 28. Dan pasien terus berdatangan. 15-20 menit menunggu dan melihat antrian masih banyak, sedang kepala terus terasa pusing, badan sama sekali tidak nyaman untuk berlama lama duduk apalagi berdiri menunggu antrian. Bila saya paksakan bisa jadi saya akan pingsan dalam antrian ini.

Tidak berfikir lama, karena kondisi semakin tidak nyaman, saya pun keluar antrian tunggu. Menuju parkiran, ambil motor dan pulang. Segera sesampai di rumah kembali hanya bisa terbaring. Tidak jadi swab.

 

Tetiba WA masuk dari kerabat saya yang perawat, menanyakan kabar dan memberi nomor salah satu dokter RS PKU. “De, coba konsultasikan kondisi pak de ke beliau, nanti tanya obatnya apa misal suruh ambil ke RS tak ambilke.” Demikian ucapnya dalam WA.

Saya pun menghubungi nomor dokter tersebut, ceritakan kondisi saya dan selang berapa menit beliau pun membalas demikian:

 

“Waalaikum salam

Jika tidur lebih banyak tengkurap.

Tetep olahraga ringan

Berjemur..

Minum wedhang jahe

Minum QUSTHU hindi 3x 1 capsul

Multivitamin lanjutkan

Untuk meriang/nyeri/demam/pusing kepala bisa minum ibuprofen 3x1 kang”

 

Dokter itu menyebut saya dengan kata “kang” karena dia memang lebih muda dari saya, dan saya pun sudah kenal lama juga dengan dia.

Beberapa hari saya berusaha laksanakan aktivitas dan mengkonsumsi obat+vitamin sesuai arahan dokter tersebut. Setiap hari istri dengan telaten menyiapkan vitamin dan obat yang harus saya konsumsi dan asupan makanan tentunya. Meski ketika makan sungguh tiada nikmat dirasakan. Rasa makanan aneh, dan bila dipaksakan mual. Banyak teman dan kerabat yang memotivasi agar saya tetap banyak makan. "Yang penting makan yang banyak" kata mereka. Sungguh ini motivasi yang bisa saja benar, tapi dalam hati saya katakan, jangankan makan banyak, sesuap dua suap saja sudah terasa mual dan sangat-sangat tidak enak makan. Maka saya pun hanya berusaha yang penting ada makanan yang masuk dalam tubuh, tidak harus banyak karena memang tidak mampu untuk makan dengan porsi normal, yang penting ada makanan untuk energi badan beberapa waktu ke depan. Demikian saya menata diri.

Demam masih terus muncul, kepala pusing seperti tiada mau pergi. Menyentuh air, terasa dingin meski ketika memang ada keperluan ke kamar kecil untuk buang air tetap mampu lakukan dengan memaksakan diri. Berjalan yang hanya berapa meter ke kamar kecil terasa susah, ibarat seperti layang-layang putus, sempoyongan, dan nafas terasa ngos-ngosan. Ketika waktu sholat tiba, terpaksa mengambil ruksyah tayamum karena berwudlu serasa tidak mampu. Dan dalam beberapa hari, saya mengerjakan sholat sambil duduk karena tidak mampu sambil berdiri, bahkan kadang sambil berbaring.

Hari berganti, badan semakin merasa lemah. Persendian seakan tidak mampu menopang badan untuk bergerak apalagi beraktivitas. Bersabar. Inilah mungkin yang dimaksud sakit covid belum ada obatnya. Meski vitamin dan obat penurun panas serta demam rutin diminum namun badan masih saja terasa sakit.

Tepat hari ke 10 dari awal saya merasakan gejala, tiba-tiba badan sudah tidak demam. Obat penurun panas tidak saya minum lagi dan seharian sudah tidak kambuh lagi demamnya. Alhamdulillah. Berkurang rasa tidak nyaman, tiada demam walau kepala masih merasakan pusing dan batuk-batuk justru semakin sering.

Di group WA keluarga besar saya simak ada yang mengirim tulisan tentang tidak perlunya pasien covid tes swab lagi pasca isoman, karena virus hanya akan bertahan 7-9 hari dalam tubuh kemudian mati sendiri. Demikian diantara info pada tulisan tersebut dengan mencantumkan sumber yang sepertinya valid.

