Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik demi detik berlalu dengan tenang, nyaris tak bersuara. Namun justru dalam keheningan itulah, jatah hidup kita terus berkurang, pelan, pasti, dan tak bisa ditawar.
Sering kali kita terjebak dalam rutinitas. Hari-hari diisi kesibukan yang terasa penting, tetapi belum tentu bermakna. Kita menunda banyak hal baik dengan alasan “nanti”, seolah waktu adalah tabungan yang tak akan habis. Padahal hidup bukan soal berapa lama kita ada, melainkan seberapa sadar kita menjalaninya.
Waktu sejatinya tidak pernah memusuhi manusia. Ia hanya jujur menjalankan perannya. Yang kerap lalai justru kita terlalu sibuk mengejar yang fana, hingga lupa menyiapkan yang kekal. Setiap kesempatan berbuat baik yang diabaikan, setiap niat yang dibiarkan menunggu, adalah bagian dari detik-detik yang pergi tanpa kembali.
Allah mengingatkan dengan sangat lembut namun tegas:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya.”
(QS. Al-A‘raf: 34)
Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan tambahan waktu, melainkan tambahan kesadaran. Agar di antara detik-detik yang terus pergi, hidup tidak sekadar berlalu—tetapi benar-benar bernilai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar