Selasa, 14 April 2026

EMPAT PULUH LIMA

 

Hari ini, angka empat puluh lima telah menyapa.

Sebuah penanda waktu yang tidak sekadar berhenti pada hitungan, melainkan menghadirkan jeda yang mengajak untuk menengok perjalanan dengan lebih jernih. Bukan untuk memastikan bahwa semuanya telah sampai, melainkan untuk bertanya dengan lebih jujur: apakah langkah-langkah yang ditempuh selama ini telah berada di arah yang semestinya?

Di titik ini, saya tidak merasa telah sampai pada kematangan, apalagi pada kepastian. Justru yang terasa adalah ruang belajar yang masih luas, bahkan mungkin semakin terbuka. Banyak hal yang dahulu diyakini, kini ingin ditimbang kembali. Banyak langkah yang telah diambil, kini ingin diluruskan niatnya.

Empat puluh lima tahun terasa seperti jeda yang lembut, bukan untuk berhenti, tetapi untuk merapikan arah.

Saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk bergerak lebih cepat, tetapi sering kali mengajak kita untuk bergerak lebih tepat. Tidak semua yang bisa diraih perlu dikejar, dan tidak semua yang tampak penting benar-benar bernilai. Ada hal-hal yang justru menjadi jernih ketika kita memberi ruang untuk hening.

Ketika menengok ke belakang, saya menjumpai langkah-langkah yang mungkin pernah terlalu tergesa. Ada saat-saat di mana ambisi berjalan lebih cepat daripada ketulusan. Ada pula hari-hari ketika peran sebagai pendidik dan pengabdi masyarakat terasa bergerak dalam lingkar rutinitas, belum sepenuhnya menjelma sebagai panggilan jiwa yang hidup.

Dari sana, saya belajar bahwa kesibukan memperbaiki dunia luar kerap membuat kita luput merawat ruang batin sendiri. Kita begitu serius membenahi yang tampak, namun kadang abai pada yang menjadi sumber dari segala sikap dan keputusan: hati.

Maka dengan kerendahan hati, saya mengakui masih ada ego yang perlu ditundukkan. Agar setiap karya yang lahir, baik berupa tulisan, bimbingan, maupun interaksi sosial, benar-benar bertumpu pada niat yang lebih jernih. Agar apa yang dilakukan tidak sekadar selesai, tetapi memiliki makna.

Dalam perjalanan ini, tidak sedikit rencana yang berubah arah. Ada harapan yang tertunda, bahkan mungkin terlepas. Namun di situlah saya belajar untuk tidak hanya menggenggam, tetapi juga merelakan. Ikhtiar tetap perlu ditunaikan dengan sungguh-sungguh, sementara hasilnya diserahkan dengan lapang.


“Dan kelak, Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”

Ayat ini seolah menjadi pengingat yang menenangkan: bahwa ada janji kebaikan yang tidak selalu harus dipercepat oleh keinginan kita, tetapi cukup dijemput dengan kesungguhan dan kepercayaan.

Kini, saya ingin melangkah dengan ritme yang lebih tenang, tanpa kehilangan kejernihan arah. Bukan lagi mengejar riuhnya pencapaian, melainkan mengupayakan jejak kebermanfaatan yang lebih mengakar. Setiap langkah diupayakan sebagai proses menanam benih kebaikan yang mungkin tidak segera tampak, tetapi diyakini akan menemukan jalannya sendiri untuk memberi cahaya.

Di usia ini, keinginan untuk terlihat perlahan ingin digantikan dengan upaya untuk berarti. Bukan sesuatu yang mudah, dan belum tentu sepenuhnya terwujud, tetapi setidaknya menjadi arah yang ingin terus dijaga.

Saya ingin lebih sungguh dalam hal-hal yang sering kali dianggap sederhana: meneguhkan ibadah agar tidak sekadar menjadi rutinitas, merawat lisan agar tetap santun, meluaskan kesabaran dalam membersamai keluarga, serta menjaga kejujuran dalam setiap amanah.

Sebab kualitas hidup sering kali tidak ditentukan oleh besarnya peristiwa, melainkan oleh ketepatan sikap dalam hal-hal kecil yang terus berulang.

Empat puluh lima juga menghadirkan kesadaran tentang keterbatasan. Usia yang bertambah sekaligus mengingatkan bahwa kesempatan tidak selalu panjang. Ada banyak hal yang mungkin belum sempat diperbaiki, dan ada waktu yang tidak bisa diulang kembali.

Maka jika hari ini masih diberi usia, semoga ini menjadi ruang perbaikan—bukan sekadar perpanjangan waktu. Ruang untuk meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar, serta menata ulang prioritas agar lebih selaras dengan tujuan hidup yang lebih hakiki.

Saya berharap, pada fase ini, pikiran tetap terjaga untuk terus belajar, dan hati tetap lapang untuk menerima kebenaran, dari mana pun ia datang. Setiap amanah di ruang pendidikan maupun di tengah masyarakat, ingin saya jalani dengan integritas yang terjaga: tegas tanpa kehilangan kelembutan, berwibawa tanpa menjauh dari kesederhanaan.

Perjalanan ini masih terbuka, dan justru terasa semakin bernilai untuk dijalani dengan kesadaran yang lebih utuh. Saya ingin terus berkarya, memperluas manfaat, serta menjadikan sisa usia sebagai ladang amal yang dirawat dengan kesungguhan.


Untuk diri saya sendiri, saya ingin berpesan:

Teruslah melangkah, sambil sesekali menengok arah.
Jangan lelah belajar, meski harus berulang dari awal.
Lakukan kebaikan, meski kecil dan tak selalu terlihat.
Dan jagalah hati, sebab darinya seluruh amal berakar.

Empat puluh lima tahun,
bukan penanda bahwa perjalanan telah mapan,
melainkan pengingat agar setiap langkah ke depan
semakin diupayakan berada di jalan yang lebih baik,
lebih jernih, dan lebih dekat kepada-Nya.

Semoga setiap jejak yang tertinggal, sekecil apa pun, tetap bernilai di hadapan-Nya.


14042026-Triyanto M. Faraz

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EMPAT PULUH LIMA

  Hari ini, angka empat puluh lima telah menyapa. Sebuah penanda waktu yang tidak sekadar berhenti pada hitungan, melainkan menghadirkan j...