Sungguh, info itu menguatkan diri saya. Berarti ketika saya sudah mengalami gejala lebih sepuluh hari, virus dalam tubuh sudah otomatis mati. Makanya demam tetiba hilang sendiri. Artinya badan saya sudah tidak berjuang melawan virus lagi, tapi karena selama sakit kemarin bisa saja ada anggota bagian dalam tubuh yang ikut terluka maka rasa lelah dan pusing masih sedikit terasa. Begitu saya menebak kondisi diri saya sendiri kemudian.

Hari ke 11 sore, masih dengan suasana yang dominan berbaring, telpon berdering. Nomor dari adik saya yang masih tinggal serumah dengan bapak/ibu. Saya angkat dan terdengar bapak berbicara, tanya kabar kondisiku sekaligus mengabarkan kalau bapak dan ibu sudah sehat sekarang.

Alhamdulillah, masyallah. Sungguh ini kabar yang menentramkan. Karena ketika awal saya sakit, saya tahu persis kondisi bapak ibu masih sangat lemah, belum tampak kondisi membaik. Sedangkan saya akhirnya tidak bisa melanjutkan menemai bapak ibu dalam proses perawatan dan pemyembuhan. Alhamdulillah, adik ragil saya yang baru kelas 1 SMK saat ini tetap bersama bapak ibu, ikut membantu mengkondisikan bapak ibu. Dan dia tetap sehat. Selain itu, adik saya satunya yang sekarang dalam kondisi mengandung beberapa bulan, juga tidak tega membiarkan bapak ibu, dan ia pun sering ngaruhke tanpa takut sama sekali bila ikut terpapar. Menemani minum obat, vitamin, dan bahkan kadang menyuapi makan bapak. Alhamdulillah, ia pun tetap sehat tidak terpapar virus.

Kabar telpon dari bapak ibu dan juga keyakinan virus dalam tubuh sudah mati, membuat badan ini seperti muncul energi lagi. Ah, saya sudah sembuh. Hanya mungkin butuh waktu untuk kembali sehat bertenaga seperti sedia kala. Rasa pusing pun berangsur berkurang. Dan badan mulai bisa untuk sedikit beraktivitas, jalan keluar rumah, berjemur, dan menyapu halaman mulai bisa. Alhamdulillah.

Hari ke 14 tepat, saya sudah merasa 95% badan sehat kembali. Saya lihat anak saya yang berusia 1 tahun1 bulan, de Faraz, dia tampak begitu kangen dengan gendongan ayahnya. Tetapi istri mengatakan, sempurnakan isoman 14 hari. Esok baru boleh bopong dede. Ah, rindu ini sudah sangat berat untuk ditahan. Tatapan polos si kecil yang seakan memahami kondisi ayahnya sungguh semakin menggemaskan. Namun sebagai ikhtiar kesempurnaan, saya pun tetap menahan diri. Hingga pukul 00.00 malam berlalu yang artinya hari telah berganti, saya dengar dede terbangun dan menangis. Dengan keyakinan insyallah saya sudah sembuh, sehat, de Faraz pun aku bopong. Allahu akbar, inilah saat yang begitu membahagiakan setelah dua minggu saya tidak bisa langsung menyentuhnya. De Faraz pun tampak seperti sangat senang tapi juga bingung karena tiba-tiba dibopong ayahnya.

Alhamdulilah, demikian sedikit kisah yang saya alami. Meski sampai saya sembuh akhirnya saya tidak sempat swab apakah benar covid atau bukan, tetapi dari arahan kerabat yang perawat serta konsultasi dengan dokter RS PKU, saya hampir pasti bisa dikatakan telah terpapar virus tersebut. Dan sekarang atas izin Allah sudah kembali sehat. Tidak lupa saya pun melaporkan pada petugas Puskesmas yang dulu sempat memberi arahan dan menjadwalkan swab. Saya katakan pada beliau setelah sebelumnya mohon maaf karena tidak bisa ikut swab, “Bu, Alhamdulillah setelah isoman 14 hari insyaallah saya sudah sembuh kembali.” Beliapun menanyakan masih adakah keluhan dan adakah anggota keluarga yang mengalami gejala, saya pun jawab.;”Alhamdulillah, istri dan dua anak saya sehat, dan sudah tidak ada keluhan kecuali hanya merasa belum full tenaga, mungkin butuh waktu pemulihan.”

 

Bantul, 2-8-2021

Selasa, 25 Mei 2021

Barakallahu laka

Dia baru akan lulus SMA tahun ini, beberapa waktu lalu minta dicarikan referensi untuk kuliah sekaligus mondok di Jogja.

