Kamis, 15 Januari 2026

Di Antara Detik yang Pergi


Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik demi detik berlalu dengan tenang, nyaris tak bersuara. Namun justru dalam keheningan itulah, jatah hidup kita terus berkurang, pelan, pasti, dan tak bisa ditawar.


Sering kali kita terjebak dalam rutinitas. Hari-hari diisi kesibukan yang terasa penting, tetapi belum tentu bermakna. Kita menunda banyak hal baik dengan alasan “nanti”, seolah waktu adalah tabungan yang tak akan habis. Padahal hidup bukan soal berapa lama kita ada, melainkan seberapa sadar kita menjalaninya.


Waktu sejatinya tidak pernah memusuhi manusia. Ia hanya jujur menjalankan perannya. Yang kerap lalai justru kita terlalu sibuk mengejar yang fana, hingga lupa menyiapkan yang kekal. Setiap kesempatan berbuat baik yang diabaikan, setiap niat yang dibiarkan menunggu, adalah bagian dari detik-detik yang pergi tanpa kembali.


Allah mengingatkan dengan sangat lembut namun tegas:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukannya.”

(QS. Al-A‘raf: 34)


Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan tambahan waktu, melainkan tambahan kesadaran. Agar di antara detik-detik yang terus pergi, hidup tidak sekadar berlalu—tetapi benar-benar bernilai.

Selasa, 13 Januari 2026

Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai; Mitos Atau...


Pernah dengar larangan demikian. Entah dari orang tua, warga sekitar pantai, atau sekadar peringatan yang beredar dari mulut ke mulut: jangan pakai baju hijau kalau ke pantai. Sebagian langsung patuh, sebagian lagi tersenyum sinis, menganggapnya sekadar cerita lama yang tak masuk akal.


Di era serba rasional seperti sekarang, larangan semacam itu memang mudah dicap mitos. Apalagi jika dikaitkan dengan kisah-kisah mistis yang sulit diterima akal sehat. Tidak sedikit yang lalu memilih bersikap ekstrem: menolak mentah-mentah, bahkan menertawakan apa pun yang berlabel “kearifan lokal”.


Namun, benarkah larangan itu berdiri sepenuhnya di atas keyakinan mistis? Ataukah kita terlalu cepat menutup telinga sebelum memahami pesan di baliknya?

Masyarakat tradisional, khususnya yang hidup di wilayah pesisir, mengenal laut bukan sebagai tempat wisata, melainkan ruang hidup yang penuh risiko. Mereka menyaksikan sendiri betapa laut bisa berubah dalam hitungan menit. Ada yang terseret ombak, ada yang tak kembali, dan ada pula yang sulit ditemukan meski jaraknya tak seberapa jauh dari bibir pantai.


Dalam kondisi seperti itu, pesan keselamatan tidak disampaikan dengan istilah teknis. Ia harus sederhana, mudah diingat, dan cukup kuat untuk ditaati. Maka lahirlah larangan-larangan praktis, termasuk soal warna pakaian. Bukan karena laut “memilih” korban, tetapi karena manusia perlu dibuat lebih waspada.


Baru di titik inilah nalar modern menemukan penjelasannya. Secara ilmiah, warna hijau memang kurang ideal dikenakan di pantai. Warnanya mudah menyatu dengan warna laut, terutama di perairan tropis. Dalam situasi darurat, seseorang yang mengenakan baju hijau lebih sulit terlihat dari kejauhan. Padahal, keterlihatan adalah kunci utama dalam proses penyelamatan.


Orang-orang dahulu mungkin tidak mengenal istilah visibilitas atau spektrum cahaya. Namun mereka mengenal akibatnya. Mereka belajar dari kejadian-kejadian nyata. Pesan keselamatan itu lalu diwariskan dengan bahasa zamannya, agar generasi setelahnya lebih berhati-hati.


Di sinilah kita perlu bersikap adil dan dewasa. Tidak semua kearifan lokal harus diterima tanpa kritik, tetapi juga tidak layak dipatahkan dengan ejekan. Yang perlu kita lakukan adalah memisahkan pesan keselamatan dari bungkus ceritanya, lalu menjelaskannya dengan akal sehat.


Maka, memilih tidak memakai baju hijau di pantai bukan soal percaya atau tidak percaya pada hal mistis. Ia soal kesadaran akan risiko dan tanggung jawab pada keselamatan diri. Bukan takut pada sesuatu yang tak terlihat, melainkan peduli pada hal yang sangat nyata: nyawa manusia.


Sabtu, 03 Januari 2026

Awal Tahun; Momentum Menata Diri Menjadi Lebih Baik

Awal tahun selalu menghadirkan ruang sunyi untuk merenung. Bukan karena kalender berganti, tetapi karena kita disadarkan bahwa waktu terus berjalan, sementara kesempatan hidup tidak pernah benar-benar bertambah. Ia justru berkurang, hari demi hari, tanpa bisa ditawar.

Di titik inilah awal tahun menjadi penting. Ia bukan sekadar penanda usia, melainkan undangan untuk menata ulang langkah. Menghitung kembali arah hidup: apa yang sedang kita kejar, dan apa yang sebenarnya sedang kita siapkan untuk masa depan yang lebih panjang dari sekadar dunia.

Al-Qur’an mengingatkan dengan kalimat yang jernih dan menenangkan, sekaligus menggugah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini terasa seperti cermin. Ia tidak menghakimi, tetapi mengajak setiap diri untuk jujur melihat bekal yang telah disiapkan. Bukan hanya tentang apa yang sudah kita capai, tetapi apa yang sudah kita persembahkan. Karena pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa sibuk kita berjalan, melainkan ke mana arah langkah itu menuju.

Refleksi awal tahun seharusnya tidak berhenti pada penyesalan. Ia harus berlanjut menjadi kesadaran. Dan kesadaran yang sejati akan mendorong perubahan. Mungkin tidak besar, tetapi nyata. Mungkin tidak ramai, tetapi konsisten.

Beramal lebih baik tidak selalu berarti melakukan hal-hal luar biasa. Ia bisa sesederhana bekerja lebih jujur, melayani dengan lebih tulus, berbagi dengan lebih ringan, dan menjaga lisan serta sikap di tengah perbedaan. Amal yang kecil, jika dilakukan dengan niat yang lurus dan istiqamah, sering kali justru memberi dampak yang paling panjang.

Awal tahun juga mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh ditunda. Tidak menunggu waktu lapang, tidak menunggu keadaan ideal, dan tidak menunggu orang lain memulai. Setiap hari adalah kesempatan untuk menambah amal, sekecil apa pun bentuknya.

Semoga awal tahun ini menjadi titik berangkat untuk hidup yang lebih tertata: niat yang lebih bersih, langkah yang lebih terarah, dan amal yang lebih bermanfaat. Karena sebaik-baik bekal bukanlah yang paling banyak terlihat oleh manusia, tetapi yang paling bernilai di hadapan Allah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak sekadar melewati waktu, tetapi benar-benar mengisinya dengan kebaikan.

_______________

Triyanto, S. Pd. 

Guru SD Unggulan Aisyiyah Bantul. Ketua Majelis Tabligh PCM Jetis. 

Di Antara Detik yang Pergi

Berjalanlah waktu tanpa pernah menoleh. Ia tidak bertanya apakah kita siap atau tidak, tidak pula menunggu hingga kita merasa cukup. Detik d...