Refleksi Milad Muhammadiyah ke-113
Hari ini, bertepatan dengan Milad Muhammadiyah ke-113, kita diajak kembali merenungkan satu hal mendasar: sudahkah kita mendidik sebagaimana yang dicita-citakan Kiai Ahmad Dahlan? Pertanyaan ini sederhana, tetapi mampu menyentak kesadaran kita. Sebab menjadi guru atau pegawai di Amal Usaha Muhammadiyah bukan sekadar menjalankan rutinitas. Kita sedang memikul amanah dakwah dan peradaban.
Setiap pagi ketika memasuki kelas atau ruang kerja, sejatinya kita sedang menapaki jejak panjang perjuangan. Di depan kita ada peserta didik dan masyarakat yang Allah titipkan. Tugas kita lebih dari sekadar menyampaikan materi atau menyelesaikan pekerjaan administratif. Kita ditugasi membentuk akhlaq, menanamkan nilai Islami yang berkemajuan, serta menghadirkan keteladanan yang hidup. Di situlah letak istimewanya: pekerjaan kita adalah ibadah, dan ibadah kita adalah pelayanan.
Kita belajar dari teladan Kiai Ahmad Dahlan yang mengajar dengan ketulusan luar biasa di serambi rumah kecil Kauman. Tidak ada fasilitas modern, tidak ada sorotan publik, tetapi ada keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Hari ini kita bekerja di lingkungan yang jauh lebih lengkap—kelas yang nyaman, teknologi yang mendukung, organisasi yang mapan—namun tantangannya tetap sama: mampukah kita menjaga ketulusan itu?
Milad Muhammadiyah mengingatkan bahwa gerakan ini berdiri bukan karena banyaknya seremonial, tetapi karena kokohnya kerja-kerja sunyi para pendidik dan pegiat amal usaha. Guru-guru yang sabar menuntun huruf demi huruf, ustaz-ustazah yang memperbaiki wudu anak-anak, tenaga administrasi yang menjaga keteraturan, pimpinan yang merawat marwah lembaga—semuanya adalah penerus cahaya perjuangan Kiai Dahlan.
Di tengah dunia yang semakin bising, penuh distraksi digital, dan tantangan moral yang kian kompleks, kita dituntut hadir bukan hanya sebagai tenaga profesional, tetapi juga sebagai figur teladan. Kita perlu menjadi pribadi yang sabar, jujur, disiplin, dan menyemai kasih dalam setiap interaksi. Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia dalam sekejap, tetapi kita bisa menghadirkan ketenangan dan nilai dalam ruang-ruang yang kita layani setiap hari.
Pada akhirnya, Milad ke-113 ini adalah ajakan untuk menata niat, memperbaiki langkah, dan merapatkan barisan. Kita mungkin lelah, mungkin merasa belum sempurna, tetapi selama kita terus menjaga ruh ikhlas dan komitmen, kita telah menjadi bagian penting dari mata rantai dakwah Muhammadiyah. Dari sekolah-sekolah, klinik, panti asuhan, kantor layanan, hingga ruang-ruang kecil pekerjaan kita, ada cahaya yang terus tumbuh.
Selamat Milad Muhammadiyah ke-113. Semoga Allah menjaga keteguhan kita dalam mengabdi. Semoga setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini menjadi bagian dari terang besar yang menerangi masa depan umat dan bangsa. Mari melanjutkan jejak Kiai Dahlan dengan kerja nyata, hati yang bersih, dan barisan yang rapi.
Triyanto, S. Pd.
Wakil Kepala Sekolah SDUA Bantul

Tidak ada komentar:
Posting Komentar