Tetapi, tiba-tiba ada laki-laki yang secara penilaiannya sholih datang dan meminangnya untuk segera menikah. Padahal, laki-laki tersebut orang yang belum begitu dikenalinya sebelumnya.
Hanya butuh beberapa waktu untuk berfikir, dan ada kecenderungan ia menerimanya. Ayah ibunya yang kebetulan kakak saya pun sempat panik, minta pendapat saya.
Diskusi keluarga berjalan. Berbagai pertimbangan dikemukakan. Saya pun minta ijin untuk bisa komunikasi lebih detail dengan si laki-laki yang menghendaki ponakan saya tersebut.
Akhirnya, proses berlanjut.
dengan mengharap Ridho Allah swt. Insyallah pernikahan akan dilangsungkan Jumat besok, 28 Mei 2021.
Semoga lancar, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Aamiin..
Saya pun bersiap menyeberangi selat untuk bisa hadir menyaksikan langsung pernikahannya, sekaligus nderekke bapak saya, mbah kakungnya. Ke Tanjung Enim, Sumatera Selatan.



Minggu, 15 November 2020

MENULISLAH

Oleh: Triyanto, S.Pd.


Ada ungkapan yang masyhur kita dengar sebagai bentuk motivasi untuk menulis, "Menulislah, dengan menulis engkau ada". Demikian, saya tidak tahu siapa pertama yang mengemukakan hal tersebut, tetapi jelas maknanya. Menulislah, lewat tulisanmu maka terbaca hal-hal yang kamu lakukan maupun ide-ide yang kamu punya. Dengan menulis maka orang lain jadi tahu walaupun si penulis sudah tiada atau tidak di hadapan pembaca. Pramoedya Ananta Toer bahkan mengatakan,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”


Jejak sejarah pun banyak terungkap lewat tulisan. Meski di era saat ini, tulisan bukan satu-satunya media untuk mengungkapkan sesuatu. Bisa juga lewat video maupun rekaman suara. Tetapi, menulis tetap tidak akan ketinggalan jaman. Tulisan masih dan akan terus menjadi salah satu media komunikasi yang dibutuhkan manusia.


Permasalahan muncul ketika tidak setiap orang mampu menulis. Tidak setiap kita memiliki kompetensi untuk mengemukakan ide, gagasan, bahkan informasi lewat tulisan. Bukan hanya orang awam, bahkan seorang guru belum tentu terbiasa membuat tulisan yang runtut dan layak untuk dibaca orang lain. Padahal di antara tuntutan era teknologi 4.0 kemampuan menulis seorang guru menjadi sangat dibutuhkan bahkan teramat penting.


Saya pribadi bukanlah orang yang mahir menulis. Tetapi saya merasa ada perkembangan yang signifikan tentang kemampuan menulis ini dibanding beberapa waktu lalu, apalagi bila menengok perjalanan sejak saya belajar di sekolah, menulis adalah di antara momok bagi saya.


Ketika saya masih di tingkat SD, di antara pelajaran yang kurang saya sukai adalah Bahasa Indonesia khususnya materi membuat karangan. Pasti seperti tercekat tangan ini untuk mau menuliskan kata dan untaian kalimat. Tugas akhirnya hanya jadi dalam bentuk minimalis, baris sedikit, banyak coretan dan hapusan.


Menginjak remaja, tepatnya di usia SMK saya kadang merasa frustasi bila kakak saya yang bekerja di luar provinsi menulis surat untuk keluarga, dan nanti pasti ayah ibu meminta saya yang membuat surat balasan. Mendapat surat dari saudara yang menyampaikan kabar tentu saya juga senang, tetapi bahwa kemudian saya yang harus membuat surat balasan, ini yang bikin pusing mikirnya. Seperti tidak muncul ide, bagaimana harus menulis kata demi kata untuk surat tersebut.


Hal paling parah saya rasakan ketika saya sudah sampai masanya untuk menyusun tugas akhir skripsi pada masa kuliah. Macet. Buntu. Beberapa semester saya lalui dengan seakan nol progres. Sudah tidak ada kuliah teori, tetapi kemauan menulis belum ada. Hanya registrasi, melakukan pembayaran kuliah di awal semester kemudian menghilang dari kampus, tidak berangkat kuliah karena tidak ada mood untuk mulai mengerjakan skripsi. Hingga hampir saja saya menyerah dan memupus harapan orang tua untuk anaknya memiliki titel sarjana.


Dalam kebuntuan mengerjakan tugas akhir, ada sahabat-sahabat yang mencoba memotivasi. Mulai dari yang memakai bahasa halus hingga yang nadanya memarahi, dengan harapan saya mau menuntaskan tugas akhir skripsi. Entah berapa sahabat yang memotivasi saya untuk tetap semangat. Di antara yang saya ingat adalah nasihat dan motivasi dari Ibu Siti Jazamah, beliau adalah karyawan senior SMA Muhammadiyah Pleret. Kebetulan waktu itu, sebelum lulus kuliah saya sudah diminta membantu mengajar sebagai guru di SMA Muhammadiyah Pleret. “Mas Tri”, demikian beliau memanggail saya. “Sampeyan sebaiknya segera selesaikan tugas kuliah. Di sini kalau nuruti gawean tidak akan selesai, sampeyan pasti mampu,” tuturnya. “Biasanya orang yang sungguh-sungguh ikhlas mengabdi di sekolah ini, besok akan mendapatkan aktivitas dan linkungan kerja yang lebih baik”. Demikian beliau melanjutkan. Kalimat akhir beliau sekaligus sebagai doa. Beliau tahu bagaimana saya bekerja di sekolah tersebut, dan memang sekolah yang kondisinya waktu itu bisa dibilang belum membanggakan. Siswanya sedikit dan rata-rata anak dengan motivasi belajar sangat rendah.


Dorongan dari para sahabat akhirnya membuat saya mau memaksakan diri untuk menulis, menyusun tugas akhir skripsi. Kalimat demi kalimat, paragraph demi paragraph terlampaui juga walau dengan teramat sangat berat. Hingga hari yang membangakan datang, saya lulus kuliah dengan diantaranya mendapatkan nilai A untuk tugas akhir. Allahu akbar.


Doa dari Ibu Siti Jazamah masih saya ingat, ketika kemudian saya diterima menjadi salah satu guru SD Ungulan Aisyiyah Bantul. Sebuah kebanggaan saya bisa berada di sekolah ini dan menjadi di antara guru angkatan pertama. Tentu kemudian tertantang juga untuk terus meningkatkan kompetensi agar amanah sebagai guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul bisa terlaksana dengan baik.


Pengalaman sulit menulis termasuk prioritas untuk saya benahi. Melalui aktivitas di organisasi, pelatihan dan hobi menggunakan media sosial khususnya facebook saya ikhtiarkan untuk peningkatan kapasitas ini. Saya juga membuat blog untuk memposting tulisan-tulisan saya. Abihusna.blogspot.com saya namai blog tersebut. Atas ijin Allah SWT, Alhamdulillah, saya juga berhasil menerbitkan buku pertama saya melalui penerbit resmi Eduvation, yaitu buku yang berjudul “Karena Kita Harus Berbuat”.


Sebagai guru juga saya berusaha membimbing siswa untuk  berlatih dan terbiasa menulis. Saya tidak ingin anak didik saya mengalami hal seperti saya dulu, sulit menulis. Melalui bimbingan yang tepat saya yakin siswa kelas rendah SD pun bisa menulis. Alhamdulillah, pada kelas SD yang pernah saya dampingi sebagai guru kelas, karya-karya sederhana ini bisa muncul:

·         Antologi Cerpen Siswa Kelas 3 Zaid Bin Tsabit,

·        Kumpulan Cerpen Karya Siswa Kelas 2 Abu Dzar,

·        Kumpulan Cerita Pendek Sederhana Siswa Kelas 1 Bilal Bin Rabbah,

·         Kumpulan Cerita Siswa Kelas 1 Amru Bin Ash.


Alhamdulillah, syukur dan berharap kita hanya kepada Alah SWT. Begitu lemah kita di hadapan-Nya. Lika-liku setiap kita menjadi proses yang pantas untuk menjadi koreksi sekaligus pemicu untuk memperbaiki diri. Termasuk kemampuan kita dalam menulis. Sedikit hal yang saya tuangkan ini, semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi.


Bantul, 15 November 2020.


Minggu, 18 Oktober 2020

MENDUKUNG BUKAN KARENA IMING-IMING DAN JANJI


Forum guru sekolah swasta yang tergabung dalam PGSI Kabupaten Bantul mengadakan silaturahmi bersama Paslon NoTo di Gandung Pardiman Centre, Imogiri, Bantul, Selasa 13 Oktober 2020.


