Selasa, 13 Januari 2026

Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai; Mitos Atau...


Pernah dengar larangan demikian. Entah dari orang tua, warga sekitar pantai, atau sekadar peringatan yang beredar dari mulut ke mulut: jangan pakai baju hijau kalau ke pantai. Sebagian langsung patuh, sebagian lagi tersenyum sinis, menganggapnya sekadar cerita lama yang tak masuk akal.


Di era serba rasional seperti sekarang, larangan semacam itu memang mudah dicap mitos. Apalagi jika dikaitkan dengan kisah-kisah mistis yang sulit diterima akal sehat. Tidak sedikit yang lalu memilih bersikap ekstrem: menolak mentah-mentah, bahkan menertawakan apa pun yang berlabel “kearifan lokal”.


Namun, benarkah larangan itu berdiri sepenuhnya di atas keyakinan mistis? Ataukah kita terlalu cepat menutup telinga sebelum memahami pesan di baliknya?

Masyarakat tradisional, khususnya yang hidup di wilayah pesisir, mengenal laut bukan sebagai tempat wisata, melainkan ruang hidup yang penuh risiko. Mereka menyaksikan sendiri betapa laut bisa berubah dalam hitungan menit. Ada yang terseret ombak, ada yang tak kembali, dan ada pula yang sulit ditemukan meski jaraknya tak seberapa jauh dari bibir pantai.


Dalam kondisi seperti itu, pesan keselamatan tidak disampaikan dengan istilah teknis. Ia harus sederhana, mudah diingat, dan cukup kuat untuk ditaati. Maka lahirlah larangan-larangan praktis, termasuk soal warna pakaian. Bukan karena laut “memilih” korban, tetapi karena manusia perlu dibuat lebih waspada.


Baru di titik inilah nalar modern menemukan penjelasannya. Secara ilmiah, warna hijau memang kurang ideal dikenakan di pantai. Warnanya mudah menyatu dengan warna laut, terutama di perairan tropis. Dalam situasi darurat, seseorang yang mengenakan baju hijau lebih sulit terlihat dari kejauhan. Padahal, keterlihatan adalah kunci utama dalam proses penyelamatan.


Orang-orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah visibilitas atau spektrum cahaya. Namun mereka mengenal akibatnya. Mereka belajar dari kejadian-kejadian nyata. Pesan keselamatan itu lalu diwariskan dengan bahasa zamannya, agar generasi setelahnya lebih berhati-hati.


Di sinilah kita perlu bersikap adil dan dewasa. Tidak semua kearifan lokal harus diterima tanpa kritik, tetapi juga tidak layak dipatahkan dengan ejekan. Yang perlu kita lakukan adalah memisahkan pesan keselamatan dari bungkus ceritanya, lalu menjelaskannya dengan akal sehat.


Maka, memilih tidak memakai baju hijau di pantai bukan soal percaya atau tidak percaya pada hal mistis. Ia soal kesadaran akan risiko dan tanggung jawab pada keselamatan diri. Bukan takut pada sesuatu yang tak terlihat, melainkan peduli pada hal yang sangat nyata: nyawa manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Di Antara Detik yang Pergi

Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik d...