Hari ini, angka empat puluh lima telah menyapa.
Sebuah penanda waktu yang tidak sekadar
berhenti pada hitungan, melainkan menghadirkan jeda yang mengajak untuk
menengok perjalanan dengan lebih jernih. Bukan untuk memastikan bahwa semuanya
telah sampai, melainkan untuk bertanya dengan lebih jujur: apakah
langkah-langkah yang ditempuh selama ini telah berada di arah yang semestinya?
Di titik ini, saya tidak merasa telah sampai
pada kematangan, apalagi pada kepastian. Justru yang terasa adalah ruang
belajar yang masih luas, bahkan mungkin semakin terbuka. Banyak hal yang dahulu
diyakini, kini ingin ditimbang kembali. Banyak langkah yang telah diambil, kini
ingin diluruskan niatnya.
Empat puluh lima tahun terasa seperti jeda
yang lembut, bukan untuk berhenti, tetapi untuk merapikan arah.
Saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu
meminta kita untuk bergerak lebih cepat, tetapi sering kali mengajak kita untuk
bergerak lebih tepat. Tidak semua yang bisa diraih perlu dikejar, dan tidak
semua yang tampak penting benar-benar bernilai. Ada hal-hal yang justru menjadi
jernih ketika kita memberi ruang untuk hening.
Ketika menengok ke belakang, saya menjumpai
langkah-langkah yang mungkin pernah terlalu tergesa. Ada saat-saat di mana
ambisi berjalan lebih cepat daripada ketulusan. Ada pula hari-hari ketika peran
sebagai pendidik dan pengabdi masyarakat terasa bergerak dalam lingkar
rutinitas, belum sepenuhnya menjelma sebagai panggilan jiwa yang hidup.
Dari sana, saya belajar bahwa kesibukan
memperbaiki dunia luar kerap membuat kita luput merawat ruang batin sendiri.
Kita begitu serius membenahi yang tampak, namun kadang abai pada yang menjadi
sumber dari segala sikap dan keputusan: hati.
Maka dengan kerendahan hati, saya mengakui masih
ada ego yang perlu ditundukkan. Agar setiap karya yang lahir, baik berupa
tulisan, bimbingan, maupun interaksi sosial, benar-benar bertumpu pada niat
yang lebih jernih. Agar apa yang dilakukan tidak sekadar selesai, tetapi
memiliki makna.
Dalam perjalanan ini, tidak sedikit rencana
yang berubah arah. Ada harapan yang tertunda, bahkan mungkin terlepas. Namun di
situlah saya belajar untuk tidak hanya menggenggam, tetapi juga merelakan.
Ikhtiar tetap perlu ditunaikan dengan sungguh-sungguh, sementara hasilnya
diserahkan dengan lapang.
“Dan kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau
menjadi puas.”
Ayat ini seolah menjadi pengingat yang
menenangkan: bahwa ada janji kebaikan yang tidak selalu harus dipercepat oleh
keinginan kita, tetapi cukup dijemput dengan kesungguhan dan kepercayaan.
Kini, saya ingin melangkah dengan ritme yang
lebih tenang, tanpa kehilangan kejernihan arah. Bukan lagi mengejar riuhnya
pencapaian, melainkan mengupayakan jejak kebermanfaatan yang lebih mengakar.
Setiap langkah diupayakan sebagai proses menanam benih kebaikan yang mungkin
tidak segera tampak, tetapi diyakini akan menemukan jalannya sendiri untuk
memberi cahaya.
Di usia ini, keinginan untuk terlihat
perlahan ingin digantikan dengan upaya untuk berarti. Bukan sesuatu yang mudah,
dan belum tentu sepenuhnya terwujud, tetapi setidaknya menjadi arah yang ingin
terus dijaga.
Saya ingin lebih sungguh dalam hal-hal yang
sering kali dianggap sederhana: meneguhkan ibadah agar tidak sekadar menjadi
rutinitas, merawat lisan agar tetap santun, meluaskan kesabaran dalam
membersamai keluarga, serta menjaga kejujuran dalam setiap amanah.
Sebab kualitas hidup sering kali tidak
ditentukan oleh besarnya peristiwa, melainkan oleh ketepatan sikap dalam
hal-hal kecil yang terus berulang.
Empat puluh lima juga menghadirkan kesadaran
tentang keterbatasan. Usia yang bertambah sekaligus mengingatkan bahwa
kesempatan tidak selalu panjang. Ada banyak hal yang mungkin belum sempat
diperbaiki, dan ada waktu yang tidak bisa diulang kembali.
Maka jika hari ini masih diberi usia, semoga
ini menjadi ruang perbaikan—bukan sekadar perpanjangan waktu. Ruang untuk
meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar, serta menata ulang prioritas agar
lebih selaras dengan tujuan hidup yang lebih hakiki.
Saya berharap, pada fase ini, pikiran tetap
terjaga untuk terus belajar, dan hati tetap lapang untuk menerima kebenaran,
dari mana pun ia datang. Setiap amanah di ruang pendidikan maupun di tengah
masyarakat, ingin saya jalani dengan integritas yang terjaga: tegas tanpa
kehilangan kelembutan, berwibawa tanpa menjauh dari kesederhanaan.
Perjalanan ini masih terbuka, dan justru
terasa semakin bernilai untuk dijalani dengan kesadaran yang lebih utuh. Saya
ingin terus berkarya, memperluas manfaat, serta menjadikan sisa usia sebagai
ladang amal yang dirawat dengan kesungguhan.
Untuk diri saya sendiri, saya ingin berpesan:
Teruslah melangkah, sambil sesekali menengok
arah.
Jangan lelah belajar, meski harus berulang dari awal.
Lakukan kebaikan, meski kecil dan tak selalu terlihat.
Dan jagalah hati, sebab darinya seluruh amal berakar.
Empat puluh lima tahun,
bukan penanda bahwa perjalanan telah mapan,
melainkan pengingat agar setiap langkah ke depan
semakin diupayakan berada di jalan yang lebih baik,
lebih jernih, dan lebih dekat kepada-Nya.
Semoga setiap
jejak yang tertinggal, sekecil apa pun, tetap bernilai di hadapan-Nya.
14042026-Triyanto
M. Faraz

Tidak ada komentar:
Posting Komentar