Dalam kesempatan ini PGSI menyatakan dukungan kepada paslon NoTo dalam pilkada Bantul 2020. Pernyataan ini disampaikan resmi oleh ketua PGSI Bapak Drs. H. Encep Komarudin, M.Pd.I.


Dalam kesempatan yg sama, Abi Husna salah satu anggota PGSI mengatakan, kami guru-guru swasta menyatakan dukungan kepada paslon Noto bukan karena iming-iming ataupun janji besok akan dapat apa. Akan tetapi ini adalah murni menyangkut panggilan moral untuk menyampaikan pendapat calon pemimpin yang kita pandang lebih tepat dan amanah bila terpilih.


Lebih lanjut Abi Husna mengatakan, lima tahun kepemimpinan Bapak Drs. H. Suharsono terbukti Bantul kondusif, pembangunan gencar dan baik, serta Bantul meraih berbagai penghargaan diantaranya dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena pengelolaan pemerintahan yang transparan dan bebas korupsi.


Kondisi kondusif dan prestasi Bantul yang sangat baik ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Oleh karenanya kami memandang tepat bila Bapak Suharsono bisa terpilih lagi. Apalagi saat ini berpasangan dengan Bapak Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd. sebagai wakilnya dan masyarakat sudah tahu track record beliau yang juga sangat bagus. Pungkas Abi Husna.


*KabarBantul



INGIN GOLPUT PILKADA TAHUN INI?

Sebagian masyarakat mungkin jenuh dengan proses pemilihan semacam Pilkada, hingga terbersit untuk tidak menggunakan hak suaranya alias golput.

Banyak faktor penyebabnya. Ada yg menganggap ini hanya even lima tahunan dan tidak akan berdampak apa-apa, siapapun yang terpilih, kehidupan tetap begini-begini saja. Ada yg merasa tidak ada calon ideal seperti yang dia harapkan. Ada yang menilai Pilkada adalah aktivitas politik dan politik identik kotor, culas, korup, dsb. Ada juga yang  tidak mau muncul masalah dengan terlibat dukung mendukung. Dan berbagai alasan lain.

Sahabat, memilih ataupun tidak memang adalah hak kita sendiri. Akan tetapi yang perlu diketahui, proses politik semacam pilkada ataupun di atasnya sangatlah berpengaruh terhadap tatanan kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berbagai hal diputuskan melalui mekanisme politik. Hingga menyangkut hajat hidup kita seperti jaminan kesehatan, pendidikan, harga-harga bahan pokok dll. Dan di tingkat daerah, Bupati menjadi diantara peran sentral dalam berbagai kebijakan tersebut.

Dalam kondisi semua kandidat orang-orang hebat, baik dan amanah, maka siapapun yang jadi akan baik dan rakyat akan terayomi. Tetapi, fakta menunjukkan, adakalanya terdapat kandidat yang tidak amanah. Dan ketika terpilih sebagai kepala daerah yang dilakukan adalah; korupsi, kolusi, nepotisme, berusaha membangun dinasti politik, mementingkan kelompoknya, dan laku tidak amanah lainnya. 

Kita tidak tahu, kandidat Pilkada Bantul apakah semua orang amanah. Dan kita pun mesti berprasangka baik. Hanya saja kehati-hatian,  jernih dalam menimbang dan mengetahui track record kandidat sangatlah penting. Juga siapa pengusungnya.

Setelah betul-betul menimbang dengan cermat, adalah hak anda semua untuk memilih. 1 atau 2. 

Saya pribadi melihat, Bantul yang sudah sangat kondusif dan baik ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Memberi kesempatan ke dua bagi Bupati petahana, Bapak Drs. H. Suharsono, insyaallah lebih meyakinkan untuk amanah 5 tahun ke depan. Beliau telah menunjukkan bukti. Meski kemarin bekerja bersama wakil yang saat ini juga maju. Tetapi saya percaya, Bupati tentunya lebih dominan dalam peran mengambil kebijakan. Dan kita perlu bijak untuk memilihnya kembali. Bersama Bapak Drs. H. Totok Sudarto, M.Pd. kita pun semakin yakin.

Bila anda sependapat dengan saya, maka mari, jangan sampai golput. Niatkan suara kita untuk ikut mempertahankan Bantul tetap baik, dan semakin baik.

Bismillah. NOTO


*Abi Husna

Sarasehan Pendidikan Teguhkan Optimisme Kemajuan Sekolah Muhammadiyah Cabang Jetis

  Jetis, 4 Agustus 2026 – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis bekerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul menyelengga...